
"Tantangan apa pa?" Dylan sedang berada di ruang kerja ayahnya. Keduanya membahas tentang pendirian rumah sakit baru milik yayasan keluarga mereka.
"Dylan kamu pegang rumah sakit baru kita ini. Papa ingin lihat apa kamu mampu untuk mengelola rumah sakit baru kita dengan baik"
"Tapi pa, Dylan kan bukan dokter yang harus bisa mengelola rumah sakit baru kita"
"Siapa bilang harus berprofesi sebagai dokter dulu untuk bisa memiliki sebuah rumah sakit?"
"Dulu papa juga mendapat tantangan dari kakek untuk memajukan Medina Hospital. Nyatanya papa berhasil"
"Baik pa, Dylan akan memberi yang terbaik untuk bisnis kita. Termasuk memajukan rumah sakit baru kita"
"Bagus nak, dokter yang berkompeten di bidangnya akan menemanimu mengelola rumah sakit itu"
Dylan mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan ruang kerja papanya. Ia menuju kamarnya dan mulai berpikir apa yang harus ia mulai untuk pengelolaan rumah sakit itu.
Dylan mengetik email dan mengirimkannya pada Ryuji.
[@Dylan to @Ryuji
Segera adakan meeting pagi besok. Kita akan membahas tentang pengelolaan rumah sakit yang baru]
[@Ryuji to @Dylan
Baik tuan, akan segera saya persiapkan materinya]
Pagi jam tujuh tepat Dylan ditemani Ryuji sudah sampai di gedung utama perusahaan. Ia mengumpulkan direktur Medina Hospital dan beberapa dokter senior disana untuk ikut meeting. Termasuk dokter Claries ibu Dylan sendiri.
__ADS_1
"Saya membutuhkan saran dan bantuan dari dokter senior dan manajemen Medina Hospital untuk membantu memajukan rumah sakit baru kita" kata Dylan memulai meeting pagi itu.
Peserta meeting saling menatap satu sama lain. Mereka memberikan ide dan gagasan untuk memajukan rumah sakit dengan memberikan beberapa dokter muda yang kompeten dan sudah tidak di ragukan lagi.
Dokter Claries selaku petinggi Medina Hospital menyerahkan daftar nama dokter yang akan di pindah tugaskan ke rumah sakit baru.
Diantara deretan nama itu ada nama yang Dylan kenal. Yaitu dokter Amora.
"Ryuji apa aku tidak salah baca dengan satu nama ini?"
"Tidak tuan, anda benar. dokter Claries menyertakan dokter muda Amora untuk pindah tugas ke rumah sakit baru"
"Apa selain dia tidak ada dokter lain?"
"Maaf tuan muda, kalau mengenai hal itu lebih baik anda berdiskusi kembali dengan dokter Claries"
Meeting telah selesai, semua dokter udah kembali ke Medina Hospital termasuk dokter Claries.
"Baik tuan muda"
Sesampainya di Medina Hospital Dylan bergegas menuju ruang kerja dokter Claries. Ia sempat melewati beberapa dokter muda yang memandangnya dan saling berbisik sesuatu. Mereka membicarakan Dylan si tampan bergelimang harta, pewaris utama kerajaan bisnis Zaman Group.
Dylan tidak mengetuk pintu ia langsung masuk ke ruang kerja dokter Claries. di dalam ruangan sedang ada dokter Amora yang kebetulan di beri arahan oleh dokter Claries.
"Dylan? kenapa tidak mengetuk pintu dulu?"
"Ma...aku mau bicara penting" kata Dylan seraya memandang tajam ke arah Amora. itu artinya ia ingin dokter muda itu pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
"Bicaralah" kata dokter Claries lembut.
"Tapi ma aku mau bicara berdua"
"Dylan ini jam kerja dan mama sedang sibuk. Kau bisa langsung bicara sekarang dengan mama. Amora tidak masalah ia ada disini"
Mama.....justru aku ingin membicarakan soal dia. Kenapa mama tidak menyuruhnya pergi dulu!
"Maaf dokter Claries saya pergi dulu saja, nanti saya kembali lagi"
"Baiklah Amora"
"Baguslah kau sadar diri"
"Dylan....." dokter Claries menggeleng melihat perangai anak lelakinya itu.
"Ada masalah apa Dylan kau terlihat kesal?"
"Ma apa ini?" Dylan menyerahkan smart phone nya pada ibunya, Disana tertera daftar para dokter yang akan di pindah tugaskan. Dylan melingkari nama dokter Amora pertanda ia kurang setuju.
"Memang ada masalah apa dengan dokter Amora? ia berkompeten dan bisa membantumu mengelola rumah sakit"
"Apa tidak ada yang lain ma?"
"Dylan tidak biasanya kau tidak profesional? apa ada masalah pribadi antara kau dan dokter Amora?"
Dylan terdiam dan memberengut, ia meraih kembali ponselnya dan berpamitan pada ibunya.
__ADS_1
"Dylan pergi dulu ma"
"Hati-hati sayang, bekerja lah dengan semangat ya seperti kakek dan papamu" senyum mengembang di wajah cantik dokter Claries, ia mengakui selama ini Dylan terlalu ia manjakan sampai bersikap semena-mena. Tapi kali ini sudah menjadi tugasnya sebagai seorang ibu untuk tegas demi masa depan Dylan, anak lelaki satu-satunya.