CINTA ATAU TAKDIR

CINTA ATAU TAKDIR
2


__ADS_3

Tempat itu tampak tenang dan sunyi. Tapi kemudian, angin berhembus dan mata tajam pria itu melihat dedaunan terjatuh. Entah kenapa tiba-tiba dia tersenyum.


Pria itu meletakkan batu caturnya di papan dengan santai saat tiba-tiba saja sekelompok pembunuh melayang turun dari atas pohon-pohon bambu. Para pembunuh menyapa pria itu sebagai 'Pangeran ke-8' dan mengancamnya untuk menyerahkan Perintah Kerajaan sekarang juga.


Pangeran ke-8 tetap santai. "Yu Huo, sepertinya mereka meremehkanmu."


"Yang Mulia, bagaimana anda akan menghukum mereka?"


"Papan catur ini penuh cela. Terserah kau saja."


Yu Huo pun langsung menghunus pedang dan menyerang para pembunuh itu seorang diri tanpa ampun, sementara Pangeran ke-8 tetap santai melanjutkan permainan caturnya sambil bergumam.

__ADS_1


"Mundur selangkah. Arahkan musuh ke dalam perangkap. Menang dan kalah tidak diputuskan dalam satu saat. Jika kau ingin menang, kau harus memahami kelemahan musuhmu. Aku sudah cukup melihat permainan catur ini."


Yu Huo jadi makin bengis menyayat dan menancapkan pedangnya ke tubuh para pembunuh itu. Tiba-tiba seorang pembunuh muncul dari dalam sungai. Telinga tajam Pangeran ke-8 dengan cepat mendengar kemunculannya.


Yu Huo menancapkan pedangnya pada pembunuh terakhir, tapi pembunuh itu malah memegangi tangannya kuat-kuat. Saat itulah, Yu Huo baru menyadari si pembunuh yang muncul dari sungai itu.


Tapi tak perlu khawatir. Pangeran ke-8 langsung menggunakan kekuatan tenaga dalamnya yang sangat hebat untuk melemparkan batu-batu caturnya bak peluru yang menembus kepala si pembunuh... dan akhirnya kita melihat wajah sang pangeran seutuhnya dan namanya adalah Mo Lian Cheng


Yu Huo tanya apakah para pembunuh ini perlu diinterogasi. Tapi karena para pembunuh ini sudah melihat kemampuan Lian Cheng yang sebenarnya, Lian Cheng hanya memberikan suatu isyarat. Hmm, sepertinya dia menyuruh Yu Huo membunuh mereka semua.


Kesempatan, Tan Er pun berniat mau kabur dengan melompati pagar tembok yang tinggi dan menyuruh Jing Xin untuk mencarikannya tangga. Tapi Jing Xin bilang kalau di sini tak ada tangga.

__ADS_1


Tan Er tak percaya mendengarnya, masa tangga darurat saja tak ada? Bagaimana kalau sampai ada kebakaran? Wah, kesadaran mereka terhadap keselamatan sangat buruk!


Tak ada tangga, dia pun mencoba berpijak ke batu. Tapi Jing Xin panik memegangi kakinya erat-erat. Heran dia, kenapa sikap Tan Er benar-benar aneh. Biasanya Tan Er tidak seberani ini.


Dia tak pernah meninggalkan rumah ini, bahkan menatap mata para pelayan saja dia tidak pernah berani. Tapi kenapa sekarang malah dia seberani ini sampai ingin melarikan diri.


Tan Er tambah kesal, tidak terima diremehin. Dulu saat dia masih jadi agen real estate, bosnya tidak memberinya kunci kantor sampai dia harus memanjat masuk. Jangankan pakai sepatu flat, pakai sepatu high heels saja dia bisa memanjat masuk. (Hah? Maksudnya? Apa dia berasal dari dunia masa depan?)


Tidak bisa mencapai ujung tembok, Tan Er punya ide untuk pakai tumpukan keranjang jadi pijakan. Jing Xin tambah panik berusaha mencegahnya dan memohon padanya untuk menghentikan perbuatannya ini. Tuan bisa menghajarnya sampai mati nanti.


Tan Er masa bodoh dan nekat memanjat tumpukan keranjang itu.

__ADS_1


__ADS_2