
Saat dia melipat tangannya kedalam lengan bajunya, dia mendapati lencana pemberian Lian Cheng ada di dalamnya. Untuk apa Tan Er membawa benda ini keluar? Apa dia mau menjualnya?
Jing Xin menyangkal, tapi dia ragu untuk menjelaskan alasannya yang sebenarnya. Mereka pun terus melanjutkan perjalanan.
Di tengah jalan, Xiao Tan melihat ada pegadaian. Xiao Tan langsung antusias, bagaimana kalau mereka gadaikan saja lencana ini dengan beberapa perak? Dengan begitu, mereka tidak akan kelaparan jika terjadi sesuatu.
Jing Xin melarang dan akhirnya dia mau juga jujur menjelaskan kalau Tan Er berniat memberikan benda itu pada Pangeran Yi Huai. Dia harus bilang apa kalau Xiao Tan menggadaikan lencana itu?
Bagaimana kalau Xiao Tan membantu Tan Er memberikan lencana itu ke Yi Huai. Xiao Tan menolak. Kalau Lian Cheng sampai tahu, bisa-bisa Lian Cheng bakalan mengulitinya dan memakannya hidup-hidup.
Lagipula, dia hidup dari Lian Cheng. Lian Cheng juga tak pernah memperlakukannya dengan buruk, dia jauh lebih baik daripada orang-orang di keluarga Qu. Selain itu, Xiao Tan tidak mau melepaskan kesempatan untuk jadi kaya ini.
Melihat Jing Xin masih cemberut, Xiao Tan berusaha membujuknya dengan menawarkan bagi untung 80:20 atau 70:30? Jing Xin cemberut tidak mau.
__ADS_1
"Kau ini bodoh sekali! Apa hal yang paling penting? Bagi wanita, yang paling penting adalah uang. Kalau kau kaya, takkan ada yang berani menindasmu. Ayo!" Xiao Tan langsung masuk ke pegadaian itu tanpa menyadari kalau dia sedang diawasi oleh Yu Hao.
Yu Hao langsung melaporkan masalah itu ke Lian Cheng yang jelas heran mendengarnya, apa Tan Er benar-benar tidak tahu betapa pentingnya lencana itu? Atau dia berniat memberikannya ke Yi Huai melalui pegadaian itu.
Yu Hao rasa tidak. Tak ada seorangpun yang mengambil lencana palsu itu sedari tadi. Dia juga sudah menyelidiki latar belakang pemilik pegadaian itu dan dia tak ada hubungan apapun dengan orang-orangnya Yi Huai.
Lian Cheng puas mendengarnya. Kalau begitu dia hanya perlu melakukan langkah terakhir. Setelah itu dia bisa menebus malam pejgantinnya.
"Yang Mulia, kau mengagetkanku setengah mati."
"Kenapa? Apa karena kau melakukan sesuatu di belakangku?"
"Memangnya apa yang sudah kulakukan?"
__ADS_1
"Mana Lencana Komando Kerajaan yang kuberikan padamu?"
"Kau kan sudah memberikannya padaku, jadi aku punya hak untuk membuangnya. Sebagai pangeran, bukankah kau harus menepati ucapanmu? Lagipula itu cuma sebatang emas."
"Apa kau tahu kegunaan lencana itu? Lencana itu dibuat sendiri oleh mendiang Kaisar. Lencana itu bisa memerintahkan pasukan. Jika lencana itu jatuh ke orang yang salah, apa kau tahu apa konsekuensinya?"
"Ap-apa?"
"Dibunuh tanpa ampun. Karena kau sudah memberikannya pada orang lain, jadi kenapa juga aku harus membiarkanmu hidup?"
Xiao Tan sontak panik ketakutan mendengarnya dan cepat-cepat menyodorkan semua perhiasannya pada Lian Cheng. Dia kembalikan semuanya.
"Aku memang salah, maafkan aku! Aku sungguh tak tahu kalau lencana itu sangat penting. Aku hanya berpikir kalau itu emas murni, jadi kugadaikan. Tan Er benar-benar salah. Yang Mulia, aku akan menebusnya sekarang juga."
__ADS_1