
Setelah pertemuan dengan Amoroso Barbossa selesai, Paloma tadinya hendak menemui Sebastian. Namun, di luar dugaan ternyata Rogelio malah mengajak mereka makan siang bersama. Paloma sudah tahu bahwa sang ayah memang sengaja melakukan hal itu, demi membatasi kedekatannya dengan Sebastian.
“Kita makan siang di kediamanku saja,” ajak Elazar. “Jaraknya hanya sekitar lima belas menit dari sini,” ucap pria itu lagi, seraya membukakan pintu untuk Paloma.
“Ah! Itu bukan ide buruk,” sahut Rogelio. Dia menyambut baik ajakan dari Elazar.
Sementara, Paloma terlalu malas menanggapi. Dia juga tak mungkin berdebat dengan sang ayah di hadapan Elazar. Akhirnya, ibunda Luz Maria tersebut menyetujui hal itu. Dia masuk ke mobil, lalu duduk anggun di jok belakang. Sedangkan, Rogelio menemani Elazar di kursi depan.
Selama dalam perjalanan, Paloma menyempatkan diri mengirim pesan kepada Kalida. Dia menanyakan keadaan Luz Maria. Sedih rasanya, karena akhir-akhir ini Paloma sering meninggalkan anak itu.
Setelah mendapat balasan lewat video pendek yang memperlihatkan aktivitas Luz Maria, Paloma merasa jauh lebih tenang. Dia melihat balita satu setengah tahun tersebut sedang asyik bermain.
Sesaat kemudian, Paloma mengirimkan pesan kepada Sebastian. Dia membatalkan rencana pertemuan mereka, karena dirinya sedang menuju ke kediaman Elazar.
Untuk apa kau ke sana?
Pesan balasan dari Sebastian, yang menyiratkan nada kurang suka dari duda tampan empat puluh tahun tersebut.
Dia mengundang kami makan siang.
Paloma memberikan jawabannya. Wanita itu mengembuskan napas pelan setelah mengirimkan pesan tersebut.
Kalian baru bertemu, dan dia sudah mengundangmu serta Tuan Gallardo makan siang di kediamannya? Aku tahu bahwa Elazar bukan tipe orang yang menyukai tamu. Dia bahkan jarang sekali mempersilakan orang yang datang untuk masuk ke kediamannya.
Paloma hendak membalas pesan itu. Akan tetapi, kendaraan milik Elazar sudah tiba di depan bangunan dua lantai, dengan dominasi warna putih. Elazar yang memang kurang suka memakai sopir pribadi, menghentikan mobil mewahnya di depan pintu gerbang.
Sigap, seorang pria dengan seragam khusus datang menghampiri. Dia bertugas memarkirkan kendaraan sang tuan ke garasi. Bangunan itu berada di samping rumah. Entah apa alasan Elazar membangun tempat tinggal dengan desain seperti itu.
__ADS_1
“Mari. Pelayan sudah menyiapkan makan siang untuk kita,” ajaknya diiringi senyuman hangat. Sepertinya, duda tampan itu memang telah merencanakan acara jamuan makan siang tersebut.
“Kami jadi merepotkan,” ujar Rogelio tak enak, ketika melihat aneka sajian khas Spanyol yang sudah siap di meja makan.
“Apakah kau sudah merencanakan ini, Tuan Blanco?” tanya Paloma dengan nada bicara yang terdengar sedikit aneh. Paloma tengah menerka-nerka, menyimpulkan siapa yang benar setelah membaca pesan dari Sebastian.
“Kuharap kalian tidak keberatan,” sahut Elazar mengambil jawaban yang netral.
“Kami justru sangat tersanjung,” balas Rogelio ramah.
“Jangan terlalu berlebihan, Ayah,” bisik Paloma.
Namun, Rogelio seakan tak ingin menanggapi. Dia langsung duduk, setelah Elazar mempersilakannya. Elazar bahkan bermaksud memundurkan satu kursi untuk Paloma. Akan tetapi, wanita itu segera menolaknya dengan halus. “Terima kasih, Tuan Blanco. Aku tidak suka terlalu merepotkan orang lain.” ujar Paloma sambil duduk.
“Tidak apa-apa, Nyonya Hernandez. Aku tidak merasa keberatan sama sekali. Senang rasanya bisa menerima tamu istimewa seperti kau dan Tuan Gallardo,” balas Elazar sembari duduk di salah satu kursi. “Silakan nikmati semua menu yang tersedia. Apakah masih ada yang kurang? Katakan saja, tidak perlu sungkan," ujarnya.
“Ah, tidak. Ini sudah lebih dari cukup,” balas Rogelio. Dia mulai mencicipi sajian di hadapannya. Begitu juga dengan Elazar dan Paloma.
Paloma membalas ucapan sang ayah dengan senyum simpul. Dia harus lebih banyak pengertian, dengan sikap Rogelio yang aneh. Emosi pria paruh baya tersebut sedang tidak stabil, karena rasa kehilangan yang terlalu mengguncang jiwanya.
“Anda tidak perlu khawatir, Tuan Gallardo. Aku akan selalu siap membantu, andai Nyonya Hernandez mengalami kesulitan atau ….”
“Terima kasih sebelumnya, Tuan Blanco. Anda tidak perlu repot-repot. Aku yakin jika kesibukan Anda pasti sangat padat,” tolak Paloma halus.
“Tidak apa-apa. Nyonya. Aku senang jika bisa membantu,” balas Elazar. “Ah! Bagaimana jika sekalian kucarikan tempat tinggal di Porcuna? Dengan begitu, mobillitasmu akan semakin mudah. Kau juga tak merasa serba salah karena harus meninggalkan Luz Maria jika jaraknya dekat,” saran pria itu.
“Ya, itu ide yang sangat bagus. Aku setuju sekali. Bagaimana denganmu, Paloma?” Rogelio mengarahkan perhatiannya, kepada janda cantik yang tak segera menanggapi.
__ADS_1
Paloma berpikir sejenak. Harus diakui bahwa ide yang diberikan Elazar memang sangat masuk akal. “Aku rasa memang seharusnya begitu.” Paloma mengangguk setuju. “Aku menerima bantuanmu kali ini, Tuan Blanco,” ucap Paloma pelan.
“Baiklah. Akan kucarikan tempat tinggal yang letaknya tidak terlalu jauh dari perusahaan.” Elazar tersenyum kalem penuh arti. Senyuman yang membuat Paloma tiba-tiba merasa tak nyaman. Wanita itu segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
Beberapa saat kemudian, jamuan makan siang telah selesai. Namun, Rogelio masih asyik berbincang dengan Elazar. Sementara, Paloma sudah merasa tak nyaman berada di sana. Terlebih, karena tiba-tiba Sebastian menghubunginya. Paloma memutuskan keluar dan duduk di teras.
“Kau di mana sekarang?” tanya Sebastian penuh selidik.
“Aku masih di kediaman Elazar,” balas Paloma pelan.
“Astaga, lama sekali. Apa saja yang kau lakukan di sana?” protes Sebastian tak suka. Padahal, dia dan Paloma belum terikat hubungan apapun. Namun, sikap Sebastian sudah begitu protektif terhadap janda satu anak itu.
“Kami baru selesai makan siang. Ayahku masih berbincang dengan Elazar,” jawab Paloma tak enak.
“Kalau begitu, akan kujemput kau ke sana.” Sebastian yang awalnya duduk di belakang meja kerja, segera beranjak dari kursi. Dia melangkah ke dekat pintu tanpa mematikan sambungan telepon. Belum sempat pria itu menyentuh pegangannya, pintu sudah lebih dulu dibuka dari luar. Sebastian cukup terkejut seraya bergerak mundur.
“Astaga, Tuan.” Leandra tertawa renyah. “Maafkan aku,” ucapnya. Dia menutup mulut dengan telapak tangan.
“Kau membuatku terkejut, Leandra.” Sebastian berdecak pelan.
“Maaf, Tuan,” ucap Leandra masih dengan tawanya. “Aku hanya ingin memberitahukan bahwa sudah waktunya makan siang. Apalagi, tadi pagi Anda tidak sarapan. Kasihan sekali tubuh Anda jika hanya diisi secangkir kopi.”
“Terima kasih, Leandra. Aku harus pergi dulu,” tolak Sebastian. Dia baru sadar bahwa dirinya masih berada dalam sambungan telepon bersama Paloma. Namun, Paloma sudah terlanjur mendengar perbincangan ringan tadi.
Sebastian bergegas keluar dari ruang kerja. Dia tak memedulikan Leandra yang masih berdiri di depan pintu. “Paloma? Apa kau masih di situ?” tanyanya sambil berjalan menyusuri koridor.
“Ya, Sebastian,” jawab Paloma pelan. Tiba-tiba, dia merasa malas melanjutkan perbincangan itu.
__ADS_1
“Aku akan menjemputmu ke sana,” ucap Sebastian lagi. Dia sudah hampir membuka pintu kendaraan di halaman.
“Kurasa tidak usah, Sebastian. Aku dan ayah akan pulang dengan diantar oleh Elazar,” tolak Paloma, yang seketika membuat Sebastian terpaku.