
Begitu Xiao Tan pergi, Lian Cheng menanyai Yu Hao. Apa dia yakin kalau yang menulis pesan ini adalah istrinya.
Yu Hao mengaku kalau malam itu sebenarnya dia tidak melihat wajahnya, dia menduga kalau orang itu Tan Er berdasarkan bajunya dan bentuk tubuhnya.
Saat dia periksa, batu bata itu memang biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang luar.
Tapi melihat tulisan Xiao Tan, sepertinya surat itu ditulis oleh orang yang berbeda. Jing Xuan juga berpendapat bukan Xiao Tan yang menulis surat itu. Menurutnya, kakak iparnya itu bukan orang yang rumit. Dia cukup menarik malah.
"Kau baru bertemu dia satu kali. Yu Hao, apa menurutmu, istriku sangat aneh?"
Di satu waktu, istrinya tampak begitu sopan dan lembut. Tapi di waktu berikutnya, dia seperti orang yang berbeda dan mengatakan hal-hal yang sulit dimengerti. Yu Hao menduga jangan-jangan rumor itu benar, rumor yang mengatakan kalau Tan Er itu gila.
__ADS_1
"Kurasa tidak begitu. Kecuali dia pura-pura. Atau... ada cerita rahasia lain di balik semua ini?"
Gara-gara kedatangan pembunuh itu, Lian Cheng memutuskan untuk menyerahkan Lencana Komando Kerajaannya pada Kaisar. Dia sudah tidak tahan lagi dengan kedatangan pembunuh yang terus datang demi mendapatkan Lencana Komando Kerajaan ini.
Karena Lencana Komando Kerajaan ini sangat penting dan bisa memerintahkan pasukan, Jing Xuan yakin pencurinya adalah orang keluarga kerajaan (sambil lirik curiga ke Yi Huai).
Lian Cheng sudah mengetahui kalau pembunuh itu adalah pembunuh terbaik dari Sekte Stempel Darah. Dan kebetulan sekali, pengawal baru favorit Yi Huai ada hubungan dengan orang-orang dari sekte itu.
Lian Cheng mengklaim kalau dia tidak mau memperpanjang urusan ini. Dan karenanya, dia memint Kaisar untuk mengambil Lencana Komando Kerajaan ini. Jing Xuan tak setuju dan bersikeras meminta Kaisar untuk menyelidiki masalah ini.
Kaisar cepat-cepat menengahi mereka dan berjanji akan menyelidiki pembunuh itu. Tapi dia tidak punya hak untuk mengambil lencana itu mengingat lencana itu diberikan mendiang Kaisar pada Lian Cheng. Jadi Kaisar meminta Lian Cheng untuk menjaga lencana itu baik-baik untuknya. Mereka boleh pergi.
__ADS_1
Saat ketiga pangeran itu keluar, Yi Huai langsung sinis menyindir Lian Cheng yang bisa mendapatkan begitu banyak informasi tanpa keluar rumah sekalipun. Yi Huai sungguh terkesan.
"Masalah kepintaran dan strategi, bagaimana bisa aku dibandingkan dengan kakak? Aku baru tahu belakangan ini kalau kakak punya banyak teman dari sisi gelap."
"Aku mau lihat apa lagi yang bisa kau lakukan?"
Secepat kilat Yi Huai mengulurkan tangan untuk menyerang Lian Cheng, tapi Jing Xuan berhasil mencegahnya dengan cepat dan mengingatkan Yi Huai bahwa Kaisar bisa marah kalau beliau sampai tahu.
Yi Huai akhirnya menarik tangannya dan berbalik pergi, tanpa menyadari kalau dia meninggalkan sebuah kantong kecil. Di kantong itu tersulam kata 'Mu Xin' yang membuat Lian Cheng teringat akan kantong kecil yang dimiliki istrinya.
Sementara itu, Xiao Tan dan Jing Xin sedang mengawasi para pekerja yang sedang memindahkan ranjangnya Lian Cheng ke kamarnya. Saat mundur, tak sengaja Xiao Tan menyenggol meja dan menjatuhkan sebuah surat.
__ADS_1
Xiao Tan heran saat membacanya, dia mengenali tulisan tangan itu mirip dengan tulisan tangan yang waktu itu. Dia langsung tanya ke Jing Xin, siapa yang menulis surat ini?