
Di rumah sederhana Liona semua anggota keluarga tampak sibuk menyiapkan hidangan untuk nanti syukuran.
Liona membantu ibunya di dapur sementara ayah dan adik-adiknya sibuk menata ruangan agar lebih cantik dan terlihat luas.
"Apa nanti nak Fani bisa datang?"
"Ku rasa pak Fani akan datang bu" Ibunya terlihat senang. Hanya saja Liona cemas jika Fani akan datang bersama Tiara. Suatu hari Liona akan berbicara pada ibunya agar tidak berharap apapun pada bosnya itu.
Mereka harus tahu diri, perbedaan yang mencolok serta kelas yang tentu berbeda antara keluarganya dengan Fani tidak mungkin membuat mereka memiliki hubungan lebih.
Selama ini Fani sudah baik memberi kesempatan pada Liona bekerja di perusahaannya serta membantu biaya kuliahnya yang juga tidak murah.
Wajar jika ibunya berharap lebih karena Fani pria yang sangat baik. Tapi mereka sungguh berbeda bagai bumi dan langit. Liona sadar akan hal itu.
"Liona kau bersiaplah dulu, sebentar lagi tamu akan datang"
"Iya bu" Liona pergi ke kamarnya dan berganti pakaian. Ia merias wajahnya tipis-tipis. Rambut pendek sebahunya di biarkan tergerai indah.
Liona mengenakan dress panjang berwarna merah muda.Ia terlihat anggun dan cantik. Tamu sudah mulai berdatangan sementara Fani belum juga tiba.
Liona tidak lagi berharap Fani datang, ia mengira pasti Fani ada urusan penting sehingga tidak bisa mampir.
__ADS_1
"Eh nak Fani...." terdengar suara ibu menyambut Fani di luar. Liona bergegas beranjak dari kamarnya. Ia melihat Fani datang seorang diri.
Fani membawa buket bungan cantik untuk Liona sebagai ucapan selamat. Serta ia juga membawa bingkisan makanan yang cukup banyak untuk di bagi-bagi di acara syukuran itu.
"Dimana Liona bu...."
Liona segera menemui Fani, ia menerima buket bunga itu.
"Terimakasih pak" kata Liona.
"Sama-sama, kau terlihat cantik dengan baju itu" puji Fani yang membuat Liona tersipu. Ibu mengamati keduanya lalu beranjak pergi.
"Setelah ini kau akan kemana Liona? maksudku dokter Liona?"
"Saya melamar kerja di Medina Hospital pak"
"Wah bagus sekali itu, apa aku boleh membantumu?"
"Tidak, terimakasih tapi tidak perlu pak. Saya adalah seorang dokter yang bekerja berhubungan langsung dengan manusia. Jadi saya ingin di terima bekerja karena kemampuan saya. Ketika menangani pasien nanti saya bisa diandalakan dan bekerja dengan baik atas kempuan saya"
"Hebat kau dokter Liona..."
__ADS_1
Posel Fani berbunyi, ada telepon dari Tiara. Tapi Fani tidak menerima panggilan telepon itu. Ia menarik lengan liona.
"Ikut bersamaku sebentar aku ada kejutan untukmu"
"Tapi...pak"
"Ayolah.....bu kami pergi sebentar ya" kata Fani pada ibu Liona.
"Iya hati-hati....pulangnya jangan malam-malam nak Fani"
"Siap bu..."
Fani mengendarai mobilnya ke sebuah tempat. Ia menyiapkan kejutan untuk Liona disana. Di atap sebuah restoran mewah Fani duduk bersama Liona.
"Lihatlah ke langit itu" tunjuk Fani. Tak berapa lama ada kembang api yang sengaja di nyalakan, meletup di langit malam dan warnanya terlihat indah. Liona terkesima memandang semua kejutan itu, Ia merasa benar-benar bahagia.
"Terimakasih banyak pak" bisik Liona sembari menatap Fani.
Fani mengangguk dan menggenggam tangan Liona. Ia menatap wajah cantik Liona diantara sinar kembang api yang menyala. Fani mencium kening Liona.
Apa ini pertanda sesuatu antara Fani dan Liona....
__ADS_1