
Di dalam mimpinya Adrian seperti kembali ke masa kecilnya dan ia bertemu dengan kedua orang tuanya. Di sebuah meja makan sederhana tampak mereka bergurau.
........
"Arghhhh!" Adrian membuka matanya perlahan dan merintih kesakitan merasakan nyeri di sekujur badannya.
"Kau sudah sadar?" Aldi mendekat ke arah Adrian. Kecemasan di wajah Aldi sedikit memudar.
"Clair dia sudah bangun" Aldi menelpon Claries.
Claries datang untuk melihat kondisi Adrian.
"Kau jangan terlalu banyak bergerak, istirahatlah dahulu" kata Claries.
Pak Han terlihat berdiri dari duduknya. Matanya berkaca-kaca. Ia berjalan mendekat ke arah Adrian.
"Pak Han lihatlah dia sudah sadar, aku bilang padamu dia kuat seperti singa, dia akan baik-baik saja" Aldi terlihat senang dan memeluk pak Han.
Adrian hampir menangis terharu melihat tingkah Aldi. Bosnya itu nampak cemas sekali padanya.
"Adrian kau tahu Aldi menjagamu, ia bahkan belum tidur dari kemarin sejak kau di bawa kemari olehnya" kata Claries.
Adrian mengangguk, ia menggerakan perlahan tangannya. Meminta Aldi untuk mendekat padanya. Aldi mendekatkan telinganya ke arah Adrian.
__ADS_1
"Te..ri..makasih pak" ucap Adrian terbata.
Aldi tersenyum senang. Ia menepuk pelan bahu Adrian seolah memberi kekuatan.
"Pak Han aku akan pulang sebentar, kau jagalah putramu baik-baik"
Pak Han mengangguk dan duduk di kursi di samojng ranjang Adrian. Tiba-tiba Mitha menerobos masuk dengan berurai air mata. Ia langsung memeluk Adrian yang masih terbaring lemah diatas rajang rumah sakit.
"Aku tidak apa-apa" kata Adrian sambil mengusap bahu Mitha yang sekarang sedang memeluknya. Kali ini Aldi membiarkan mereka. Ia hanya melihat pemandangan di hadapannya.
"Adrian....aku takut" bisik Mitha. Air mata Mitha menetes jatuh membasahi wajah Adrian yang masih terlihat babak belur bekas luka pukul.
"Aku tidak apa-apa, sungguh"
" Sekarang kau sudah tenang sayang?"
"Belum.....aku harus tahu siapa yang melakukan semua ini dan apa tujuannya" tangan Aldi mengepal kuat menahan emosinya. Jika ia tahu siapa yang sedang bermain-main dengannya maka ia tidak akan segan untuk menghadapi orang itu.
***
"Dasar bodoh! kenapa kalian bisa ceroboh meninggalkannya sendirian tanpa penjagaan!" Gwena terlihat marah dengan anak buahnya.
Ia kesal karena akhirnya Adrian bisa selamat. Ia tahu pasti Aldi yang melakukannya.
__ADS_1
"Jika Aldi Ibrahim tahu semua ini perbuatanku, maka habislah aku. Ia tidak akan pernah memaafkanku apalagi menerimaku. Claries akan menang dan aku kalah"
"Maafkan kami nyonya, apa kami perlu melakukan sesuatu pada dokter itu?"
"Tunggu! akan kupikirkan dulu. Aku tidak ingin rencana selanjutnya gagal lagi"
Gwena terlihat pergi dan berjalan menuju kamarnya. Siang nanti ia akan ada meeting dengan Aldi. Gwena bersiap di depan cermin mematut dirinya dengan baju terbaiknya. Ia sempat mengelus bekas luka operasi di bahunya.
Luka itu yang mempertemukan Claries dengan Aldi. Luka itu yang sudah membuatnya tidak berdaya sampai kehilangan Aldi dan merelakannya bersama Claries.
Gwena terlihat kesal, ia meremas bekas lukanya dengan gemas. Ponselnya berbunyi, Gwena meraihnya dari atas meja rias. Ada pesan pendek dari Aldi.
Bisakah kita bertemu besok malam? aku ingin makan malam bersamamu. hari ini aku tidak bisa datang untuk meeting. Sekretarisku yang akan mewakili untuk meeting.
Begitu bunyi pesan dari Aldi. Gwena terlihat kecewa karena tidak bisa bertemu Aldi. Tapi ia senang pria itu mengajaknya makan malam.
Gwena segera bersiap untuk pergi menghadiri meeting. Ia tetap mengenakan baju terbaiknya meski tidak jadi bertemu Aldi siang itu.
quot untuk Author:
Pemenang adalah dia yang menyelesaikan apa yang sudah dia Mulai.
Ganbatte kudasae!.....💪
__ADS_1