CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 88 PESTA


__ADS_3

Disalah satu gedung mewah milik Zaman Group sedang di selenggarakan pesta pernikahan Mitha dan Adrian.


Mitha terlihat sangat cantik dengan gaunnya dan Adrian terlihat gagah dan tampan dengan stelan jasnya.


Semua tamu bertepuk tangan begitu pasangan itu memasuki gedung pernikahan. Mita membawa buket bunga mawar putih kesukaannya yang di petik dari halaman samping rumah.


Rio mengenakan stelan jas yang sama seperti Aldi. Wajah Rio berseri ikut merasakan kebahagiaan ibunya.


Aldi dan Claries ikut bahagia dengan pernikahan itu. Claries harus duduk di kursi karena perutnya yang sudah besar ia tidak bisa berdiri terlalu lama.


Bapak Ibrahim Zaman adalah orang yang paling bersyukur atas kebahagiaan puterinya. Ia menyaksikan banyak hal terjadi dalam hidup puterinya, ia hanya ingin Mitha bahagia bersama pria yang di cintainya.


Pak Han menyaksikan pernikahan putra angkatnya dengan suka cita. Selama ini ia menganggap Adrian adalah anak kandungnya. Melihatnya begitu setia dengan keluarga Zaman sempat membuat pak Han cemas akan masa depan Adrian untuk berumah tangga. Kali ini pak Han tidak perlu cemas lagi Adrian bersanding di pelaminan bersama wanita pujaannya.


"Han kita berbesan sekarang" kata bapak Ibrahim Zaman.


Pak Han mengangguk sungkan, meski berbesan ia tetap pada posisinya sebagai pelayan setia keluarga Zaman. Tidak ada yang berubah dengan itu.


***

__ADS_1


Aldi menghadiahi tiket bulan madu untuk Adrian dan Mitha. Kali ini mereka tidak perlu mengajak Rio. Aldi dan Claries yang akan mengasuh Rio seperti biasanya.


"Pergilah, berikan adik utntuk Rio agar ia tidak kesepian" kata Aldi.


Adrian tersenyum canggung. Ia berterimakasih pada Aldi. Mitha sudah siap dengan koper besar berisi bajunya dan Adrian. Mereka akan pergi selama satu minggu.


Adrian dan Mitha melakukan penerbangan selama dua jam untuk sampai ke tempat tujuan bulan madu. Mereka tiba di bandara sore hari dan langsung menuju penginapan.


Malamnya Adrian dan Mitha makan malam romantis di sebuah restoran ternama. Mereka berdansa diiringi alunan biola yang merdu dan syahdu.


Adrian merasa tidak perlu berlama-lama lagi. Ia menggendong Mitha menuju kamar mereka. Adrian membaringkan tubuh Mitha diatas ranjang yang luas.


"Kenapa wajahmu memerah?" Mitha segera memalingkan wajahnya yang memang memerah karena ia malu.


"Aku malu...."


Adrian tersenyum lalu mengecup kening Mitha. Tangannya meraih pinggang Mitha dan kini tubuh Mitha sudah berada di pelukan Adrian.


Mitha merasa nyaman dan terlindungi ketika berada dalam dekapan pria yang selama ini selalu mengorbankan diri untuk menjaganya dan keluarganya.

__ADS_1


"Jika kau belum siap, kita bisa melakukannya lain waktu" Bisik Adrian.


"Boleh aku tahu sesuatu?"


"Apa?"


"Tato di dada kirimu. seperti gambar wajah, wajah siapa yang kau lukis disana"


Adrian terdiam sejenak laku melepas kancing kemeja putihnya. Adrian melepas kemejanya dan menjatuhkannya di lantai. Kini terpampang tubuh bagian atasnya yang atletis dan terawat.


Mitha terkejut dengan tato di dada Adrian. Ia mengerjap untuk memastikan bahwa ia tidak salah mengenali sketsa wajah disana.


"Ya ini kau..." Adrian menegaskan jika tato wajah perempuan di dada kirinya itu adalah Mitha.


Adrian membuat tato itu setelah melihat perjuangan Mitha mengandung dan melahirkan Rio. Ia berjanji pada dirinya akan melindungi wanita yang ia cintai sejak kecil itu.


Sama halnya Aldi yang mencintai dokter Claries sejak masih kanak-kanak, Adrian juga mencintai Mitha sejak pertama bertemu di usia delapan tahun.


Mitha mengusap tato itu dan memandang lembut pada Adrian. Air mata Mitha jatuh membasahi pipinya yang putih dan halus.

__ADS_1


Adrian mencium bibir Mitha dengan lembut dan penuh cinta. Mitha membalas ciuman Adrian dan malam itu menajdi malam pertama bagi mereka.


__ADS_2