
Jing Xin berusaha menghiburnya. Dia memberitahu kalau sebentar lagi akan diadakan festival musim gugur, semua istana dan rumah sedang mempersiapkan kue bulan, apa Xiao Tan mau mencicipinya?
Tapi membicarakan kue bulan malah membuat Xiao Tan semakin sedih, teringat akan kenangannya bersama kedua orang tuanya. Dulu, mereka selalu merayakan festival kue bulan bersama-sama setiap tahun.
"Ayahku biasanya memasak hidangan terbaiknya. Setelah makan malam, kami akan naik ke atap rumah untuk melihat bulan. Tapi setelah itu, karena pekerjaanku, kami tak pernah lagi merayakannya bersama-sama lagi. Jika mereka tahu kalau mereka takkan pernah bisa melihatku lagi, mereka pasti akan sangat sedih."
"Xiao Tan, apa mungkin kau tidak betah tinggal di istana Pangeran ini, makanya kau ingin kembali ke kediaman Qu? Apa kau rindu rumah?"
"Aku hanya lelah karena latihan panahan tadi pagi. Aku mau istirahat sekarang. Kau boleh pergi."
Jing Xin pun pergi. Menatap rnjangnya dan ukiran puisinya, Xiao Tan mendadak punya ide. Dia pun langsung menyembah ukiran puisi itu.
"Sudah tak ada gunanya untuk memahami makna dibalik kata-kata itu. Aku hanya bisa berdoa semoga segalanya menjadi kenyataan asalkan seseorang tulus."
Xiao Tan pun bersujud 3 kali, memohon pada ranjang antik itu untuk mengembalikannya ke dunianya. Dia rela jadi lebih gemuk 10 kilo, dia rela membiarkan siapapun mendapatkan predikat top sales asalkan dia bisa kembali. Tapi tidak ada yang terjadi, dia masih di sana.
__ADS_1
Pada saat yang bersamaan, Lian Cheng berjalan-jalan sambil memikirkan istrinya itu. "Qu Tan Er, kau itu dewa atau orang suci? Dari mana kau berasal? Mungkinkah ada dunia lain selain Dong Yue?"
Xiao Tan berbaring sedih di rnjangnya sampai akhirnya dia ketiduran. Tapi tak berapa lama kemudian, Lian Cheng sudah ada di sana dan menidurkan Xiao Tan di pngkuannya. Xiao Tan tiba-tiba ngelindur dalam tidurnya, "Tumis suwir babi dengan saus yuxiang..."
Saat Lian Cheng membelai rambutnya, Xiao Tan menggerutu lirih, mengira ibunya yang menyenth rambutnya. Lian Cheng terpesona memperhatikan wajah Xiao Tan, "Bulu matamu cukup panjang."
"Kau memberiku makan terus. Wajahku jadi bulat," gerutu Xiao Tan.
"Wajahmu sebulat bakpao, pasti menderita sekali."
Xiao Tan merba bantalnya. Seketika itu pula dia menyadari ada yang aneh dan langsung terbangun. "Kau... kau... kau... kau... kau!!!"
"Kenapa kau ada di sini? Seperti penjahat saja!"
"Ini kediamanku."
__ADS_1
Tetap saja, bagaimana bisa Lian Cheng dengan santainya masuk ke kamar orang lain tengah malam begini?! Lian Cheng santai, Xiao Tan kan istrinya.
"Kau bersikap seperti baj*ngan dan kau bahkan punya alasan?"
"Kau membuat kakiku kesemutan. Bagaimana kau akan membayarnya?"
"Aku tidak percaya kau tidak menyntuh kepalaku dan (kepalaku) berakhir begitu saja di pahamu!"
"Dikunjungi olehku di malam hari itu keberuntungan bagimu."
"Kekanak-kanakan!"
"Kau tidak boleh mengataiku kekanak-kanakan."
"Orang yang melarang orang lain mengatakan dirinya kekanakan adalah orang yang paling kekanakan." Kata Xiao Tan sambil menyodok pundak Lian Cheng.
__ADS_1
"Kalau aku kekanakan, maka kau adalah anak bandel." Balas Lian Cheng sambil menyodok dahinya Xiao Tan.
Xiao Tan langsung menampik tangannya Lian Cheng dengan kasar sampai Lian Cheng meringis kesakitan. Xiao Tan sontak cemas dan merasa bersalah padanya, dia lupa kalau Lian Cheng terluka. Apa Lian Cheng baik-baik saja?