
Sebastian dan Paloma seketika saling pandang. Namun, pria itu segera memberi isyarat agar Paloma tetap bersikap biasa. “Oh, luar biasa. Anda memiliki daya ingat yang sangat kuat, Tuan,” sanjung tuan tanah tersebut berbasa-basi.
“Aku memang sudah tua, Tuan. Namun, untuk hal yang satu ini, aku masih bisa diandalkan,” sahut sang pemilik rumah diakhiri tawa renyah. “Ah, ya! Perkenalkan, namaku Hugo Mendez.” Pria bernama Hugo itu mengulurkan tangan kepada Sebastian, yang langsung menyebutkan namanya. Hugo lalu beralih kepada Paloma dan Kalida. “Putri kalian sangat cantik,” sanjungnya saat melihat Luz Maria.
“Dia ….” Paloma sudah akan membantah ucapan Hugo, tapi Sebastian segera mencegahnya.
“Bolehkah kami melihat-lihat bagian lain rumah ini, Tuan Mendez?” tanya Sebastian. Sikapnya sudah seperti seorang kepala keluarga. Sikap Sebastian yang demikian, tentu saja membuat Elazar pun terlihat kurang nyaman.
“Tentu, Tuan Castaneda. Tidak Anda minta pun, aku pasti akan menunjukkannya,” sahut Hugo antusias. Dia mengarahkan Paloma dan Sebastian ke bagian lain rumah itu. Hugo menunjukkan seluk-beluk setiap ruangan, baik di lantai satu maupun lantai dua.
“Sebagian besar rumah ini sudah direnovasi. Anda hanya tinggal mengganti cat tembok jika memang kurang sesuai, karena aku tahu bahwa selera tiap orang berbeda,” ujar Hugo setelah mereka kembali ke ruang tamu.
“Itu bukan hal yang sulit, Tuan Mendez. Selama kondisi bangunan ini masih bagus, aku rasa tidak ada masalah,” ucap Paloma menanggapi.
“Untuk hal itu aku berani menjamin, Paloma.” Elazar ikut berkomentar. “Wilayah ini termasuk aman. Aksesnya pun mudah, karena berada dekat perbatasan menuju Cordoba. Pergerakanmu tidak akan terbatasi, karena di sini juga sudah banyak pertokoan,” jelasnya.
“Ya, Tuan Elazar benar sekali. Aku sudah tinggal di sini selama belasan tahun. Sebenarnya, aku juga terpaksa menjual rumah ini. Semenjak istriku meninggal beberapa tahun lalu, aku hidup seorang diri. Kedua putraku merasa khawatir. Mereka takut jika aku mati tanpa diketahui siapa pun.” Hugo tertawa setelah berkata demikian. Baginya, itu mungkin terdengar lucu.
Hugo tak tahu bahwa Sebastian pun memiliki nasib yang sama seperti dirinya. Sebastian bahkan tak memiliki keturunan. Dia hanya hidup dan bersinggungan dengan para pekerja setiap harinya.
Beberapa saat telah berlalu. Paloma sepertinya tertarik dengan rumah itu. Dia sempat bermain mata dengan Sebastian, seakan meminta pendapat pria itu. Setelah Sebastian memberikan isyarat bahwa dirinya juga menyukai rumah tadi, Paloma langsung memutuskan membeli kediaman milik Hugo.
“Kita harus pergi ke notaris untuk mengurus segala dokumen jual-beli rumah ini. Aku punya rekomendasi untukmu. Kira-kira, kapan kau bisa meluangkan waktu?” tanya Elazar, saat mereka sudah berpamitan kepada Hugo.
“Terima kasih, Tuan Blanco,” ucap Paloma tulus. Baru kali ini dia bersikap benar-benar manis kepada mantan suami Tatiana Vidal tersebut. “Aku rasa, makin cepat diurus maka akan semakin baik.”
“Kalau begitu, bagaimana jika kubuatkan jadwal besok pukul sepuluh pagi?” tawar Elazar.
“Baiklah,” jawab Paloma setuju.
__ADS_1
Elazar tersenyum kikuk. “Apa perlu kujemput atau kau ….” Dia menoleh pada Sebastian. Sesaat kemudian, pria itu kembali mengarahkan perhatian kepada Paloma.
“Jika kau tidak keberatan, aku akan menemani Paloma,” ucap Sebastian yang sudah paham dengan maksud Elazar.
Sementara, Paloma memilih tak berkomentar. Dia tahu bahwa tak ada gunanya membantah ucapan Sebastian. Pria itu tak suka jika ada seseorang yang membangkang terhadapnya.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengirimkan alamat kantor notarisnya padamu. Aku rasa, kau tak akan kesulitan menemukan tempat itu jika diantar Sebastian,” putus Elazar. Dia tersenyum kalem, meskipun ucapannya terdengar penuh sindiran halus.
“Ya, kau tenang saja. Selama ada aku, maka Paloma tak akan pernah tersesat,” sahut Sebastian. Dia menanggapi sindiran Elazar dengan sangat tenang. Sesaat kemudian, duda tampan tersebut mengalihkan perhatian kepada Paloma. “Kita masih ada urusan yang harus diselesaikan, Sayang,” ucapnya penuh isyarat.
Paloma tidak menjawab. Dia hanya mengangguk setuju. Wanita cantik berambut cokelat itu menoleh pada Kalida yang sejak tadi menggendong Luz Maria. “Masuklah ke mobil, Kalida,” suruhnya, berhubung cuaca cukup panas di sana.
“Kita berangkat sekarang,” ajak Sebastian. Dia sempat menyalami Elazar, sebelum membukakan pintu untuk Paloma. Sebastian tak menoleh lagi pada mantan suami Tatiana tersebut, karena pikirannya sudah tertuju pada Abelardo yang akan segera dia temui.
“Apa kita akan menemui temanmu itu?” tanya Paloma setelah Sebastian melajukan kendaraannya.
“Kupikir semuanya telah selesai. Tatiana Vidal sudah dipenjara. Tak lama lagi, dia akan segera diproses di pengadilan. Kuharap wanita itu mendapat hukuman yang setimpal.”
“Entahlah, Paloma,” ucap Sebastian ragu. Dia menoleh sekilas pada wanita cantik di sebelahnya. “Kemarin, pengacara Tatiana datang menemuiku.”
“Untuk apa? Apakah dia meminta bantuanmu?” tanya Paloma dengan nada tak suka.
Sebastian menggumam pelan. Dia lalu mengembuskan napas berat. “Aku akan menemui Tatiana besok di penjara,” ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangan dari jalananan yang sedang dilalui.
“Astaga!” Paloma melipat kedua tangan di dada. Dia memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Sebastian memahami bahwa Paloma tak akan menyukai apa yang hendak dibahasnya. Namun, dia hanya berusaha bersikap netral. “Tatiana bersikeras bahwa mobil itu sudah dirinya singkirkan, beberapa waktu setelah Rafael memutuskan hubungan mereka. Dia tak tahu-menahu lagi tentang kendaraan tersebut,” terang Sebastian.
“Ya, dan kau mempercayai hal itu!” Paloma menanggapi penuturan Sebastian dengan jengkel. Dia bahkan lupa, bahwa di jok belakang ada Kalida yang mendengar perbincangannya dengan Sebastian.
__ADS_1
“Aku sudah mengenal Tatiana lama sekali. Kami berteman baik. Aku tahu seperti apa karakternya. Tatiana memang berwatak keras, sama kerasnya denganmu. Namun, dia tidak pernah asal bicara,” jelas Sebastian tetap terlihat tenang.
“Ya, terus saja membelanya,” cibir Paloma makin tak suka.
Sebastian tertawa renyah seraya menggeleng pelan. “Ini bukan tentang pembelaan, Sayangku,” bantahnya seraya menoleh kepada Paloma yang masih cemberut. “Aku hanya penasaran. Jika memang Tatiana sudah merasa menyingkirkan mobil itu, lalu kenapa ….” Sebastian menjeda kata-katanya. Dia tampak berpikir keras di balik kacamata hitam yang membuat pria itu terlihat semakin tampan.
“Apa mungkin ada orang lain yang mengambil mobil itu saat Tatiana membuangnya?” pikir Sebastian lagi.
“Sudahlah, Sebastian! Aku tidak suka jika kau terus membela wanita itu,” protes Paloma. “Lagi pula, seberapa istimewanya Tatiana bagimu?” Paloma kembali memalingkan wajah ke luar jendela. "Jika besok kau akan ke Sevilla, lalu bagaimana denganku?" Paloma kembali mengarahkan pandangan kepada Sebastian. "Bukankah kau akan menemaniku ke kantor notaris?"
"Ya, ampun. Aku benar-benar lupa," ucap Sebastian penuh sesal. Pria itu mengembuskan napas pelan sambil menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil.
Sebastian menghentikan sejenak laju kendaraannya di tepi jalan. Dia mengarahkan pandangan sepenuhnya kepada Paloma yang masih memasang raut tak bersahabat. Meski sedang cemberut seperti itu, Paloma masih tetap terlihat cantik dan sangat menggemaskan seperti Luz Maria.
Sebastian tersenyum kalem. "Kuharap, Elazar tidak merayumu besok," ujarnya.
Paloma menoleh sambil melotot. Dia mengerti dengan makna dari ucapan Sebastian. Paloma tak bicara lagi, hingga SUV putih milik Sebastian berhenti di halaman gedung kepolisian sektor Porcuna.
Tanpa membuang waktu, mereka segera masuk untuk menemui Abelardo. Beruntungnya, sang kepala polisi ada di sana. Dia cukup terkejut, berhubung Sebastian datang tanpa membuat janji terlebih dulu.
berbasa-basi sebentar, Sebastian langsung menceritakan perihal mobil SUV dengan plat Setelah nomor yang disebutkan oleh Hugo. Sebastian bahkan menceritakan bahwa kendaraan itu menuju ke Cordoba.
“Masuk akal juga jika menuju Cordoba, karena kecelakaan tragis itu terjadi di perbatasan Porcuna,” ujar Abelardo. “Itu artinya, kami harus melakukan penyelidikan lagi.”
“Apakah mungkin jika Tatiana Vidal sengaja menghilangkan barang bukti?” tanya Paloma.
“Segala kemungkinan bisa saja terjadi, Nyonya,” jawab Abelardo mencari aman. Dia malas berurusan dengan Paloma.
“Agar lebih jelas, ikutlah denganku menemui Tatiana,” ajak Sebastian.
__ADS_1