
Sebastian meletakkan ponsel, lalu bangkit dari kursi kebesarannya. Dia berjalan ke arah jendela besar di ruang kerja. Pria itu memandang hamparan perkebunan zaitun, yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri.
Teringat kembali percakapan bersama Tatiana beberapa saat lalu, saat wanita yang merupakan sahabat sekaligus rekan bisnisnya tersebut meminta bantuan untuk mencegah Rafael agar tak kembali ke Meksiko.
“Kau harus membantuku, Sebastian!”
“Bukankah kau juga bisa mendapatkan keuntungan jika Rafael tak bisa kembali Meksiko. Tak ada lagi yang bisa menghalangi hubunganmu bersama Paloma.”
Demikian kata-kata Tatiana yang terus terngiang dan berputar dalam benak Sebastian.
“Ah.” Tuan tanah pemilik ribuan hektar kebun zaitun itu mende•sah pelan. Angan Sebastian buyar seketika, saat terdengar ketukan pelan di pintu ruang kerjanya. “Masuk!” seru pria itu sedikit nyaring.
“Tuan, kami membutuhkan tanda tangan Anda.” Martin menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Dia berjalan masuk sambil membawa setumpuk berkas yang akan dirinya serahkan pada Sebastian.
Untuk beberapa saat, perhatian Sebastian teralihkan pada permasalahan perkebunan, hingga Tatiana kembali menghubunginya melalui sebuah pesan singkat.
Kutunggu jawabanmu, sekarang!
Sementara itu, Rafael sudah menyewa sebuah hotel sederhana di pinggiran wilayah Sevilla. Dia akan menginap di sana untuk beberapa hari, hingga dirinya selesai berkoordinasi dengan Jose Alvaro Cardenas. Pengacara itu sudah dipilih olehnya, untuk membantu menyelesaikan perkara yang sedang dia hadapi dengan Tatiana.
Malam itu, Rafael membuat janji dengan Pengacara Cardenas di sebuah restoran sederhana, tak jauh dari hotel tempatnya menginap. Rafale menjelaskan poin-poin penting pada pengacara tersebut.
Jose Alvaro Cardenas merupakan pengacara muda yang cerdas dan bersinar. Pria itu dapat menangkap maksud serta apa yang Rafael inginkan, hanya melalui perbincangan singkat tadi. Setelah mendapatkan kata sepakat, dua pria dengan usia yang hampir sama tersebut bersalaman dan saling berpamitan.
“Sampai jumpa besok di pengadilan, Pengacara Cardenas,” ucap Rafael sebelum keluar dari restoran.
“Sampai jumpa besok, Tuan Hernandez,” balas Jose seraya melambaikan tangan. Dia melangkah keluar, tapi mengambil arah yang berbeda dengan Rafael.
Rafael memilih segera pulang ke hotel. Dia berniat menghubungi Paloma. Walaupun pria itu yakin, bahwa sang istri pasti sedang tidak menunggu kabar darinya. Akan tetapi, Rafael merasa memiliki kewajiban untuk memberi kabar kepada wanita yang masih berstatus sebagai istrinya yang sah.
Namun, belum sampai kaki Rafael menjejak halaman parkir hotel, dua orang pria bertubuh tegap tiba-tiba menyergapnya dari sisi kiri dan kanan. Kebetulan, suasana di sekitar sana sudah sepi. Tak ada siapa pun yang berlalu lalang di sekitarnya. Dua pria tak dikenal tadi, mencengkram kuat-kuat lengan Rafael yang terkejut setengah mati.
__ADS_1
“Siapa kalian?” sentak Rafael seraya berusaha melepaskan diri.
“Jangan cerewet! Ikuti saja kami!” sahut salah seorang dari dua pria tadi, sembari menarik tubuh tegap Rafael agar mengikutinya menuju mobil SUV hitam yang terparkir di pinggir jalan.
Di dalam mobil, sudah menunggu empat orang lainnya. Tubuh mereka bahkan jauh lebih besar dari dua pria yang berada di sebelah Rafael.
Rafael memang sangat terkejut dan tak sempat memikirkan cara untuk melawan. Namun, pria asal Meksiko itu tak ingin pasrah dengan mudah. Instingnya mengatakan bahwa saat ini dirinya tengah berada dalam bahaya. Karena itulah, dia harus berpikir cepat.
Meskipun kalah jumlah, Rafael tetap berusaha memberontak. Dia berusaha melepaskan cekalan tangan pria tinggi besar di sampingnya dengan memutar tubuh, lalu melayangkan tendangan ke arah tulang kering pria di samping kanannya tersebut.
Pria itu kesakitan. Refleks, dia melepaskan pegangans sehingga tangan Rafael dapat bergerak leluasa. Merasa mendapatkan kesempatan emas, Rafael segera menyarangkan pukulan sekuat tenaga pada pria di samping kiri.
Hantaman kuat mendarat di hidup pria sebelah kiri Rafael, hingga terdengar retakan tulang hidung. Pria itu terhuyung, lalu jatuh tersungkur tak jauh dari putra angkat Rogelio berdiri.
Melihat dua temannya berhasil dilumpuhkan, empat orang di dalam mobil tadi bergegas turun. Mereka hendak menghentikan Rafael.
Namun, sebelum hal itu terjadi, Rafael segera mengambil sebilah belati. Senjata tajam itu diselipkan di pinggang salah satu pria, yang sudah berhasil dia lumpuhkan tadi.
Akan tetapi, salah satu dari keempat pria asing tadi tetap nekat maju beberapa langkah. Dia juga mencoba merebut senjata tajam yang dipegang erat oleh Rafael.
Namun, Rafael bergerak lincah. Dia dapat mengelak, bahkan berhasil melukai pipi orang asing tersebut hingga robek dan berdarah.
Pria berambut agak gondrong itu, menendang wajah yang sudah bersimbah darah tadi hingga jatuh terjengkang ke belakang.
Kini, tersisa tiga orang lagi. Mereka tak lagi bersikap tenang dan percaya diri karena memiliki jumlah yang lebih banyak, setelah mendapat perlawanan luar biasa dari Rafael. Mereka benar-benar tak mengira, bahwa pria tampan yang selalu tampil necis itu ternyata bisa berkelahi.
“Siapa yang menyuruh kalian?” desis Rafael, ketika salah seorang pria mencoba mendekat ke arahnya, sembari mengangkat kedua tangan.
“Kau tak perlu tahu siapa yang menyuruh kami. Satu hal yang harus kau tahu, orang itu ingin agar dirimu mati saat ini juga!” seringai pria tinggi besar di hadapan Rafael.
“Berapa orang itu membayar kalian? Aku sanggup memberi dua kali lipat agar kalian berhenti menyerangku,” ujar Rafael.
__ADS_1
Ketiga orang tadi langsung menghentikan langkahnya. Mereka terdiam dan saling pandang, seakan meminta pendapat masing-masing.
Tak berselang lama, mereka mengalihkan perhatian kembali pada Rafael. “Sayang sekali, kami harus menolak tawaran menggiurkan itu. Kesetiaan terhadap tuan besar, berada di atas segalanya,” tolak salah seorang dari mereka.
Tanpa aba-aba, satu orang yang berada paling dekat dengan Rafael langsung menyergap pria Meksiko itu. Kebetulan Rafael sedang lengah, karena fokusnya tertuju pada pria yang berdiri tepat di hadapannya. Pria tadi tiba-tiba menerjang Rafael sampai jatuh terguling. Belati yang menjadi senjatanya, terlempar beberapa meter dari tubuhnya yang kini tergeletak tak berdaya di tanah.
Rafael tak dapat melawan, saat pria itu menduduki perut dan mulai menghajarnya habis-habisan. Pria itu memukuli wajah tampan Rafael berkali-kali, hingga suami Paloma tersebut dapat mencium bau anyir darah yang keluar dari lubang hidung dan pelipis.
Pandangan Rafael memburam, akibat darah yang semakin banyak mengalir di atas kelopak mata. Samar, dia melihat dua orang lainnya mengerubungi dan ikut menyarangkan pukulan ke wajah, kaki, perut serta kepala.
Telinga Rafael langsung berdenging, ketika sepatu pantofel salah seorang pria tadi menendang kepala sebelah kiri. Perlahan, Rafael mulai kehilangan kesadaran. Dia tak sanggup lagi melawan. Seluruh tubuhnya tak bertenaga, bahkan hanya untuk menggerakkan kelingking.
Rafael tak dapat bergerak. Dia hanya bisa pasrah, ketika salah seorang dari ketiga pria berlari masuk ke mobil, lalu keluar membawa karung goni berukuran besar. Sedangkan, yang lainnya mengangkat tubuh Rafael. Mereka memasukkan pria itu ke dalam karung tadi.
Para pria itu lalu mengikat karung dengan kencang.
Sementara, Rafael masih dapat merasakan tubuhnya terangkat dan dilemparkan ke dalam bagasi.
“Apa dia sudah mati?” tanya salah seorang dari tiga pria tadi.
“Nanti kita habisi saja sebelum membuangnya ke Sierra Norte,” jawab rekan yang lain.
Setelah itu, Rafael tak mendengar ada percakapan lagi, selain deru kendaraan yang melaju meninggalkan kawasan hotel sederhana di pinggiran kota.
Tujuan para pria tadi adalah Sierra Norte. Sebuah pegunungan terjal yang terdapat di bagian utara Provinsi Sevilla. Sementara, Rafael berusaha agar dirinya tetap sadar, meskipun berada dalam karung terikat.
Beberapa saat kemudian, Rafael dapat merasakan mobil yang dia tumpangi berhenti. Dia juga mendengar suara pintu bagasi terbuka. Rafael tersentak, ketika karung yang berisikan tubuhnya tadi ditarik keluar dan dijatuhkan dengan kasar, ke tanah berbatu.
Rafael meringis saat merasakan tulang rusuknya yang sakit, ketika tubuh tak berdaya itu terempas begitu keras. Lagi-lagi, dia hanya bisa pasrah ketika beberapa kaki menendang seluruh bagian tubuhnya tanpa henti. Berpura-pura mati mungkin menjadi keputusan yang paling tepat agar mereka berhenti menganiyaya dirinya.
Namun, perkiraan Rafael salah. Bukannya berhenti, mereka malah mengangkat karung tadi. Rafael yang sudah benar-benar tak berdaya, hanya bisa pasrah ketika mereka mengangkat karung berisi tubuhnya itu bersama-sama, lalu mengayunkannya dengan kencang.
__ADS_1
“Aku yakin, kali ini dia pasti mati. Tak ada makhluk hidup yang akan sanggup bertahan, setelah dibuang ke jurang batu di bawah sana,” ujar salah seorang pria tadi, sebelum melemparkan tubuh Rafael.