
Presdir Dylan baru saja tiba dengan mobilnya di gedung perkantoran milik keluarganya. Ryuji asisten pribadinya yang terlihat seperti robot hidup itu membuka pintu mobil.
Dengan gerakan elegan Dylan mengancingkan jasnya sembari berjalan menuju ruang kerjanya. Semua staff berdiri bersiap menyambut kedatangan pimpinan mereka dan memberi salam pagi.
"Ryuji ada masalah apa di gedung sebelah? kenapa terlihat ramai sekali?"
"Ada orasi menuntut kesejahteraan pegawai rumah sakit kita yang lama tuan"
"Orasi? kesejahteraan apa lagi yang mereka mau? bukankah aku sudah memberikan semua?"
"Siapa gadis itu?" Dylan menunjuk seorang gadis dengan gerakan kepalanya. Disana tampak wanita muda dengan rambut hitam lurus yang diikat serampangan. tubuhnya tidak tinggi tapi cukup berisi. Wajahnya terlihat unik tapi sedikit menyebalkan bagi Dylan.
"Oh itu dokter Amora tuan" kata Ryuji sembari menatap wanita muda di lantai bawah yang terlihat sedang berdialog dengan direktur yayasan yang menaungi Medina Hospital.
"Dokter Amora? cari tahu siapa dia! dan singkirkan jika dia menjadi biang ribut dan pengacau!"
"Baik tuan, saya rasa dokter Claries mengenalnya"
"Mamaku mengenalnya?" Dylan mengerutkan keningnya. Saat ini dokter Claries yaitu mama Dylan masih menjadi petinggi di Medina Hospital sejak papa Dylan memutuskan rehat dari semua jabatannya.
__ADS_1
Dylan melangkah menuju ruang kerjanya yang nyaman dan mewah. Ryuji sibuk menyalakan laptop dan membuka email yang masuk dan membalasnya satu persatu.
Ponsel milik Ryuji berbunyi, tanpa ekspresi ia mengangkat dan mendengarkan seseorang bicara. Dengan wajah datar Ryuji berjalan membuka pintu ruang kerja Dylan. Di luar sana ia sedang bicara dengan seseorang.
Tidak berapa lama Ruji kembali masuk ke ruangan Dylan. "Ada masalah apa?" tanya Dylan sembari sibuk dengan laptopnya.
"Diluar ada yang memaksa bertemu tuan"
"Siapa?"
"Dokter Amora"
Dylan menyeringai, "Punya nyali besar sekali dia mau bertemu denganku, aku jadi penasaran seperti apa wanita ini. suruh dia masuk"
Seorang gadis mmemasuki ruang kerja Dylan dengan canggung. Ia terkejut menatap Dylan yang duduk tenang di kursi kerjanya tanpa menghiraukan kedatangannya.
"Selamat siang tuan" sapanya ragu.
Dylan tidak bergeming dan tetap sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Saya dokter Amora"
"Hmm.." gumam Dylan pendek menjawab perkenalan singkat dari dokter Amora.
"Begini tuan saya ingin menyampaikan sesuatu pada anda. Boleh saya bicara?" Kali ini Dylan mengangkat wajahnya dan memandang wanita itu.
"Katakan" suara berat Dylan, ruangan yang dingin serta keberadaan Ryuji di sudut ruangan itu membuat Amora menggigil. Ia terdiam sejenak sebelum memulai bicaranya pada Dylan.
"Kenapa? bukankah tadi kau mau bicara?" Dylan menyeringai meremehkan Amora.
"Tuan saya mewakili teman-teman dan pekerja rumah sakit meminta anda untuk mengembalikan peraturan di Medina Hospital seperti sediakala. Termasuk gaji para dokter junior dan staff rumah sakit lainnya"
"Jadi begitu, Ryuji urusi masalah ini"
" Baik tuan, nona silahkan anda pergi dari sini"
"Tapi tuan Dylan saya belum...."
"Silahkan pergi nona" Ryuji mempersilahkan Amora pergi dengan membuka pintu ruangan itu lebar-lebar. Sebelum pergi, Amora sempat melirik wajah Dylan yang dingin dan tidak memandangnya sama sekali.
__ADS_1
Sungguh angkuh! berbeda sekali dengan ibunya yang sangat baik dan ramah pada siapapun. Aku tidak menyangka dokter Claries yang baik hati memiliki seorang putra yang arogan dan menyebalkan seperti dia!
Dylan tersenyum kecil, ia tahu gadis itu kesal padanya. Dylan meraih ponselnya dan menelpon ibunya yaitu dokter Claries.