
Jing Xuan langsung panik meminta maaf dan menjelaskan bahwa bukan itu maksudnya. Yi Huai sok merendah dengan mengklaim kalau Jing Xuan pasti tidak menganggapnya penting karena dia tidak sebanding dengan Lian Cheng.
"Tampaknya di pemerintahan ini, bukan cuma satu orang saja yang punya pendapat yang sama dengan Adik Ke-14. Aku hanya bisa berusaha lebih keras. Jika tidak maka aku akan tertinggal semakin jauh dari Adik Ke-8."
Tak mau kalah, Lian Cheng mengklaim bahwa dia tidak sebanding dengan Yi Huai dalam hal kecerdasan dan strategi. Dia hanya orang yang suka malas-malasan, bahkan sempat diserang sebelumnya gara-gara Lencana Komando Kerajaan.
"Aku benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk membalas, Bagaimana bisa aku dibandingkan dengan Kakak Pertama?"
Menyadari perseteruan di antara kedua putranya, Kaisar buru-buru menyela dan menegaskan bahwa mereka memiliki kemampuan masing-masing yang unik. Dalam hatinya, Kaisar tak pernah merasa salah satu dari mereka yang paling menonjol daripada yang lain.
"Xuan'er, kau perlu belajar bertanggung jawab atas perkataanmu. Jangan gegabah bicara. Kalian semua boleh keluar."
Di luar, Yi Huai langsung mengkonfrontasi Lian Cheng atas ucapannya tadi. Dia benar-benar merasa malu karena ucapan Lian Cheng tadi membuatnya tampak bodoh.
__ADS_1
Lian Cheng santai membalasnya, Yi Huai kan punya banyak kontak di sini. Masa dia tidak bisa tahu kalau kedua teh itu tidak beracun? Dibandingkan dengan itu, Lian Cheng justru merasa lebih bodoh.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau tehnya tidak beracun?"
"Ayahanda menggunakan cangkir teh yang sama dengan kita. Ayahanda yang biasanya selalu berhati-hati, bagaimana bisa ia membuat kesalahan seperti itu? Itu cukup untuk membuktikan kalau tehnya tidak beracun."
Yi Huai mengaku kalah. Tapi kemudian, dengan senyum liciknya dia menanyakan kabar istrinya Lian Cheng.
"Segalanya baik-baik saja. Kakak Pertama tidak perlu khawatir."
"Apa maksud Kakak Pertama?"
"Tidak ada. Aku cuma ingin mengingatkanmu untuk menjaganya dengan baik. Jangan biarkan dia menderita."
__ADS_1
Lian Cheng mulai cemas dan langsung menyuruh Yu Hao untuk bergegas pergi ke kediamannya untuk mengecek istrinya. Dia cemas, sepertinya ucapan Yi Huai tadi merujuk pada sesuatu.
Tan Er akhirnya tiba di tempat tujuannya yang ternyata rumah kediaman keluarga Qu. Dia mau kembali saat itu juga, tapi Nyonya Qu sudah menunggunya di gerbang dan sok ramah menyambutnya dan mengajaknya masuk.
Nyonya Qu langsung membawanya menghadap Tuan Qu dan ada Pan Er juga di sana. Tuan Qu langsung membentaknya untuk berlutut dan pelayan pun langsung mendorongnya ke lantai.
Dengan kejamnya Tuan Qu menuduh Tan Er bersekongkol dengan Lian Cheng untuk menentang keluarga Qu dan Yi Huai.
Tan Er jelas bingung dengan tuduhannya, dia tidak pernah menentang Pangeran Pertama dan Tuan Qu.
Pan Er tiba-tiba menamparnya dan menuduh Tan Er benci padanya karena Tan Er ingin menjadi istri putera mahkota. Karena itulah Tan Er bersekongkol dengan Lian Cheng.
Pan aer terus menuduh Tan Er tidak tahu malu. Di satu sisi, dia sangat manis dan penuh cinta kasih pada Lian Cheng. Tapi di sisi lain, dia terus berusaha merayu Yi Huai. Dia mendapatkan keduanya demi keuntunganya sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak seperti itu. Mohon kakak tidak asal berspekulasi."