CINTA ATAU TAKDIR

CINTA ATAU TAKDIR
103


__ADS_3

Xiao Tan tidak percaya. Masa iya benda itu seberbahaya itu? Tuan Qu langsung cemberut kesal. Tapi satu tatapan peringatan dari Lian Cheng, dia langsung berubah sikap.


Dia mengaku bahwa sejak kejadian yang menimpa Pan Er, hatinya berubah jadi dingin sekarang. Dia hanya ingin melindungi keluarganya, jadi dia akan mundur dari pertarungan perebutan tahta mulai sekarang.


"Yang Mulia. Mutiara Penekan Jiwa ini adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh Putera Mahkota."


"Kekuatan hebat apa sebenarnya yang dimiliki Mutiara Penekan Jiwa ini sampai membuat Putera Mahkota begitu menginginkannya? Kakek meninggalkan pusaka ini, apa mungkin ini ada hubungannya dengan tahta?"


Memang benar kalau benda ini adalah peninggalan Kaisar pertama. Tapi Tuan Qu meyakinkan kalau benda ini tidak ada hubungannya dengan tahta.


Lian Cheng jadi semakin heran. Mendiang Kaisar meninggalkan mutiara itu pada keluarga Qu dan juga menjodohkannya dengan Tan Er. Beliau pasti memiliki alasan mendalam untuk itu. Apa mungkin benda ini ada hubungannya dengannya?


Pan Er datang saat itu juga dan langsung protes keras ke ayahnya. Dia tidak terima Mutiara Penekan Jiwa diserahkan ke Tan Er. Dia adalah putri pertama, jadi mutiara itu seharusnya diserahkan padanya.

__ADS_1


Pan Er langsung maju untuk merebut kotak giok itu. Xiao Tan pun cepat-cepat maju untuk menyelamatkan kotak giok itu.


Tangan mereka secara bersamaan menyentuh kotak giok itu dan seketika itu pula sinar ungu menyala terang dan Pan Er terlontar jauh sampai pingsan.


Tapi anehnya, Tan Er baik-baik saja. Kekuatan benda itu sama sekali tak mempengaruhinya. Dia cuma keheranan dengan keanehan sinar yang terpancar dari kotak itu.


Tuan Qu jelas heran melihatnya, padahl dulu Tan Er tidak bisa menyentuh kotak itu. Tapi kenapa sekarang bisa? (Err... karena dia bukan Tan Er?)


Tuan Qu yakin begitu. Bagaimanapun, Pan Er adalah keturunan keluarga Qu. Dia hanya terluka oleh hawa dingin giok itu. Dia pasti baik-baik saja. Para pelayan lalu dipanggil untuk menggotong Pan Er kembali ke kediamannya.


Tuan Qu pun pamit dan berpesa agar Lian Cheng menjaga mutiara itu baik-baik. Lian Cheng berjanji akan menjaganya dengan baik. Terlebih karena mutiara itu adalah peninggalan kakeknya. Setelah semua orang pergi, Xiao Tan heran melihat Lian Cheng. Dia sedang mikir apa?


"Aku berpikir tentang dari mana Mutiara Penekan Jiwa ini berasal?"

__ADS_1


Bukankah Kaisar terdahulu yang memberikannya pada mereka? Apa mungkin Lian Cheng curiga ada sesuatu yang Tuan Qu rahasiakan? Lian Cheng rasa tidak. Tuan Qu sudah memberikannya pada mereka. Apalagi yang perlu dirahasiakan?


"Tapi aku berpikir. Kakek membawa Mutiara Penekan Jiwa itu ke Dong Yue. Pasti ada alasannya. Selain itu, Mutiara Penakan Jiwa ini sepertinya bukan berasal dari Dong Yue."


"Jadi maksudmu..."


Lian Cheng merasa kalau Kakeknya memberikan mutiara ini pada Tuan Qu untuk menunggu kemunculan seseorang yang berhubungan dengan mutiara ini.


"Kau tidak menduga kalau orang itu aku, kan? Bagaimana mungkin? Aku bahkan bukan berasal dari Dong Yue."


"Qu Tan Er iya. Selain itu, kau bisa menyentuh kotak giok itu."


Tapi waktu Tan Er kecil dia tidak bisa menyentuhnya... Ah, Xiao Tan lama-lama bingung memikirkan dua sosok dirinya ini.

__ADS_1


__ADS_2