CINTA ATAU TAKDIR

CINTA ATAU TAKDIR
40


__ADS_3

Xiao Tan dan kedua selir datang tak lama kemudian. Tapi Xiao Tan terus menggerutu sebal, "Apa yang bisa dilihat di sini sampai ngotot menyuruhku datang. Membosankan sekali!"


Selir Yun punya ide. Jika menurut Xiao Tan latihan panahan itu membosankan, bagaimana kalau menambahkan sesuatu untuk membuatnya menyenangkan. Tapi idenya ini bisa dilakukan hanya jika Lian Cheng dan Xiao Tan bekerja sama.


"Bagaimana kalau kita minta Istri Pangeran untuk menggigit sebatang mawar di mulutnya sebagai target? Jika kena maka itu menandakan keberuntungan yang sangat baik."


What?! Xiao Tan jelas takut, apalagi mengingat tangan Lian Cheng terluka. Xiao Tan langsung protes, apa Selir Yun melakukan ini untuk mengujinya?


Selir Yun menyangkal dan beralasan kalau dia hanya mengajukan suatu ide supaya Xiao Tan tidak merasa bosan dan semua orang bisa bersenang-senang.


"Lagipula, Istri Pangeran tidak perlu cemas. Kemampuan panahan Pangeran kita adalah yang terbaik di Dong Yue. Apakah Istri Pangeran meragukan kemampuan panahan Pangeran kita?"


Tetap saja Xiao Tan masih takut, bagaimana kalau lain hari saja?


Selir Yun jelas curiga, kenapa harus lain hari? Apa hari ini mereka memiliki ketidaknyamanan? Xiao Tan diam, tak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


"Tidak masalah untuk mencobanya hari ini," Lian Cheng meyakinkan Xiao Tan.


Xiao Tan akhirnya mengalah. Tapi dia punya syarat. Dia yang maju duluan untuk mendemonstrasikannya. Setelah itu, kedua selir juga harus gantian jadi target. Siapapun yang menolak, berarti dia meremehkan Pangeran.


Xiao Tan lalu mengambil sebatang bunga lalu menyingkirkan Selir Yun dari hadapannya dan berjalan ke papan target sambil menggigit bunganya. Lian Cheng pun mulai menargetnya.


Xiao Tan gugup. Dalam hatinya dia memohon agar tangan Lian Cheng tidak gemetar, dia janji takkan lagi memanggilnya Niang Pao lagi.


Lian Cheng menarik busurnya, matanya fokus menatap targetnya sebelum kemudian melepaskan anak panahnya.


Anak panah itu pun melesat... melewati bunganya dan menancap tepat di papan target. Fiuh! Xiao Tan selamat. Lian Cheng pun lega.


Selir Yun langsung cemberut menyadari sekarang gilirannya. Dengan sok manis dia berkata pada Lian Cheng bahwa dia rela meletakkan hidupnya di tangan Lian Cheng.


Tapi yang tidak disangkanya, Lian Cheng malah meminta Xiao Tan yang menembak kali ini. Pfft! Xiao Tan setuju banget, senang malah.

__ADS_1


"Yang Mulia, anda tidak boleh melakukan itu." Protes Selir Yun panik.


"Kenapa? Kau mau melawan perintahku?"


"Aku tidak berani. Hanya saja Istri Pangeran..."


"Kalau kau berani mengucap sepatah kata lagi, maka akan jadi dua tembakan."


Terpaksalah, Selir Yun hanya bisa memohon belas kasihan Xiao Tan sebelum kemudian pergi ke papan target sambil menggigit bunganya dengan ketakutan.


Lian Cheng membantu Xiao Tan naik ke papan. Dengan lembut dia meletakkan tangan Xiao Tan ke busurnya dan geli melihat Xiao Tan yang bergerak-gerak terus dan tampak begitu antusias dengan targetnya.


"Jangan takut. Aku akan membantumu melampiaskan kemarahan ini," bisik Lian Cheng.


Mereka mulai menarik busurnya lalu melepaskannya... dan menancap tepat di kondenya Selir Yun. Hahaha! Selir Yun shock berat lalu pingsan di tempat.

__ADS_1


Malam harinya, Xiao Tan memeuk tiang rnjangnya sambil murung menatap bulan yang malam ini kelihatan sangat bulat, satu-satunya cahaya paling terang tanpa lampu jalan atau lampu reklame. Xiao Tan benar-benar merindukan dunia modernnya.


__ADS_2