CINTA ATAU TAKDIR

CINTA ATAU TAKDIR
50


__ADS_3

Si pembunuh itu langsung berlutut di hadapan Tuannya yang kesal karena dia gagal membunuh Xiao Tan. Si pembunuh itu meminta maaf dan memanggil Tuannya sebagai 'Istri Pangeran'... karena ternyata dia adalah Pan Er.


Dia tidak mau tahu, pokoknya hari ini harus ada kepala yang terpotong. Kalau bukan kepalanya Xiao Tan, maka dia memotong kepala si pembunuh.


Xiao Tan sedang mandi. Jing Xin hendak membawakan air hangat tambahan, tapi langkahnya terhenti saat melihat Lian Cheng ada di depan pintu kamar mandi.


Dia buru-buru melarang Jing Xin menyapanya dan menuntut Jing Xin untuk menyerahkan timba air itu padanya dan mengusir Jing Xin.


Dia lalu masuk diam-diam. Mengira yang datang Jing Xin, Xiao Tan santai saja menyuruhnya untuk menambah air panasnya. Lian Cheng menyiramkan air hangat itu dengan lembut.


Tapi kemudian Xiao Tan malah menggerutu mengasihani Yi Huai yang tadi malah diejek padahal dia sudah menyelamatkannya. Cemburu, Lian Cheng langsung menyiram air hangatnya dengan kasar sampai Xiao Tan protes kesakitan.


"Aku akan memandikanmu hari ini," bisik Lian Cheng tiba-tiba sampai Xiao Tan langsung menjerit saking kagetnya. Dasar baj*ngan! Keluar!


"Kau istriku, kenapa aku harus pergi? Aku ingin mandi bersamamu."

__ADS_1


"Kalau kau tidak pergi, aku akan berhenti mandi!"


Tapi tiba-tiba terdengar suara penyusup di luar. Lian Cheng secepat kilat, mematikan cahaya kamar dan membungkus Xiao Tan dengan jubah mandi.


Suara pedang beradu, terdengar nyaring dari luar. Tapi Lian Cheng meyakinkan Xiao Tan untuk tidak takut, dia sudah menyuruh Yu Hao berjaga di luar dan Jing Xin ada di kamarnya.


"Aku tidak takut."


"Aku pasti akan melindungimu. Siapapun yang menyakitimu adalah musuhku."


Keesokan paginya, Yu Hao dan beberapa pelayan mempersiapkan keperluan bepergian untuk Lian Cheng dan Xiao Tan.


Xiao Tan keluar sambil ngomel-ngomel kesal karena dipaksa keluar sepagi ini, apa Lian Cheng tidak ingat kalau kemarin dia hampir terbunuh dua kali?


Jing Xin dengar, Selir Yun dan Selir Yi kemarin mendatangi Lian Cheng sambil menangis dan marah-marah, tapi Lian Cheng sama sekali tidak menganggap mereka.

__ADS_1


"Dia sangat tidak adil. Aku ingin sekali mereka pergi menggantikanku. Bagaimana bisa istri pangeran malah bangun lebih pagi daripada agen real estate?"


Jing Xin mencoba menenangkannya dan mengajaknya masuk ke tandu saja sekarang. Xiao Tan terpaksa menurut dengan wajah cemberut.


Lian Cheng keluar tak lama kemudian dengan membawa sebuah kotak dan mereka pun berangkat ke sebuah rumah di tengah hutan.


Xiao Tan malas masuk dan mencoba menawarkan bantuan pada Yu Hao yang sedang memindahkan barang-barang. Tapi Yu Hao menolak. Jing Xin menyarankannya untuk masuk saja dan menemani Lian Cheng, mereka tidak butuh bantuannya di sini.


"Kudengar Yu Hao bilang kalau Pangeran belum pernah membawa siapapun kemari. Kau yang pertama. Sepertinya Pnageran sangat tulus padamu."


Xiao Tan tentu saja senang mendengarnya. Tapi tiba-tiba saja dia merasakan hawa aneh. Bahkan beberapa pepohonan di depannya, tampak bergoyang aneh padahal tak ada angin. Gara-gara percobaan pembunuhannya kemarin, dia jadi lebih sensitif dalam merasakan bahaya.


Dia langsung menyeret Jing Xin menunduk ke dekat tandu. Dia yakin ada orang yang mengawasinya di depan sana.


Lian Cheng dan Yu Hao baru saja keluar saat tiba-tiba dua buah anak panah melesat tepat ke arah Xiao Tan.

__ADS_1


__ADS_2