
Tepat saat itu juga, Xiao Tan kembali dan langsung bingung mendapati dirinya di sini dan bukannya bertemu Yi Huai. Dan kenapa hatinya terasa begitu sakit dan kenapa dia tidak bisa mengendalikan air matanya?
"Kenapa aku merasa begitu lemah? Apa yang terjadi pada Tan Er?"
Melihat kedua wanita itu, Xiao Tan langsung bisa menduga. Jangan-jangan ini ulahnya Yi Huai? Tega sekali Yi Huai melakukan ini pada Tan Er yang begitu mencintainya.
"Apa yang harus kulakukan? Cheng Cheng, di mana kau?"
Hujan sudah reda saat gerbang kediaman keluarga Qu akhirnya dibuka oleh Lian Cheng. Dia langsung menyelimuti Xiao Tan dengan jubahnya.
Nyonya Qu sontak pura-pura bego tak tahu kenapa Tan Er masih berlutut di sana dan sok baik meminta Tan Er bangkit biar dia tidak sakit.
Nyonya Qu menawarkan tangannya, tapi Lian Cheng langsung kesal menampiknya, "Jauhkan tangan kotormu darinya!"
Dia lalu membantu Xiao Tan bangkit dan memperingatkan Nyonya Qu bahwa Tan Er adalah istrinya.
__ADS_1
"Jika kau berani melakukan hal ini lagi, aku tidak akan menjamin kau masih bisa hidup!"
Xiao Tan hanya diam, tampak begitu terpana melihat perhatian Lian Cheng padanya. Nyonya Qu cuek dengan gaya sombongnya.
Tuan Qu muncul tak lama kemudian sambil pura-pura berbaik hati mengundangnya masuk. Lian Cheng menolak, pintu kediaman keluarga Qu terlalu tinggi, dia tidak bisa masuk.
Dia langsung menyeret Xiao Tan pergi dari sana dan memperingatkan mereka. "Apa yang istriku alami hari ini, aku pasti akan membuat kalian membayarnya dua kali lipat!"
Mereka pun melangkah keluar dari sana. Tuan Qu sontak menyudahi aktingnya sambil mendengus sinis. Perkara hari ini tidak menyia-nyiakan usaha mereka.
Begitu kembali ke rumah, Xiao Tan buru-buru melepaskan baju luarnya dan menyelimuti dirinya dengan selimut lalu menyuruh Jing Xin untuk membawakannya baju ganti. Lian Cheng pun menyuruh Jing Xin untuk menyiapkan sup jahe.
Lian Cheng cemas, "Apa kau terluka?"
"Tidak, tapi aku sangat kedinginan."
__ADS_1
Lian Cheng pun dengan manisnya menyeka wajah Xiao Tan. Tersentuh dengan perhatian Lian Cheng, Xiao Tan langsung mengecp keningnya... tepat saat Jing Xin kembali dan dia langsung balik badan dengan senyum geli. "Yang Mulia, sup jahenya sudah siap."
Xiao Tan sontak malu pada Jing Xin. Lian Cheng mengambil alih sup itu lalu menyuapkannya ke Xiao Tan. Tapi baru mencicipi sesendok, Xiao Tan langsung protes tak mau meminumnya lagi. Minuman apaan ini? Rasanya seperti masakan dari neraka.
"Kalau kau tidak mau dirawat tabib istana ataupun akupuntur, maka kau harus minum ini."
Xiao Tan akhirnya mengalah. Menjaga kesehatan diri sendiri jauh lebih penting. Dia berpikir kalau dia tidak boleh sakit. Tidak gampang mendapatkan cowok setampan ini, jadi dia tidak boleh membiarkannya direbut wanita lain. Dia bisa rugi besar nanti kalau sampai itu terjadi.
Lian Cheng heran dengan tatapan Xiao Tan. Dia sedang memikirkan apa? Xiao Tan menyangkal lalu buru-buru mengambil mangkok itu dari Lian Cheng dan meneguk semuanya sambil menutup hidung kayak anak kecil.
"Hari ini kenapa kau pergi ke kediaman Qu?"
Xiao Tan bingung bagaimana menjelaskannya dan akhirnya beralasan kalau itu karena si tua Nyonya Qu itu, dia dipanggil ke sana buat disiksa.
"Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Orang tuaku tidak peduli padaku, jadi aku harus peduli pada diriku sendiri."
__ADS_1