Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Kebencian Mendalam


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, Sebastian tiba di Valenzuela, Cordoba. Kendaraannya berhenti di depan rumah dua lantai, bergaya khas bangunan Andalusia dengan dominasi warna putih dan cokelat.


“Apa aku boleh ikut, Tuan?” tanya Leandra memasang raut penuh harap.


“Turunlah,” jawab Sebastian seraya keluar dari mobil, tanpa menunggu Pedro membukakan pintu untuknya.


Senyum ceria seketika terlukis indah di paras cantik Leandra. Wanita muda itu terlihat begitu bersemangat, saat menyertai tuannya berjalan ke dekat pintu gerbang yang dijaga dua orang satpam. Tanpa melepas kacamata hitam yang dikenakannya, Sebastian berbicara pada salah satu petugas keamanan tadi.


“Aku Sebastian Cruz Castaneda. Apakah Tuan Elazar ada di tempat?” tanya sang pemilik perkebunan zaitun terluas di Porcuna tersebut.


“Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya, Tuan?” Pria dengan papan nama bertuliskan Osvaldo Arambula yang tersemat di atas saku kanan pakaiannya, balik bertanya kepada Sebastian.


“Tidak. Belum,” jawab Sebastian. “Aku hanya kebetulan lewat dan ingin sekadar mampir,” ujarnya beralasan.


“Baiklah. Tolong tunggu sebentar, Tuan.” Petugas keamanan bernama Osvaldo tadi, meminta rekannya agar menghubungi ke dalam bangunan lewat sambungan telepon. Rekan Osvaldo bertanya pada seseorang di dalam sana, tentang keberadaan Elazar. Beberapa saat kemudian, pria itu mengangguk sebagai pertanda bahwa Elazar bersedia bertemu dengan Sebastian.


“Silakan masuk, Tuan.” Osvaldo menekan tombol khusus. Perlahan, pintu gerbang terbuka dengan sendirinya.


Sebastian mengangguk samar. Dia melangkah gagah ke dalam halaman yang tidak terlalu luas, sehingga kendaraannya tak dapat dibawa masuk. Sebastian dan Leandra melewati taman kecil dengan jalur berlapis batuan alam, yang membelah taman tadi hingga tiba di teras.


Di teras dengan ubin bermotif mozaik, sudah menunggu seorang pria berambut ikal sedikit di atas pundak. Pria dengan rentang usia tak jauh berbeda dari mendiang Rafael Hernandez. Pria bermata abu-abu, yang tersenyum hangat saat menyambut kehadiran Sebastian dan Leandra di sana.


“Sebastian,” sapa pria yang tak lain adalah Elazar Ganimedes Blanco. Kontraktor terkenal di Sevilla dan sekitarnya, yang juga merupakan mantan suami Tatiana Vidal.


“Hallo, Elazar,” balas Sebastian. Kedua pria lintas usia itu saling berpelukan akrab. “Lama tidak bertemu,” ucap Sebastian basa-basi.

__ADS_1


“Aku tak pernah ke manapun. Perusahaanku di Sevilla sudah ada yang mengurusi,” ucap Elazar diiringi senyum kalem. Tatapannya kemudian beralih pada wanita cantik di sebelah Sebastian.


“Ah, ini asisten pribadiku. Nona Leandra Navarro.” Sebastian memperkenalkan wanita cantik berambut cokelat di sebelahnya kepada Elazar.


“Nona Navarro,” sapa Elazar sopan, yang berbalas anggukan serta senyum ramah Leandra. “Mari. Silakan duduk.” Elazar mengarahkan tangannya, pada sofa melingkar yang ada di teras. Pria itu memang sengaja memasangnya di sana. Dia jarang sekali mempersilakan tamu yang berkunjung ke kediamannya masuk, kecuali untuk hal-hal tertentu.


Sebastian sudah mengetahui kebiasaan Elazar yang seperti itu, sehingga dirinya tak mempermasalahkan lagi. Sang tuan tanah dari Porcuna tersebut langsung duduk, tak jauh dari tuan rumah berada.


“Jadi, apa gerangan yang membawamu kemari?” tanya Elazar, setelah seorang pelayan menghidangkan minuman serta beberapa macam kudapan ringan.


“Aku hanya sekadar mampir. Kuharap, kau tidak sedang sibuk,” jawab Sebastian.


“Tentu saja tidak. Aku suka tinggal di sini karena suasananya yang tenang. Setiap hari, waktuku selalu habis hanya untuk membaca buku. Aku pergi ke Sevilla hanya dua atau tiga kali dalam sebulan,” terang Elazar.


“Apa kau masih berkomunikasi dengan Tatiana?” tanya Sebastian.


“Begitu ya?” Sebastian manggut-manggut. “Kupikir, kau masih berkomunikasi dengan Tatiana,” ujarnya.


“Memangnya ada apa? Apa kau ada masalah dengannya?” selidik Elazar seraya menaikkan sebelah alis.


“Tidak juga,” jawab Sebastian berusaha terlihat setenang mungkin. “Kebetulan, aku sudah lama tak mendengar kabar darinya. Terakhir dia menghubungiku adalah ….” Sebastian menjeda kata-katanya. Dia ingat betul kapan terakhir Tatiana Vidal menghubungi dirinya. Wanita kaya raya tersebut menelepon Sebastian sehari sebelum Paloma dan Rafael datang ke Casa del Castaneda, yang berakhir dengan berita kecelakaan tragis itu.


“Tatiana merupakan wanita yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Menurutku, dia terlalu diperbudak oleh urusan duniawi. Namun, sepertinya itu tak akan jadi masalah berarti, karena dia memiliki suami yang dapat diandalkan seperti Rafael Hernandez,” ucap Elazar. Raut wajahnya sedikit berbeda, saat menyebutkan nama suami Paloma tersebut.


“Rupanya, kau benar-benar tidak mengikuti perkembangan berita tentang mantan istrimu itu.” Sebastian meraih cangkir berisi teh dari meja, lalu meneguknya. “Tiga tahun sudah berlalu. Tatiana dan Rafael telah berpisah. Rafael kembali pada istri sahnya dan pindah ke Meksiko.” Sebastian meletakkan kembali cangkir porselen putih tadi.

__ADS_1


“Benarkah?” Elazar memasang raut tak percaya.


“Rasanya, terlalu janggal jika kau benar-benar tidak mengetahui sama sekali tentang hal itu,” ucap Sebastian ragu.


Elazar tertawa pelan seraya meraih cangkir di hadapannya. Pria berambut cokelat tersebut meneguk teh yang disuguhkan oleh pelayan, lalu kembali meletakkan cangkir porselen tadi di tempatnya semula. “Bukannya tidak mengetahui. Aku hanya tak lagi menganggap penting segala pemberitaan tentang wanita itu. Seperti yang kukatakan tadi, hidupku sudah jauh lebih nyaman dan tenang saat ini. Aku tak peduli lagi dengan Tatiana Vidal atau Rafael Hernandez,” ujarnya.


“Rafael Hernandez sudah tiada. Pria itu tewas dalam kecelakaan tragis beberapa hari yang lalu di perbatasan Porcuna,” terang Sebastian.


“Sungguh?” Elazar kembali memasang ekspresi terkejut. “Tidak bisa dipercaya,” ucapnya seraya berdecak pelan.


“Itu juga yang menjadi salah satu alasanku datang kemari,” ujar Sebastian lagi.


“Oh, ya? Kenapa bisa begitu?” Elazar terkesiap. Dia lalu mencondongkan tubuh ke arah Sebastian.


“Terus terang saja, Paloma ... um, maksudku ... istri Rafael Hernandez menuduh bahwa akulah penyebab di balik kecelakaan yang menewaskan suaminya,” jelas Sebastian sedikit terbata.


Perubahan sikap serta ekspresi yang ditunjukkan Sebastian, rupanya telah menarik perhatian Leandra. Wanita cantik tersebut hendak membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan.


Akan tetapi, sebelum Leandra sempat mengatakan sesuatu, Elazar sudah lebih dulu menyela. “Bagaimana bisa begitu?” Elazar mengernyitkan kening. Dia mulai penasaran dengan apa yang akan Sebastian ucapkan selanjutnya.


“Karena aku yang mengundang mereka ke Casa del Castaneda, lalu mengusir mereka dengan kata-kata yang tidak baik. Dari sanalah Paloma mencurigaiku. Namun ....” Sebastian menggantungkan kalimatnya sambil memperhatikan raut wajah Elazar.


“Namun apa?” tanya Elazar, sang pengusaha konstruksi yang juga merupakan mantan suami Tatiana Vidal.


"Sehari sebelumnya, Tatiana menghubungiku. Aku mengatakan bahwa Rafael beserta istrinya akan datang ke tempatku,” jelas Sebastian seraya mengembuskan napas dalam-dalam. Duda tampan itu terdiam beberapa saat. Ada rasa tak nyaman dalam dirinya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu, Sebastian menghela napas panjang. Pria itu melanjutkan kembali kata-katanya. “Maaf jika aku mencurigai mantan istrimu. Hanya dia yang mengetahui bahwa Rafael dan istrinya berkunjung ke Casa del Castaneda, di hari yang sama saat mereka mengalami kejadian nahas itu."


Tatapan Sebastian menerawang. Bayangannya tertuju pada paras cantik Paloma. Ibunda Luz Maria tersebut memandang dirinya, dengan sorot dendam serta kebencian mendalam.


__ADS_2