CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 10 Cinta Terlarang


__ADS_3

Aldi melepas jasnya dan memakaikannya pada Claries. Sepanjang perjalanan pulang Claries tidak mau menatap Aldi. Ia memalingkan wajahnya memandang jalanan kota melalui kaca mobil yang di kendarai Adrian.


Aldi sesekali menatap wajah Claries yang rerlihat angkuh karena sedang marah besar padanya.


Sesampainya di rumah utama Claries langsung berlari menuju kamarnya tanpa mempedulikan Aldi yang menatapnya dengan diam.


"Lihat dia Adrian, berani sekali dia marah padaku" kata Aldi tersenyum.


"Adrian kau boleh pulang"


"Baik pak, kunci mobil saya letakkan di meja kerja bapak"


"Oke Adrian"


Aldi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia duduk di sofa melepas kemejanya. Aldi teringat kemarahan Claries padanya. Pukulan Claries didadanya yang membuat Aldi ingin tertawa.


"Dokter Claries....." gumamnya sambil merebahkan diri di sofa dan memandang langit-langit kamarnya.


Paginya Aldi sempatkan melihat istrinya dan mengobrol sebentar dengan Liza yang terbaring entah mendengarnya entah tidak. Claries masuk ke dalam kamar Liza. Ia melihat Aldi duduk di sana dan Claries mengurungkan Niatnya.


Aldi tersenyum kecil melihat perangai Claries. Ia hanya menggeleng kepala. Tapi sejujurnya ia sendiri bingung kenapa ia begitu melindungi Claries.


Claries menemui Adrian di lantai bawah dan menanyakan ulah mereka kemarin yang brutal terhadap Kevin.


"Maaf dokter saya tidak berwenang menjelaskan"


"Aku tidak peduli, kalau kau tidak menjelaskan padaku maka aku akan membuat bos mu dalam bahaya seperti istrinya!"


Adrian terlihat berpikir lalu ia menjelaskan pada Claries.


"Kevin adalah ayah Rio"


"Apa?!" Claries langsung pucat ia tidak tahu harus bicara apa. Jika Kevin adalah ayah Rio maka yang menyebabkan Mitha jadi depresi adalah Kevin. Dan ia tidak bertanggung jawab terhadap Rio. Pantas Aldi marah besar dan menghalangi kedekatannya dengan Kevin.


Claris langsung pergi tanpa bicara apapun pada Adrian. Ia terlihat bingung dan terkejut bukan main.


Aldi berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah untuk sarapan. Claries tak terlihat di meja makan, Pak mun melayani Aldi menyediakan salad segar untuk Aldi. "Dimana Claries?"


"Dokter Claries sudah berangkat pak" kata Adrian yang pagi itu juga ikut sarapan bersama.

__ADS_1


"Apa dia membawa bekal sarapanya?"


"Benar pak"


"Adrian kau cari tahu apa Kevin hari ini masuk kerja atau tidak dan laporkan padaku jika ia mendekati Claries"


Pak Han, Yaya dan Adrian terkejut mendengar perintah Aldi barusan. Aldi menunjukan jika ia peduli pada Claries. Ini tidak seperti biasanya.


"Baik pak" jawab Adrian.


"Rio sudah berangkat sekolah Ya?"


"Sudah pak mas Rio tadi ikut jemputan"


Aldi berjalan meninggalkan meja makan menuju halaman depan. Adrian membukakan pintu mobil untuk Aldi. "Majukan meeting pagi ini, nanti siang saya mau ke tempat Mitha"


"Baik pak"


***


Claries menemui Fani di perusahaannya. "Kenapa kau tidak bilang mau kemari? kakak bisa menjemputmu" Fani memeluk hangat adik kesayangannya.


"Kau baik-baik saja?" Fani terlihat mencemaskan adiknya. "Aku baik kak"


"Masih sama kak"


"Aku ingin sekali menghajar si brengsek itu, apa tujuannya membuatmu bertanggung jawab atas semua ini?"


"Sudahlah kak, apa kau sibuk?"


"Ya aku ada meeting dengan kolegaku pagi ini, dan kau tahu siapa dia?"


"Siapa?"


"Aku bekerja sama dengan perusahaan Zaman Group. Itu berarti perusahaan milik keluarga Aldi Ibrahim Zaman"


"Sempit sekali dunia ini"


"Hahaha kau jangan cemas, ia tidak akan berani macam-macam dengan kakak"

__ADS_1


"Kau tidak ke rumah sakit?"


"Aku libur hari ini, aku mau berkunjung ke rumah tante Luna"


"Baiklah sampaikan salam kaka pada tante Luna dan om Athar"


Claries pergi dengan taxi menuju rumah Luna dan Athar. Claries mampir ke toko kue membeli kue bolu marmer kesukaan Luna.


Taxi sampai di depan kediaman Luna yang berpagar tinggi. "Silahkan non, bu Luna sudah menunggu di ruang tengah" kata seorang satpam yang membukakan pintu gerbang.


Claries di sambut oleh Luna di depan pintu. Tantenya yang satu itu memang selalu terlihat cantik dan menawan. "Hai sayang apa kabar?" Luna memeluk dan mencium pipi Claries. Melihat Claries ia merindukan Gavin dan Bianca. "Ini untuk aunty" Claries menyerahkan bingkisan kue bolu pada Luna.


"Oh kamu masih ingat kesukaan aunty ya"


"Ancle Athar dimana?"


"Ancle Athar ke luar negeri mengurus usahanya aunty di rumah sama Dion"


Dion adalah anak Luna dan Athar usianya dua tahun lebih muda dari Claries. Dion sedang menempuh pendidikan dokter spesialisnya.


"Aunty dengar kamu tinggal di rumah Aldi Ibrahim? bagaimana perkembangan istri Aldi?"


"Masih sama aunty"


"Kenapa? kamu terlihat sedih?"


"Aku bingung aunty, aku ingin cepat keluar dari rumah Aldi dan aku tidak mau ada urusan sama dia lagi"


"Kenapa sayang?" tanya Luna. "Apa dia berbuat kurang ajar padamu?"


"Tidak tapi sebaliknya"


"Maksudnya?"


"Dia pria yang baik aunty, dia tidak sejahat yang aku pikir. Bahkan ia juga melindungiku dari penipuan pria yang dekat denganku selama ini. Hari demi hati aku melihat sisi baiknya dan......"


Claries tidak bisa melanjutkan ucapannya. Luna tersenyum dan mengusap rambut Claris. Keduanya sedang duduk santai bersandar sofa sembari menikmati dua cangkir kopi dan sepiring bolu marmer yang gurih dan lezat.


"Kau jatuh cinta dengannya" Luna sudah bisa menebak perasaan Claries. "Karena dia pria beristri jadi kau mau menghindarinya"

__ADS_1


Air mata Claries menetes. Ia tidak menyangka akan jatuh cinta pada pria menyebalkan yang membuat karirnya berantakan. Membuat hubungannya dengan Kevin hancur. Tapi ia juga menyelamatkan Claries dari bahaya pria penipu. Ia merawat Rio dengan baik seperti seorang ayah kandung pada anaknya, ia bertanggung jawab pada adiknya Mitha.


Dan dia seorang pria beristri.


__ADS_2