Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tak Menentu


__ADS_3

Paloma tak dapat menolak ketika Sebastian mengantarnya pulang ke Granada. Selama dalam perjalanan, janda muda itu lebih banyak diam. Paloma bahkan tak berani menoleh ke arah Sebastian yang sedang serius mengemudi.


“Apa kau ingin beristirahat sejenak? Apa kau ingin makan siang?” tanya Sebastian yang mulai khawatir dengan sikap diam Paloma.


“Aku ….” Paloma akhirnya menoleh pada pria di balik kemudi. Rasa bersalah yang sangat besar, kembali hadir memenuhi hatinya. Paloma mengembuskan napas pelan, demi menetralkan perasaan. “Maafkan aku,” ucapnya lirih.


“Jawabanmu tidak sesuai dengan pertanyaanku,” ujar Sebastian diiringi senyuman kalem. Satu tangannya dia letakkan di paha, sedangkan tangan lainnya lihai memegang kemudi.


“Aku … terserah kau saja,” balas Paloma pada akhirnya.


“Baiklah." Sebastian tertawa pelan. Dia mempercepat laju mobilnya, hingga mereka tiba di sebuah restoran mewah. Setelah memarkirkan kendaraan, Sebastian mengajak Paloma masuk dan memilih meja.


“Tawaranku masih berlaku. Aku ingin mengajakmu dan Luz Maria makan malam bersama,” ujarnya seraya menarik satu kursi untuk Paloma.


Janda cantik dari Rafael Hernandez itu duduk dengan anggun. Dia terus memperhatikan sikap Sebastian yang gagah juga tenang. Semua gerak-gerik pria itu tak lepas dari mata hazel Paloma. Mulai dari duduk di kursi yang berada tepat di hadapannya, hingga saat duda kaya tersebut membuka buku menu yang dibawakan oleh pelayan restoran.


“Kau ingin memesan apa?” tanya Sebastian seraya mengalihkan pandangan kepada Paloma.


Paloma yang sedari tadi tengah memperhatikan pria tampan empat puluh tahun itu, seketika menjadi salah tingkah. Dia tak mengira, bahwa Sebastian akan langsung menoleh ke arahnya. “Apa saja. Terserah kau. Lagi pula, aku sedang tidak bisa berpikir saat ini,” jawab Paloma seraya menggeleng, lalu menundukkan wajah.


Sebastian tersenyum simpul mendengar jawaban Paloma. “Baiklah. Kalau begitu aku akan memesankanmu menu yang sama denganku,” putusnya. Pemilik perkebunan zaitun itu menyebutkan menu apa saja yang dia pesan. Sedangkan, si pelayan mencatatnya.


Setelah pelayan tadi pergi, Sebastian akhirnya bisa memusatkan perhatian kepada Paloma tanpa ada gangguan. Setidaknya, ada waktu beberapa saat, sambil menunggu pesanan mereka datang.


“Kenapa?” tanya Paloma tak mengerti. Dia memberanikan diri melawan tatapan Sebastian.


“Apanya?” Sebastian mengernyitkan kening. Dia balik bertanya, karena memang tak tak tahu maksud pertanyaan Paloma.


“Kenapa kau masih bersikap baik, setelah semua sikap buruk yang kulakukan padamu?” Paloma menatap sayu kepada Sebastian, yang terus memandangnya penuh cinta.


“Aku juga tak mengerti. Aku hanya tak bisa meninggalkanmu sendiri. Apalagi, setelah kau mengalami kejadian yang sangat buruk,” jelas Sebastian pelan. Dia memberanikan diri meraih tangan Paloma yang diletakkan di atas meja. Sebastian menggenggamnya, lalu mengecup lembut dan penuh perasaan.


Sebastian, merasa bersyukur karena Paloma tak menolak apa yang dirinya lakukan. Wanita cantik itu hanya memandang heran ke arahnya. “Aku bahkan masih memiliki keinginan yang kuat untuk menikahimu,” lanjut Sebastian.

__ADS_1


Paloma sempat terkesiap. Bersamaan dengan itu, pelayan datang membawakan troli berisi makanan pesanan mereka. Dia tak tahu bagaimana harus menanggapi ungkapan perasaan Sebastian. Paloma tak pernah merasa sebingung ini, sehingga dia memilih diam. Wanita itu tak memberikan jawaban, hingga menu hidangan yang mereka pesan telah habis.


Sebastian dapat memahami sikap Paloma yang demikian. Pria itu tak ingin terlalu memaksakan kehendaknya. Sebastian tersenyum kalem, dan masih memperlihatkan sikap hangat kepada Paloma.


“Apa kau ingin mengunjungi tempat lain setelah ini?” tawar Sebastian setelah mengelap mulut dengan serbet putih, yang disediakan oleh pihak restoran.


“Tidak,” tolak Paloma halus. “Kasihan Luz Maria. Sejak kecelakaan nahas itu, aku jadi lebih sering meninggalkannya bersama pengasuh di rumah," jelas janda cantik berambut sebahu tersebut.


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang,” putus Sebastian, sebelum mengangkat tangan, sebagai tanda panggilan kepada pelayan.


Setelah selesai melakukan transaksi pembayaran, Sebastian kembali memberanikam diri menuntun Paloma menuju ke mobil. “Apa kau tak ingin membelikan sesuatu untuk Luz Maria?” tawarnya lagi.


“Tidak usah. Luz Maria sudah memiliki banyak mainan,” jawab Paloma yang lagi-lagi menolak tawaran Sebastian, meskipun nada bicaranya tak ketus lagi. Cara bicara wanita cantik itu kini menjadi jauh lebih halus. Hal itu karena rasa bersalah yang sangat besar, atas segala tuduhan yang telah dialamatkan kepada Sebastian. Paloma juga harus menahan malu di depan pria tampan tersebut.


“Sebenarnya, kau bisa mendapatkan semua wanita yang kau inginkan,” ujar Paloma tiba-tiba, setelah kendaraan Sebastian sudah jauh melewati perbatasan Porcuna.


“Sayangnya, aku tidak berminat. Bertahun-tahun aku hidup sendiri. Jadi, merasa kesepiam sudah bukan masalah besar lagi bagiku,” balas Sebastian.


“Bagaimana dengan asistenmu yang cantik itu?” tanya Paloma seakan tengah memancing Sebastian.


“Sangat mustahil jika kau tidak tertarik padanya. Dia sangat cantik,” ujar Paloma lagi. Dia terus memancing Sebastian, berharap mendapatkan tanggapan yang menarik dari pria itu.


Akan tetapi, Sebastian hanya tertawa renyah saat menanggapi ucapan Paloma. Dia tak ingin menganggap serius apa yang wanita itu katakan. “Tidak ada yang bisa menarik perhatianku selain dirimu, Paloma," ucapnya.


Sebastian melirik sesaat kepada wanita cantik, yang memperlihatkan bahasa tubuh tak nyaman. Dia kembali teraenyum. "Kau tahu apa yang selalu kuingat dari dirimu? Saat itu kau sedang di aula pesta, lalu memukul Rafael Hernandez menggunakan sepatu,” Sebastian tertawa setelah berkata demikian.


“Bagiku, kau yang paling luar biasa. Tak ada yang bisa menggantikan pesonamu, Paloma. Kau sudah merebut hatiku dan mengikatnya dengan kuat.” Sebastian kembali menoleh pada Paloma, lalu tersenyum penuh arti.


Namun, tak ada jawaban dari janda cantik itu. Hanya air mata yang mewakili perasaannya. Paloma tak pernah membayangkan, akan mendapatkan perhatian dan cinta yang begitu besar dari pria seperti Sebastian.


Ingin rasanya Paloma menanggapi. Akan tetapi, dering ponsel Sebastian yang terpasang pada tempat khusus di dashboard, lebih dulu berbunyi. Nama Tatiana tertera di layarnya. Paloma membelalakkan mata, seraya melayangkan tatapan penuh tanda tanya.


“Hola,” sapa Sebastian penuh wibawa. “Kuharap dirimu tidak melarikan diri, karena kau harus mempertanggungjawabkan prbuatanmu, Tatiana,” lanjutnya tanpa basa-basi.

__ADS_1


“Sebastian! Polisi sudah mengepung rumahku. Mereka hendak membawaku pergi! Aku tidak bersalah, Sebastian!” sahut Tatiana dengan suara nyaring.


“Katakan itu pada polisi. Jangan padaku!” Sebastian sudah hampir menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan, ketika Tatiana menangis kencang.


“Aku tidak bersalah, Sebastian! Mobil itu memang milikku, tapi sudah kubuang setelah Rafael memutuskanku. Mobil itu bukan milikku lagi sejak bertahun-tahun yang lalu!” sanggah Tatiana, masih dengan suaranya yang sangat nyaring. “Kau harus percaya padaku! Hanya kau yang dapat membantuku!” teriaknya. Tatiana begitu emosional, sehingga dia menjadi histeris.


“Kalau begitu, kau tinggal membuktikan perkataanmu tadi, Tatiana. Tunjukkan bukti-bukti yang kau milik pada polisi,” ujar Sebastian kalem.


“Bagaimana aku bisa membuktikannya? Mobil itu sudah kubuang diam-diam pada tengah malam! Aku berusaha membakarnya saat itu, tapi tak berhasil!” sahut Tatiana kalut.


“Pembelaan macam apa itu, Tatiana? Kau tahu bahwa hal seperti itu tak dapat dijadikan bukti." Sebastian berdecak pelan.


“Kau harus percaya padaku! Aku sudah bertobat sejak berusaha mencelakai Rafael waktu itu. Bagaimanapun juga, aku tak tega melihat tubuhnya yang penuh luka. Aku sangat menyesali perbuatanku! Aku tak mungkin melakukannya lagi!” Tatiana tetap bersikukuh dengan pengakuannya.


Sesaat kemudian, terdengar suara berisik dari seberang sana. Tatiana sempat berteriak, sebelum panggilan berakhir. Sebastian berpikir bahwa kemungkinan besar saat itu polisi tengah berusaha meringkus sahabatnya tersebut.


Sebastian dan Paloma saling pandang untuk sejenak. Mereka berdua seolah berusaha menyelami hati dan pikiran masing-masing.


"Kuharap, kau tidak menuruti permintaan Tatiana,” desis Paloma.


“Tidak. Aku hanya menduga ….” Sebastian sengaja menjeda kalimatnya. Dia menepikan mobil di tepi jalan. Sebastian lalu menghadapkan tubuh pada Paloma. “Bagaimana jika yang dikatakan Tatiana memang benar adanya?” pikir duda tampan tersebut.


“Astaga! Aku tidak mempercayai ini.” Paloma terdengar sangat kecewa. “Tolong jangan membuat situasi kita yang sudah membaik, menjadi buruk kembali!” pintanya seraya menggeleng tak percaya. Paloma langsung menghadap ke depan, karena tak ingin berdebat dengan Sebastian.


“Baiklah. Aku menurut apa katamu." Sebastian mengalah, lalu menjalankan kembali mobilnya.


Kebisuan menyelimuti menyelimuti mereka berdua, hingga kendaraan Sebastian tiba di halaman depan rumah yang disewa oleh Rogelio. Perhatian pria itu sempat teralihkan pada mobil mewah lain yang terparkir tak jauh dari kendaraannya.


“Mobil siapa itu?” tanya Paloma keheranan.


“Sepertinya aku pernah melihat mobil itu,” pikir Sebastian seraya menautkan alis, sampai dia menemukan jawaban. “Ah! Kurasa itu mobil milik Elazar."


“Kita cari tahu jawabannya sekarang juga." Paloma yang penasaran, segera turun dari mobil tanpa menunggu Sebastian. Dia setengah berlari melintasi halaman, diikuti oleh Sebastian. Setelah mengetuk pintu, Paloma langsung membukanya. Di dalam sana, tampaklah sang ayah yang tengah berbincang hangat dengan pria yang tak lain adalah Elazar.

__ADS_1


Raut wajah Rogelio awalnya terlihat begitu ramah dan bersahabat. Akan tetapi, semua itu berubah ketika dia melihat sosok Sebastian berdiri di samping Paloma. Pria itu bahkan menggenggam tangan putrinya. “Kau? Untuk apa kau kemari!” geram Rogelio yang melayangkan tatapan penuh kebencian.


__ADS_2