
Claries menyiapkan baju dan keperluan Aldi selama pergi. Ia menata dan memasukkannya kedalam koper.
"Sayang aku dengar jika para bos bepergian untuk perjalanan bisnis, mereka akan mendapat servis terbaik dari perusahaan"
"Hmmm benar"
"Apa kau juga mendapat itu?"
"Hmmm .."
Claries terlihat sedih, ia memandang Aldi yang sibuk dengan ponselnya. Claries menghampiri Aldi dan duduk di pangkuan suaminya itu. Aldi meletakkan ponselnya.
"Ada apa sayang?"
"Jadi kau juga mendapat wanita cantik nanti ketika kau di luar negeri?
"Haha jadi itu maksud pertanyaanmu? yang aku maksud servis adalah hotel berbintang tempat menginap, fasilitas kendaraan untuk bepergian jika meeting, hiburan yang terkadang minum di bar hanya itu. Aku tidak munafik Clair jika memang disediakan wanita cantik untuk para bos. Tapi aku tidak pernah menerima mereka jika kau tidak percaya tanya saja pada Adrian"
"Apa mereka cantik?"
"Para wanita itu? iya sangat cantik mereka sudah dipilah dan di cari yang terbaik. Mereka bukan wanita sembarangan. Mereka berkelas dan beretika. Tugas mereka adalah mendampingi para bos ketika bepergian ke pesta atau jamuan setelah meeting"
__ADS_1
"Aku rasa kau pasti punya satu"
"Tidak pernah, aku meeting datang bersama Adrian mana ada wanita lain selain kau"
"Benarkah?"
"Bahkan sebelum bertemu denganmu aku juga tidak pernah memakai jasa mereka"
"Sejak kau menikah dengan Liza, kau juga tidak menghianati Liza?"
"Tidak, aku berhianat pada Liza sejak aku tahu siapa dirimu"
"Apa selain aku kau punya cinta masa kecil yang lain?"
Claries tertawa, ia percaya pada Aldi lagipula Aldi pergi dengan Adrian. Semoga ia tidak memiliki satu dari para wanita sexy di luaran sana.
***
Fani dan Liona makan malam bersama. Liona memandang wajah Fani yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Seperti ada yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa Pak Fani, apa ada masalah?" tanya Liona berhati-hati. Meski ia dan Fani bisa di bilang jadian tapi Liona tetap tahu diri. Ia tidak memanggil sembarangan pada Fani. Ia juga masih mrnghargai Fani sama seperti pria itu sewaktu masih menjadi bosnya dulu.
__ADS_1
"Tidak, hanya ada pekerjaan yang belum selesai saja"
Apa aku perlu bilang soal Tiara pada Liona. Tapi sebaiknya aku pastikan dulu perasaan Tiara padaku. Apa benar ia menyukaiku.
Keduanya menghabiskan makan malam dan berakhir Fani mengantar Liona pulang.
"Sampai jumpa..." kata Fani, ia tidak turun dari mobil karena sudah cukup malam. Tidak enak mengganggu keluarga Liona yang mungkin sudah beristirahat.
Fani melajukan mobilnya menuju rumah. Ia disambut bi Wasti begitu sampai di rumahnya.
"Pak Fani tadi ada non Tiara kemari"
"Tiara kemari? sama siapa bi dia kemari?"
"Sendirian, non Tiara memasak makanan kesukaan pak Fani. Apa mau bibi siapkan?"
"Simpan dulu bi saya masih kenyang, tadi sudah makan malam diluar"
"Oh ya bi apa Tiara menunggu disini atau langsung pergi?"
"Non Tiara menunggu disini pak, ada mungkin kalau satu jam"
__ADS_1
Satu jam? Tiara ada apa denganmu? kau bahkan rela menungguku, memasak makanan untukku. Bagaimana aku harus bersikap padamu. Claries benar aku harus tegas.
Fani berjalan menuju kamarnya, ia merebahkan diri di atas kasur dan memandang langit-langit kamarnya. Terbayang dua wajah berbeda Liona dan Tiara.