
"Baguslah. Bagaimana kalau kau membuat pertunjukan yang bagus bersamaku?"
Tak lama kemudian, Tabib Gao datang memeriksa Xiao Tan. Dia yakin kalau Tan Er tidak sakit, hanya luka ringan saja.
Lian Cheng ngotot kalau istrinya sakit dan terluka parah, bagaimana bisa dia bilang kalau Xiao Tan tidak sakit?
Masa sebagai tabib yang sudah berpengalaman, dia tidak bisa mengetahui kalau nyawa istrinya sedang dalam bahaya? Apa dia juga perlu terluka parah seperti istrinya biar Tabib Gao bisa mengetahuinya? Tabib Gao sontak ketakutan, dia tidak berani.
"Karena kau tidak bisa mendiagnosisnya, berarti luka istriku sangat amat parah. Dia terluka separah itu hingga kau bahkan tidak bisa mengobatinya. Jika sekali lagi aku mendengar istriku tidak terluka parah, aku akan membuat perhitungan denganmu!"
Ketakutan, Tabib Gao pun berniat memeriksa Xiao Tan lagi. Tapi tiba-tiba saja Xiao Tan berakting kejang-kejang.
Tabib Gao shock, sepertinya nyawa Xiao Tan benar-benar dalam bahaya. Kalau begitu dia akan kembali lagi nanti untuk menemukan cara mengobati Xiao Tan.
Dia akan melaporkan masalah ini pada Kaisar dan Ibu Suri juga. Lian Cheng dan Jing Xin benar-benar harus berusaha menahan tawa melihat itu.
__ADS_1
Begitu Tabib Gao pergi, Xiao Tan pun mengakhiri akting alay-nya. Bagaimana aktingnya? Bagus, kan? Dia bisa seperti ini karena sering latihan pura-pura sakit dan malas-malasan.
"Kau itu terlalu nkal. Aku hampir ketawa tadi. Kelak, kau harus menguranginya sedikit."
Yu Hao datang untuk melaporkan kedatangan Jing Xuan yang mau menjenguk Xiao Tan. Xiao Tan langsung antusias mau ketemu Jing Xuan.
Tapi Lian Cheng langsung menghentikannya sebelum dia sempat bangkit dan memerintahkan Yu Hao untuk menyuruh Jing Xuan menunggu di perpustakaan. Jing Xun bahkan tidak boleh masuk kemari tanpa seizinnya. Xiao Tan cemberut kesal mendengarnya.
"Kelak, kau tidak boleh tertarik pada pria lain selain aku." Tegas Lian Cheng. Xiao Tan pun tersipu malu dibuatnya.
Tapi Jing Xuan sudah melakukan apa yang Lian Cheng perintahkan. Dia menunggu di bawah gunung sesuai perintah Lian Cheng. Dan sesuai perkiraan Lian Cheng, dia melihat sekelompok pembunuh memegangi sebuah kotak perak.
"Aku mengawasi mereka dengan seksama. Coba tebak, kotak perak itu berakhir di mana?"
"Kediaman Pangeran Pertama."
__ADS_1
Tepat sekali! Bagaimana bisa Lian Cheng menebak sampai sejitu itu.
Lian Cheng sudah memperkirakannya sejak dia mendengar Yi Huai menyebut Mutiara Penekan Jiwa. Dia yakin kalau Yi Huai akan bergerak.
"Kali ini, akhirnya aku punya keuntungan. Sepertinya Ayahanda akan menghukumnya."
"Kakak ke-8 sungguh pandai melihat ke depan."
Lian Cheng punya ide lain lalu memerintahkan Jing Xuan untuk menyebarkan berita tentangnya dan Tan Er yang diserang dan sekarang nyawa Tan Er dalam bahaya. Semakin heboh beritanya, semakin bagus.
"Dan kau juga harus membuat seakan para pembunuhnya adalah orang suruhan Yi Huai."
"Jangan khawatir, Kakak ke-8."
Saat Tan Er terbangun, dia bingung merasakan kaki dan punggungnya yang sakit. Dia jadi cemas, apa terjadi sesuatu pada Xiao Tan. Tak ingin membuatnya cemas, Jing Xin meyakinkan kalau Xiao Tan baik-baik saja.
__ADS_1