Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Mengejutkan


__ADS_3

“Astaga, apa yang terjadi padamu, Rafael? Kenapa wajahmu babak belur seperti ini?” seru Paloma panik. Walaupun Rafael sudah menelantarkannya selama bertahun-tahun, tetapi rasa khawatir atas diri pria tiga puluh tahun itu masih ada di hati Paloma. Tak peduli seberapa banyak rasa sakit yang Rafael berikan, tapi kata maaf dari pria itu telah berhasil meruntuhkan segala kemarahan yang Paloma rasakan selama ini.


“Paloma? Kau sudah pulang?” Rafael memicingkan mata sambil berusaha mengumpulkan kesadaran. Dengan susah payah, dia berusaha bangkit dan duduk tegak sambil menghadap wanita cantik yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


“Kau kenapa?” Paloma mengulangi pertanyaannya.


“Ah, ini hanya luka kecil. Sama sekali bukan masalah. Masih jauh lebih sakit ketika aku menyeretmu ke padang tandus dan mencoba menembak kau di sana.” Rafael mencoba berkelakar untuk mencairkan ketegangan yang terpancar dari paras cantik Paloma.


“Jangan bercanda!” Paloma mendengkus kesal seraya berdiri. Dia meraih kotak P3K yang selalu tersedia di setiap kamar hotel. Pelan dan hati-hati, Paloma membersihkan darah kering di pelipis Rafael dengan menggunakan kapas kesehatan. Paloma juga membersihkan luka di sudut bibir, lalu mengoleskan gel khusus di setiap luka lebam yang menghiasi wajah tampan pria itu. Untuk kedua kalinya, Paloma melakukan hal demikian. Wanita cantik tersebut terlihat tulus dan tak terbebani sama sekali..


Apa yang Paloma lakukan, tak sedikit pun lepas dari perhatian Rafael. Iris mata abu-abunya lekat memandang wanita yang sebentar lagi akan segera dia ceraikan. “Tatiana menyuruh beberapa anak buahnya menghajarku,” ucap Rafael, setelah keduanya tenggelam dalam kebisuan untuk beberapa saat.


“Kenapa dia melakukan itu?” tanya Paloma sambil mengoleskan gel pada luka terakhir.


“Alasannya, karena aku berniat untuk memutuskan hubungan kami. Aku ingin berhenti melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kusukai dan mulai jujur pada perasaanku,” tutur Rafael.


“Apa dia menuntut ganti rugi padamu atas semua hartanya yang pernah kau pakai?” tanya Paloma lagi bagaikan seorang pengacara.


“Tidak,” Rafael terkekeh pelan. “Kalau pun dia menuntut harta, maka aku akan berusaha mendapatkannya tanpa bantuan ayah. Setidaknya, aku masih punya harga diri yang tersisa,” ujarnya seraya tersenyum getir.


“Sepertinya, wanita itu sangat mencintaimu,” ucap Paloma seraya merapikan kembali barang-barang yang sudah digunakan ke dalam kotak P3K.

__ADS_1


“Siapa yang dapat menebak isi hati seseorang,” sahut Rafael. Dia terdiam sejenak. Rafael memperhatikan gerak-gerik Paloma tanpa beranjak dari tempat tidur. “Dulu, kami bertemu di Casa del Castaneda tanpa sengaja. Tatiana adalah rekan bisnis Sebastian. Suatu hari, Tatiana berbicara padaku. Dia menawari pekerjaan dengan upah yang jauh lebih besar, dari yang kudapat di Perkebunan Castaneda. Tentu saja aku tertarik. Aku tak melanjutkan kontrak kerja di sana. Itu juga dengan bantuan Tatiana,” tutur Rafael.


“Aku tahu itu,” sahut Paloma seraya melepas sepatunya. “Aku mengetahuinya dari petugas yang mengurusi pekerja di sana. Apa kau masih ingat dengan temanmu yang bernama Carlos?” tanya Paloma seraya tertawa getir. “Namanya mengingatkanku pada mendiang ayah.”


“Carlos? Kau bertemu dengannya?” Rafael menautkan alis.


“Aku menemui semua orang yang dirasa dapat memberikan informasi tentangmu. Dia mengatakan bahwa kau adalah pria lajang.” Paloma menundukkan wajahnya.


Rafael terdiam seraya terus melayangkan tatapan kepada Paloma. Perasaan sesal itu kembali hadir dan menyeruak dengan begitu hebat. Namun, dia tak harus meminta maaf berkali-kali. Rafael, merasa jika kata maaf saja tak akan pernah cukup. Sudah saatnya dia membuktikan segala penyesalannya itu dengan tindakan nyata.


Paloma beranjak dari duduknya setelah beberapa saat terdiam. Sebelum masuk ke kamar mandi, wanita cantik berambut sebahu itu menoleh kepada Rafael yang masih memandangnya. “Apa kau sudah memesan tiket untuk pulang? Bagaimana jika kita ambil penerbangan pagi”


“Terserah kau,” sahut Rafael memaksakan tersenyum. Dia ingin sekali bertanya tentang yang dilakukan Paloma di Perkebunan Castaneda selama seharian. Namun, Rafael merasa canggung. Walaupun Paloma masih berstatus istrinya, tapi Rafael merasa ragu untuk mencampuri urusan pribadi wanita itu. Dia memilih untuk menyimpan rasa penasarannya, hingga keesokan hari saat Sebastian datang dan mengantarkan mereka ke bandara di Kota Sevilla.


Kemesraan Paloma dan Sebastian, bahkan berlanjut hingga mereka telah tiba di bandara. Puncaknya adalah ketika pesawat yang akan membawa Paloma dan Rafael kembali ke Meksiko telah siap. Rafael segera memalingkan wajah saat melihat yang dilakukan Sebastian. Pemilik perkebunan zaitun terluas di Porcuna itu mencium mesra Paloma, dan seakan tak ingin melepaskannya. “Kita harus segera pergi,” ucap Rafael mengingatkan.


“Aku akan sangat merindukanmu,” ucap Sebastian tanpa memedulikan ucapan Rafael. Dia tetap fokus kepada Paloma.


“Aku belum selesai membaca buku yang kau berikan,” ucap Paloma seraya merapikan rambut dan pakaiannya.


“Kenapa kau tak meminta lagi?” Sebastian menanggapi dengan nada bicaranya yang lembut dan berbeda. Membuat Rafael tak nyaman saat mendengarnya. Dia sudah tak tahan untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


“Jagalah kalungku baik-baik. Seharusnya kau sudah mengembalikan itu padaku,” bisik Paloma.


“Aku akan mengembalikannya, saat melihatmu berjalan ke arahku sambil mengenakan gaun pengantin,” balas Sebastian. Dia sepertinya sengaja mengatakan itu dengan cukup nyaring di hadapan Rafael.


“Kau ini.” Paloma tertawa renyah. Dia meraih gagang kopernya. Bagaimanapun juga, Paloma harus kembali ke Meksiko. Untuk pertama kali dalam sekian lama, baru kali ini dirinya merasa enggan meninggalkan Spanyol.


Paloma sempat menoleh beberapa kali sambil terus melangkah. Sedangkan, Sebastian masih berdiri di tempatnya. Dia tersenyum kalem. Pria itu menyembunyikan perasaan tak karuan yang mulai menyergap. Entah kapan dia akan bertemu lagi dengan wanita yang telah berhasil membuat dirinya mengakhiri kesendirian. Satu yang pasti. Belum genap satu hari Paloma pergi meninggalkannya, rasa rindu sudah terasa begitu menggunung.


“Jadi, kalian sudah menjalin hubungan?” tanya Rafael, ketika mereka telah duduk di dalam pesawat. Akhirnya, dia mendapat jawaban dari segala rasa penasaran yang mengusiknya sejak semalam.


Namun, Paloma tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kecil saat menanggapi pertanyaan tadi. Wanita itu lebih memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela.


Makin lama, jarak semakin menjauh. Pesawat itu terbang tinggi membelah langit. Meninggalkan kenangan manis antara Paloma dengan Sebastian, dan kenangan buruk bagi Rafael yang harus kembali ke Meksiko dengan wajah babak belur.


Kurang lebih sepuluh jam telah terlewati dalam perjalanan panjang lintas benua itu. Paloma dan Rafael akhirnya kembali menginjakkan kaki di Benua Amerika. Ribuan kilometer jauhnya dari Eropa. Setibanya di bandara, mereka bergegas menuju mobil jemputan yang telah menunggu di luar. Tanpa berlama-lama, keduanya meninggalkan bandara tersebut.


Tak membutuhkan waktu lama, hingga tiba di kediaman Rogelio. Kedatangan mereka disambut hangat oleh pria paruh baya itu. Rogelio sempat tertegun, saat melihat beberapa luka lebam Rafael. Namun, sang pemilik Estrella Pharmacies itu tak bertanya macam-macam. Terlebih, karena Paloma langsung mengajaknya membahas masalah kontrak kerja sama dengan Sebastian.


“Luar biasa, Nak. Kalian sudah bekerja sama dengan baik. Aku sangat bahagia melihatnya, meskipun Rafael kembali dengan wajah penuh luka lebam.” Rogelio melirik anak angkatnya yang tengah menikmati santap malam.


“Ini bukan apa-apa,” sahut Rafael. Dia menoleh sejenak kepada sang ayah, sebelum kembali mengalihkan perhatian pada sisa makanan di dalam piring.

__ADS_1


“Aku akan menghubungi Tuan Castaneda untuk mengucapkan terima kasih padanya.” Rogelio terlihat bersemangat.


“Iya. Ayah memang harus melakukan itu, karena Ayah tak ikut berunding,” ujar Rafael. Dia meneguk minumannya. “Sekalian saja beritahu dia, bahwa aku dan Paloma akan membatalkan pengajuan perceraian kami,” tegasnya.


__ADS_2