CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 34 Pertemuan Claries dan Liza


__ADS_3

Siang itu Liza datang ke Medina Hospital. Ia mencari dokter Claries untuk berbicara secara pribadi. Tentu saja Aldi tidak tahu menahu soal kedatangannya ke rumah sakit mencari Claries.


"Selamat siang dokter Claries Hendrawan Ibrahim"


Claries terkejut ketika Liza menambahkan marga Aldi di belakang namanya. Tapi itu memang yang seharusnya, ia memang berhak menyandang marga Aldi Ibrahim.


"Ada apa kau mencari ku Liza?"


Liza menatap dokter Claries dari rambut hingga ujung kaki dan ia merasa begitu iri dengan wanita cantik itu.


Pantas saja Aldi tergila-gila padanya, dia sungguh cantik dan halus pembawaannya.


"Aku sudah tahu semua yang terjadi selama aku koma. Kau dan suami ku sudah menjalin hubungan gelap"


"Apa maksudmu hubungan gelap?! ku rasa kau salah paham Liza"


"Tidak dokter, aku mengerti semua, kau tahu Aldi hanya menyukaimu karena kecantikanmu itu. Aku rasa dia masih mencintaiku sepenuhnya"


Liza sangat percaya diri mengatakan Aldi sangat mencintainya. Hati kecilnya sendiri bahkan terasa pilu ketika ia mengatakan itu pada Claries. Kenyataannya pria itu tidak pernah mencintainya ia selalu menganggap Liza sahabat masa kecilnya saja.


"Liza dengarkan baik-baik, aku dan Aldi akan berpisah jadi kau tidak perlu menyakitiku lagi. Aku menikah dengannya karena kau Liza"


"Aku? sekarang kau bilang karena aku dokter?"


"Dia mengancam ku Liza..."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu apa kau tidak pernah sedikit pun menyukai Aldi? dia tampan, kaya dan berwibawa" Liza menyeringai. Seandainya ia bisa berdiri dari kursi roda itu, ia ingin sekali menarik rambut Claries saking bencinya.


"Tidak"


Liza terdiam menatap wajah Claries yang tanpa ekspresi apapun. Claries mengatakan tidak menyukai Aldi.


"Apa itu cukup? kurasa Aldi tidak tahu kau kemari, apa aku harus menelponnya?"


"Ayo suster Lina kita pergi dari sini!" kata Liza kesal setengah mati. Suster Lina mendorong kursi roda Liza dan membawanya pergi dari ruang kerja dokter Claries.


Claries merasa sakit, ia selaku terpojok. Cintanya begitu rumi. Ponselnya berbunyi, Claries meraihnya dari atas meja kerjanya.


Nama Aldi terpampang di layar ponselnya. Claries malas jika harus bicara dengan Aldi saat ini. Ia memilih tidak mengangkat telpon itu.


"Dokter Claries anda diminta ke ruangan dokter Wahyu" kata seorang perawat.


"Hai dokter Claries duduk lah aku ingin bicara padamu"


"Ada seminar dan konsultasi di depan publik, aku rasa kau yang paling pantas mengisi acara besar itu"


"Benarkah? kapan dokter?"


"Tiga hari lagi, jadi ku rasa kau bisa bersiap untuk acara itu"


Tampil di publik ini adalah sesuatu yang sebenarnya Claries hindari. Selama ini ia lebih suka menangani konsultasi para pasien secara langsung atau online. Ia sering melimpahkan kepada dokter Frederick jika ada seminar.

__ADS_1


"Apa dokter Fred akan ikut juga?"


"Tidak dokter Fred sedang ke luar negeri jadi kau yang akan datang dan mengisi seminar itu. Lagi pula masyarakat sangat memfaforitkanmu sebagai dokter online mereka yang ingin mereka temui"


"Ayolah Clair ini saatnya kau tampil, lihat dirimu kau dokter yang pintar dan kau terlihat seperti aktris papan atas" kata dokter Wahyu sambil tersenyum. Ia memberi semangat pada Claries, sudah saatnya karier dokter Claries maju.


"Baiklah dokter aku setuju, akan ku siapkan semua untuk acara itu"


"Baiklah semoga sukses"


Claries mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan dokter Wahyu. Kini pikirannya disibukkan untuk acara itu. Ia harus menyiapkan mentalnya untuk tampil di hadapan publik.


Claries pulang ke apartemennya dan seperti dugaannya Aldi sudah menunggunya.


"Hai sayang" sapa Aldi sembari berjalan mendekati Claries dan mengecup bibir Claries.


"Kenapa kau disini?"


"Aku masih suamimu jadi aku berhak menemui mu kapan pun dan dimanapun"


Aldi begitu ingin memeluk Claries. Ia rindu sekali dengan istrinya itu. Ia rindu aroma tubuh, senyum dan candaan Claries.


Claries hanya terdiam ia tidak mengajak Aldi masuk ke apartemennya. Malam ini ia harus menyiapkan materi untuk seminar itu.


"Baiklah aku tidak akan mengganggu mu sayang, kau istirahatlah tapi beri aku satu ciumanmu aku akan pergi tanpa kau minta" kata Aldi tersenyum menggoda Claries.

__ADS_1


Rasanya Claries ingin menampar wajah tampan itu tapi ia sedang malas berdebat ia tidak ingin membuang-buang energinya untuk bertengkar dengan Aldi. Claries berjalan mendekati Aldi dan berjinjit ia mengecup bibir Aldi. Aldi memejamkan matanya menikmati sentuhan dari Claries yang ia rindukan.


Setelah membalas kecupan Claries Aldi melangkah pergi di iringi Adrian. Adrian yang selalu canggung karena berada dalam situasi salah. Ia harus selalu menyaksikan kegilaan tuannya itu. Bertengkar tapi juga bermesraan, Adrian pikir cinta tuannya sudah benar-benar gila.


__ADS_2