CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 39 Tugas Pertama


__ADS_3

Claries berangkat jam delapan pagi menuju rumah sakit. Ia mengayuh sepedanya dengan santay sambil menyapa para petani yang juga terlihat melambaikan tangan padanya.


Di tengah jalan ia bertemu dokter Firman yang menaiki sepedanya mencoba mensejajari Claries.


"Hai dokter Claries"


"Oh ..hai dokter Firman..."


"Apa kau mau balapan dengan ku?"


"Apa?"


"Hahaha aku hanya bergurau dokter"


Keduanya sampai di rumah sakit dan dokter Firman mengantarkan dokter Claries ke ruang kerjanya.


"Baiklah aku tinggal dulu ya, ada pasien yang menunggu" kata dokter Firman.


Claries mengenakan jas putihnya dan menghampiri perawat yang berjaga di depan.


"Pagi dokter" sapa perawat itu ramah.


"Pagi saya dokter Claries"


"Saya suster Maya"


Suster Maya terlihat masih muda, usianya pasti jauh di bawah Claries.


Claries baru akan menanyakan tentang rumah sakit itu pada suster Maya tapi tiba-tiba ia di kejutkan dengan seorang anak lelaki berusia sekita 10 tahu. Datang tergopoh-gopoh sambil mengelap keringat di dahinya dengan lengan kaosnya yang kumal.


"Bu dokter tolong Sukma...!"

__ADS_1


"Sukma?" tanya suster Maya.


"Iya bu dokter Sukma terluka parah dan kakinya berdarah banyak sekali. Nenek sudah khawatir dan tak berhenti menangis"


"Sebentar saya ambil tas dulu" Claries bergegas mengambil tas kerjanya dan ikut berlari dengan anak lelaki itu. Suster Maya terlihat kelelahan dan tertinggal di belakang.


Baru kali ini Claries merasakan adrenalin yang berbeda saat akan menangani pasien. Ia harus berlari pontang panting di jalanan yang tidak rata mengikuti bocah kecil di depannya yang lari tanpa mengenakan alas kaki.


"Ayo bu dokter cepat" anak lelaki itu berbelok ke sebuah rumah sederhana dengan halaman cukup luas yang di jadikan lahan peternakan.


"Nenek ini bu dokter sudah tiba" sang nenek terlihat sangat sedih dan cemas.


"Bu dokter tolong Sukma, dia mengeluarkan banyak darah dan aku tidak tahu harus bagaimana"


"Tenang nek dimana Sukma?"


Suster maya baru tiba dan berdiri di belakang Claries mengedarkan pandangannya mencari sosok Sukma yang terluka.


Jadi Sukma terluka di kandang ini, apa jangan-jangan ia di tanduk sapi. pikir Claries menebak-nebak.


Alangkah terkejutnya Claries melihat se-ekor sapi yang sedang hamil besar dan kakinya terluka parah hingga mengeluarkan banyak darah.


"Itu Sukma bu dokter tolong segera di obati" kata si nenek.


"Jadi Sukma itu se-ekor sapi?"


"Benar bu dokter"


Claries dan Maya saling berpandangan lalu melihat si sapi yang tak berdaya. Claries adalah dokter spesialis bedah tapi menangani manusia dan sekarang ia di minta mengobati sapi yang sedang terluka.


Claries mendekati Sukma dan memeriksa kondisinya. Kaki Sukma yang terluka harus segera di jahit. Luka itu berada di pergelangan kaki sepertinya terkena tambang yang di pergunakan untuk mengikat Sukma.

__ADS_1


Claries memulai menjahit luka Sukma dan di bantu suster Maya. Lalu kaki Sukma di balut perban.


"Baiklah nek besok aku akan kemari lagi dan melihat kondisi Sukma, nenek jangan cemas"


"Terimakasih bu dokter"


"Oh ya siapa namamu?" tanya Claries pada anak lelaki tadi.


"Jhony bu dokter"


"Jhony bisakah kau membantu nenek untuk menjaga Sukma? beri dia pakan dan pastikan agar lukanya tidak terinjak oleh sapi yang lain"


"Bisa bu dokter"


"Kami pergi dulu"


Di perjalanan menuju rumah sakit Claries tersenyum karena tidak menyangka mendapat pengalaman mengejutkan seperti ini di saat hari pertamanya bekerja di rumah sakit kota A.


Claries teringat pengalaman Bianca yang di tulis di buku hariannya. Ternya mengabdi di kota kecil bisa membawa banyak pengalaman besar.


"Suster kau sudah lama tinggal disini?"


"Saya asli dari kota ini dokter"


"Oh begitu...kalau dokter Firman?"


"Dokter Firman pindah ke mari sejak empat tahun yang lalu"


"Baiklah suster Maya sepertinya aku akan banyak membutuhkan bantuanmu selama beradaptasi disini"


"Tentu dokter saya dengan senang hati akan membatu"

__ADS_1


__ADS_2