CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 107 Terkuak


__ADS_3

Adrian di seret masuk ke sebuah ruangan setelah ia dikeroyok dan dipukuli juga di bius hingga pingsan.


"Tuan sesuai perintah, kami membawanya dalam keadaan hidup"


Milano bergegas ke ruang depan rumahnya dan melihat Adrian tergolek di lantai. Wajahnya lebam-lebam terluka karena pukulan anak buahnya.


"Apa Aldi Ibrahim tahu kau membawa adik iparnya kemari?"


"Saya pastikan Aldi Ibrahim tidak tahu menahu soal ini tuan"


"Bagus, karena dia hanya akan merepotkan saja jika sampai tahu"


"Bangunkan dia!" kata Milano. Salah seorang anak buah Milano mengguyur Adrian dengan sebotol air mineral.


Adrian menggerakkan badannya dan mengerjap memandang seseorang yang berdiri di depannya.


Adrian tersenyum dan meludahkan darah dari mulutnya.


"Siapa kau?" tanya Adrian.


"Kau sungguh tidak mengenaliku?" Milano berjalan dua langkah lebih dekat ke arah Adrian.


Adrian memandang Milano, ia memang tidak tahu siapa Milano. Yang jelas Adrian tahu pasti pria di hadapannya itu yang menerornya dengan tulip hitam.


"Ada urusan apa kau denganku?" tanya Adrian lagi.


"Kau tidak mengingatku?!" Milano mencoba membuat Adrian mengingatnya. Tapi sepertinya percuma karena Adrian tetap tidak ingat.


"Saat usiamu 8 tahun kita terpisah di stasiun"


Glek!.....


Adrian menatap tajam ke arah Milano. Saat itu juga ia berharap tuli hingga tidak perlu mendengar pria di hadapannya itu bicara tentang masa kecilnya.


"Kau terpisah dariku dan ibu, aku sudah mencarimu selama ini"


"Hahaha! kau membuangku!!" Adrian mencoba berdiri dan terhuyung.


"Aku tidak membuangmu Tan"


"Jangan memanggilku dengan nama itu! namaku Adrian!"

__ADS_1


"Tan, kau mengingatku?"


"Aku tidak mau mengingatmu apa lagi melihatmu" Adrian berjalan membalik badan dan melangkah ingin pergi.


"Hentikan dia!" perintah Milano pada anak buahnya. Beberapa anak buah Milano mencegah Adrian pergi. Akhirnya terjadi perkelahian. Karena saking marahanya Adrian melampiaskan dengan memukuli semua anak buah Milano.


Adrian berjalan pergi meninggalkan rumah pria yang mengaku sebagai kakaknya itu. Ia meraih ponselnya yang retak dari dalam saku jas. Benda itu masih bisa di gunakan. Adrian menelpon pak Han untuk menjemputnya.


Di rumah Aldi, pak Han bergegas menggati bajunya. Ia meminta izin pada Aldi untuk pergi sebentar.


"Mau kemana pak Han?" tanya Aldi.


"Saya ada urusan penting sekali, nanti saya ceritakan pak"


Claries memegang lengan Aldi mengisyaratkan untuk memberi izin pada pak Han. Sepertinya pak Han sedang terlihat panik.


"Baiklah pak Han"


Pak Han bergegas pergi dengan mobil pribadi Adrian yang terparkir di halaman rumah Aldi. Ia mencari Adrian di lokasi yang di berikan Adrian lewat ponselnya. Pak Han memarkir mobilnya di pinggiran gedung kosong dan mencari keberadaan Adrian disana.


"Ayah..." suara Adrian terdengar memanggil pak Han. Wajah Adrian babak belur dan berdarah. Jas dan kemejanya sudah robek dan banyak bercak darah disana sini.


Pak Han membawa Adrian pulang ke rumah Aldi. Ia pikir di rumah ada dokter Claries yang pasti bisa mengetahui luka-luka di badan Adrian.


Sesampainya di rumah, pak Han segera memapah tubuh Adrian keluar dari mobil dan membawanya masuk kedalam. Adrian memegangi perutnya.


"Adrian?" Claries yang baru saja dari dapur terkejut melihat kondisi Adrian.


"Pak Han ada apa ini?"


"Dokter tolong Adrian ia terluka, nanti biar Adrian sendiri yang menjelaskan pada kita semua"


Claries bergegas ke kamarnya dan mengambil peralatannya. Ia memeriksa kondisi Adrian.


"Adrian kau harus ke rumah sakit. Ada masalah dengan rusuk kananmu sepertinya ada yang patah"


Adrian meringis menahan sakit. Pak Han dan Claries memapahnya menuju mobil. Aldi sedang berada di kantor jadi ia belum tahu kondisi asistennya sekarang.


"Dokter Claries jangan beritahu pak Aldi dulu"


"Baiklah, pak Han ayo cepat sedikit"

__ADS_1


"Iya dokter" pak Han menambah sedikit kecepatan mobil dan bergegas menuju Medina Hospital.


Sesampainya di rumah sakit Adrian segera mendapat pertolongan. Claries mengabari Mitha yang langsung datang.


"Pak Han bagaimana kondisinya?" tanya Mitha panik. Ia baru saja tiba dengan Rio.


"Sedang di tangani dokter, sepertinya Adrian cidera cukup parah. Ia di pukuli orang"


Mitha menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Matanya berkaca-kaca. Ia menelpon Aldi, Mitha mengira kejadian yang menimpa Adrian ada hubungannya dengan Aldi.


Aldi yang tidak tahu menahu langsung pergi menuju Medina Hospital tempat Adriandi rawat.


dokter Claries keluar dari ruang perawatan. Mitha segera menghampirinya.


"Bagaimana kondisi Adrian kak?"


"Dia sedang istirahat karena baru di beri obat. Kau jangan cemas, lukanya sudah di obati. Ada rusuk sebelah kanan yang patah"


"Ya Tuhan .......apa boleh aku menemaninya sekarang?"


"Masuklah dan temani dia, Rio ayo ikut bu dokter kita ke kantin beli es krim"


"Ayokk" Claries dan Rio pergi ke kantin sementara pak Han berjaga di luar kamar rawat Adrian.


Aldi datang dan menghampiri pak Han. Ia terlihat kesal tapi juga cemas.


"Pak Han"


Pak Han segera berdiri dari duduknya dan berdiri dengan sopan.


"Apa yang terjadi?"


"Saya juga kurang tahu pak, nanti jika Adrian sudah bangun bapak bisa bertanya langsung padanya"


"Apa lukanya parah?"


"Saya rasa begitu, dokter Claries sudah mengobatinya"


"Dimana Claries?"


"Sedang ke kantin pak bersama Rio" Aldi berjalan ke kantin menyusul Claries. Berbagai pertanyaan berada di benaknya. Sebenarnya apa yang Adrian sembunyikan darinya.

__ADS_1


__ADS_2