
Tatiana menunjukkan raut tak suka dengan ucapan pedas Rogelio. Namun, dia juga tahu diri. Tatiana mengesampingkan rasa kesalnya, demi mendampingi Rafael. Padahal, Tatiana adalah wanita kaya yang sangat angkuh.
“Jangan diambil hati,” ucap Rafael, ketika Rogelio dan Paloma sudah berlalu dari ruang tamu. Rogelio mengantarkan Paloma ke kamar yang telah disiapkan untuknya.
“Jangan khawatir, Sayang. Mentalku tidak selemah itu,” ujar Tatiana seraya tersenyum lembut. Dia mencium bibir Rafael tanpa ada rasa sungkan. Mereka baru berhenti, ketika Rogelio kembali ke ruang tamu.
Tanpa banyak bicara, Rogelio berlalu begitu saja. Tak berselang lama, Paloma muncul. Dia juga tak banyak bicara. Wanita muda itu langsung menuju ke halaman depan, di mana Rogelio sudah menunggu. Sementara, Rafael dan Tatiana segera mengikuti.
“Para wanita duduk di belakang,” ujar Rogelio seraya masuk ke mobil. Dia melemparkan kunci kendaraan kepada Rafael. Tak ada yang membantah ucapan pria itu. Tidak juga Rafael yang segera mengambil posisi di belakang kemudi. Sedangkan Paloma duduk bersebelahan dengan Tatiana. “Kau masih ingat alamat kantor Pengacara Ramos?” tanya Rogelio.
“Selama tempatnya belum pindah,” sahut Rafael seraya menyalakan mesin mobil. “Lagi pula, kenapa kita tidak pergi dengan diantar sopir saja?” Rafael mengembuskan napas yang diiringi keluhan pendek.
“Aku sengaja menyuruhmu mengemudi, untuk mengingatkan kau akan Kota Chihuahua. Dalam waktu dua sampai lima tahun ke depan, kau akan berada di sini,” sahut Rogelio tak acuh. Tatapannya tertuju ke depan, pada jalanan kota yang ramai.
“Ayah kembali memaksakan kehendak padaku,” protes Rafael.
“Tutup mulutmu. Fokuslah mengemudi.” Rafael tak ingin mendengar bantahan lagi dari anak angkatnya tersebut. Dia mengeluarkan ponsel dari saku blazer. Rogelio tampak sedang berbalas pesan.
Sementara, Paloma dan Tatiana saling diam. Kedua wanita itu bahkan tak ingin saling menoleh, apalagi menyapa dan berbasa-basi.
Sekitar setengah jam di perjalanan, mobil yang dikendarai Rafael telah tiba di kantor Pengacara Ramos. Para pria turun terlebih dulu. Rogelio membukakan pintu untuk Paloma, sedangkan Rafael membantu Tatiana keluar. Dia sudah biasa memegangi tangan wanita itu dengan mesra, setiap kali akan masuk atau keluar dari kendaraan. Itulah yang menyebabkan Tatiana begitu tergila-gila kepada pria bermata abu-abu tersebut, karena Rafael memperlakukannya seperti seorang ratu.
Mereka berempat memasuki bangunan dua lantai dengan arsitektur khas Negara Meksiko. Rogelio berjalan paling depan bersama seorang wanita yang merupakan asisten sang pengacara, menuju ruangan pemilik firma hukum tersebut. Setelah tiba di depan pintu ruangan yang dituju, wanita itu mengetuk pintu. Tanpa menunggu jawaban dari dalam, si wanita langsung masuk dan memberitahukan bahwa Rogelio telah tiba di sana.
“Suruh masuk.” Pengacara Ramos mengangguk pelan. Tak berselang lama, Rogelio dan yang lainnya dipersilakan untuk segera masuk.
__ADS_1
“Tuan Gallardo,” sambut Pengacara Ramos. “Bagaimana kabar Anda?” sapanya hangat. Mereka berjabat tangan, lalu berpelukan layaknya sahabat dekat.
“Sangat baik, Tuan Ramos,” balas Rogelio. Dia dan yang lainnya duduk di sofa yang tersedia.
“Rafael? Lama sekali tidak melihatmu?” sapa Pengacara Ramos.
“Aku baru kembali dari Spanyol,” jawab Rafael kikuk.
“Oh, pantas saja.” Pengacara Ramos lalu mengalihkan perhatian kepada Paloma. “Apa kabar Paloma? Kau terlihat sangat berbeda,” sapa pria dengan rambut setengah botak itu. Dia mengenal Paloma sebagai istri Rafael.
“Baik, Tuan. Anda juga terlihat awet muda,” balas Paloma diiringi senyuman hangat nan tulus.
Pengacara Ramos tergelak mendengar sanjungan kecil tadi. Namun, sesaat kemudian ekor matanya tertuju pada wajah asing yang duduk di sebelah Rafael. Pria paruh baya itu sudah hendak bertanya, tapi Rogelio segera menahannya dengan mengarahkan pada perbincangan lain.
“Kuharap, Anda tidak sedang sibuk. Kedatangan kami kemari karena ingin meminta bantuan Anda, Tuan Ramos,” ucap Rogelio penuh wibawa.
Rogelio mendehem pelan. Dia menggeleng seraya menoleh pada Paloma dan Rafael secara bergantian. “Bukan aku, Tuan Ramos. Anak-anakku yang sedang membutuhkan pendampingan hukum,” jelasnya.
Pengacara Ramos ikut menatap pasangan suami istri itu secara bergantian. “Apa yang bisa kubantu?” tanya pria itu.
“Kami ingin bercerai,” jawab Paloma dengan lugas. Membuat Rafael segera menoleh padanya. “Kami ingin agar Anda bisa membantu mengurus segala hal, yang berkaitan dengan proses perceraian ini secara hukum,” ucap Paloma lagi.
Pengacara Ramos terbelalak kaget mendengar penjelasan Paloma. Lama tak melihat dan bertemu dengan pasangan suami istri itu, tiba-tiba mereka muncul dengan membawa kabar perceraian. “Apakah ini sudah menjadi keputusan final kalian berdua?” tanya Pengacara Ramos meyakinkan.
“Ya,” jawab Paloma dan Rafael secara bersamaan. Sementara, Tatiana hanya diam. Dia tak ingin lagi menerima kata-kata pedas dari Rogelio.
__ADS_1
“Baiklah. Akan tetapi, sebelum mengajukan berkas acara gugatan perceraian ke pengadilan, aku harus mendengarkan alasan yang menjadi penyebab niat bercerai kalian berdua. Jadi, kemukakan secara terang-terangan padaku tentang segala hal yang melatarbelakangi gugatan cerai ini.” Pengacara Ramos terlihat begitu berwibawa. “Tuan Gallardo, bisakah Anda dan nyonya ini keluar sebentar?” Pengacara Ramos mengarahkan tangannya ke pintu dengan sopan.
Rogelio mengangguk setuju. Lain halnya dengan Tatiana yang terlihat memasang wajah tak terima. Wanita itu ingin tetap berada di samping Rafael. Namun, setelah Rafael memberi isyarat, barulah Tatiana mengangguk setuju. Dia beranjak dari kursi, mengikuti langkah Rogelio keluar dari ruangan tadi.
Kini, di dalam ruangan sang pengacara hanya ada mereka bertiga. Pada awalnya, Rafael dan Paloma sama-sama terdiam. Sesekali, pasangan suami istri itu saling melirik, lalu memalingkan wajah masing-masing. Sikap yang mereka tunjukkan, seperti anak-anak yang sedang berebut sesuatu dan berakhir dengan pertengkaran.
Pengacara Ramos tersenyum kecil. “Baiklah. Sekarang hanya ada kita bertiga di sini. Jadi, bisakah kita mulai?”
Paloma dan Rafael saling pandang. Setelah itu, mereka kembali mengarahkan pandangan kepada sang pengacara. “Kau saja yang bicara lebih dulu,” ujar Rafael.
“Kenapa?” Tatapan Paloma terlihat penuh tantangan kepada sang suami. Wanita itu mendelik, sebelum kembali mengarahkan pandangan pada Pengacara Ramos. Paloma membetulkan sikap duduknya. Setelah merasa siap, dia mulai menuturkan rangkaian permasalahan yang terjadi dalam pernikahannya dengan putra angkat Rogelio tersebut.
Paloma menceritakan semuanya dengan detail. Tak ada satu pun yang dia kurangi atau lebih-lebihkan. Sedangkan, Rafael terdiam sambil sesekali menundukkan wajah, lalu menggaruk kening.
Pengacara Ramos menyimak penuturan Paloma dengan saksama. Tak ada satu hal pun yang tidak dirinya rekam dalam ingatan. Sesekali, pria paruh baya berambut setengah botak itu manggut-manggut. Dia sudah sering menemukan kasus yang sama, dalam setiap gugatan perceraian yang meminta pendampingan hukum darinya. Bagi Pengacara Ramos, itu bukan sesuatu yang baru lagi. Dia sudah dapat menangkap dan merangkum garis besarnya.
Hampir satu jam sesi perbincangan tadi berlangsung. Paloma dan Rafael sudah sepakat bercerai. Mereka tak akan mempermasalahkan hal lain, selain hanya ingin segera berpisah. Hal itu memudahkan pekerjaan Pengacara Ramos, dalam menyusun berkas acara gugatan ke pengadilan.
“Baiklah. Aku akan menerima kasus ini dan melakukan yang terbaik. Meskipun sebenarnya aku tidak menyukai perceraian, tapi keputusan ada di tangan kalian berdua. Selama gugatan cerai belum disahkan oleh pengadilan, kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik agar kasus ini bisa cepat selesai,” ucap Pengacara Ramos menutup pertemuan hari itu.
Setelah selesai, mereka segera berpamitan kepada pengacara senior tadi. Rafael kembali mengendarai mobil sedan hitam milik Rogelio. Kali ini, mereka menuju gereja paroki untuk melakukan pembatalan pernikahan secara agama. Di sana, mereka disambut oleh seorang pastor yang menerima kedatangan keempatnya dengan hangat. Rogelio langsung mengemukakan alasan kedatangannya ke tempat itu.
Sang pastor mendengarkan penuturan dari Paloma dan Rafael dengan baik. “Sebelumnya, kami akan melakukan penyelidikan terlebih dulu sebelum melakukan pengajuan. Selama itu berlangsung, kami harap pasangan suami istri yang sedang bermasalah dalam pernikahan, agar tetap tinggal bersama. Tujuannya adalah agar mereka bisa saling merenungkan kesalahan masing-masing. Pertimbangkan lagi keputusan yang sudah diambil ini, jangan sampai menjadi penyesalan besar suatu saat nanti. Ingatlah kembali hal-hal indah dan segala kenangan manis yang telah Anda lewati bersama,” saran sang pastor dengan tutur katanya yang terdengar begitu menenangkan.
“Kami sudah sepakat dan mantap untuk bercerai,” ucap Paloma yakin.
__ADS_1
“Nyonya, ada banyak orang mengambil keputusan dalam keadaan kalut. Hal itu bukanlah sebuah penyelesaian yang tepat. Ada baiknya, Anda dan suami saling merenung terlebih dulu. Karena itu, tetaplah menjaga kebersamaan.”