CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 17 Perjanjian Pernikahan


__ADS_3

"Kalau begitu katakan padaku apa kau bersedia menikah denganku?" Aldi mendatangi Medina Hospital dan menemui Claries di ruang kerjanya. Adrian berdiri mematung di ruangan itu.


"Jangan gila, dengar pak Aldi sampai kapanpun aku tidak mau menikah denganmu. Kau pria beristri ingat itu"


"Hahaha ....aku menikah denganmu agar kau bisa menjaga Liza sampai ia sembuh. Apa kau lupa ini terjadi karenamu?!"


"Sama sekali bukan karenaku, kau yang mengarang semua sampai seolah itu karenaku. Sidang sudah ku menangkan aku tidak bersalah!"


"Dengar sayang.....Aku pasti mendapatkanmu, kau tahu jika aku marah karena kau selalu saja membangkang padaku bukan hanya karirmu yang akan tamat di rumah sakit ini tapi juga kakak kesayanganmu akan habis!"


"Jangan mengancamku!"


Aldi meraih dagu Claries dan rasanya ia ingin menggigit dagu gadis itu karena kesal.


"Aku tidak mengancam, dan aku tidak main-main. Apa Fani belum bercerita padamu jika aku melamarmu? apa ia juga tidak bercerita tentang kerja sama antara perusahaanku dengan perusahaannya?"


Claries meneteskan air matanya. Ia teringat Fani susah payah membangun usahanya hingga sebesar sekarang. Ia ingat bagaimana kakaknya berkorban tidak sekolah kedokteran bukan karena tidak suka tapi Claries yakin Fani mengorbankan dirinya agar bisa bekerja lebih awal dan membiayai sekolah kedokteran yang di tempuh Claries.


"Aku mohon jangan mengganggunya" kata Claries lirih. Ucapannya terdengar sangat tulus dan kuat. Ia benar-benar sangat menyayangi Fani dan tidak akan sanggup melihat Fani menderita.


"Aku tidak akan mengganggunya asalkan kau mau menuruti mauku"


Adrian yang berdiri mematung di ruangan itu merasa bosnya sudah keterlaluan juga. Ia melihat kecemasan dan kebimbangan pada wajah Claries.


"Jika kau menikah denganku, kau bisa menguasai rumah sakit ini. Keberadaanmu akan sangat dihargai disini. Kinerjamu akan di pertimbangkan oleh para dokter lain. Aku tahu kau cerdas dan masih memiliki peluang maju di rumah sakit ini jadi pikirkan baik-baik terutama tentang kakak kesayanganmu itu!"


Claries terduduk lemas di kursi kerjanya. Sementara Aldi pergi meninggalkan Medina hospital dengan mobilnya.


"Adrian bagaimana menurutmu? apa dia mau menikah denganku?"


"Saya harap dokter Claries akan mengambil keputusan terbaik pak"


"Adrian apa kau pernah jatuh cinta?"


Adrian terdiam, ia ragu untuk menjawab pertanyaan Aldi barusan.


"Jawab!"


"Pernah pak"


"Benarkah? dengan siapa? apa aku mengenal gadis itu?"


"Ah tidak pak, anda tidak mengenalnya"

__ADS_1


"Lalu kenapa kau tidak melamar gadis itu agar kau tidak jomblo terus"


Anda mengatai saya jomblo anda sendiri bucin setengah mati.


"Ia tidak mencintai saya pak"


"Oh maaf, Adrian kasihan sekali kau sampai di tolak wanita begitu"


Bapak sendiri memangnya tidak di tolak wanita? dokter Claries menolak cinta bapak. Sadar dong pak tadi bapak baru saja mengancamnya agar mau menerima cinta bapak.


"Begitulah pak"


"Adrian aku penasaran gadis seperti apa yang membuatmu patah hati"


Lebih baik bapak tidak tahu dan jangan sampai bapak tahu.


"Apa dia cantik Adrian? kenapa kau menyukainya?"


"Cantik sekali pak, karena ia baik dan pintar"


"Benarkah? tapi aku tidak pernah melihat wanita cantik dekat denganmu selain kolega kita"


Kenapa anda banyak bicara pak? apa cinta sudah membuat anda berbalik jadi secerewet ini?! jika ini mobil saya, anda sudah saya turunkan di tengah jalan.


"Oh ya Adrian kau jemput Rio lebih awal dari sekolahnya. Kita ke tempat Mitha nanti siang. Kosongkan jadwalku untuk nanti siang"


***


Claries berdiri termenung menatap Fani dari kejauhan. Ia berkunjung ke perusahaan kakaknya. Claries melihat Fani sedang memimpin meeting. Kakaknya terlihat hebat dengan pekerjaannya. Claries tidak aka bisa jika melihat Fani kehilangan semua.


Claries tersenyum dan melambaikan tangan ketika Fani melihat ke arahnya. Claries bergegas pergi, ia tidak menunggu sampai kakaknya selesai bekerja.


Claries pergi bertemu dokter Luna di kediamannya. Dion anak dokter Luna yang membuka pintu untuk Claries.


"Hai Clair lama kau tidak kemari?" kata Dion seraya memeluk bahu Claries. Keduanya memang akrab karena selisih usia yang tidak jauh dan mereka sering bermain bersama dulu.


"Kau yang selalu sibuk sehingga aku sulit menemuimu, apa aunty ada?"


"Mama sedang berkebun di halaman belakang"


"Bisakah aku bertemu?"


"Tentu saja temui mama di kebun. Clair apa ada yang penting? kau terlihat cemas?"

__ADS_1


"Tidak hanya mau cerita sedikit saja. Oh ya kau berhutang mentraktirku makan malam. Ku dengar kau sudah selesai dengan pendidikanmu"


"Tentu saja, bahkan aku akan bekerja di rumah sakit terbaik saingan Medina hospital"


"Aku senang mendengarnya" Claries memeluk Dion memberikan selamat dan ia bergegas berjalan ke kebun belakang menemui Luna.


Luna terlihat modis bahkan saat berkebun. Pantas saja om Athar begitu menggilainya, batin Claries.


"Hai sayang....kenapa tidak bilang akan kemari?" Luna melepas sarung tangannya dan mendekati Claries. Keduanya berpelukan bahagia. Claries selalu teringat ibunya jika ia bertemu dengan dokter Luna.


"Aku hanya mampir sebentar aunty, ada yang ingin aku bicarakan"


"Baiklah, ayo kita masuk dan ngobrol lebih dalam lagi" Luna merangkul Claries berjalan menuju ruang santai. Keduanya mengobrol sembari menatap kebun bunga milik Luna dan menikmati secangkir latte serta biskuit.


"Jadi ia melamarmu? lalu apa yang kau rasa Clair?"


"Entahlah aunty aku bingung, dia pria beristri Fani sudah menyuruhku mejaga jarak darinya"


"Bagaimana dengan istrinya?"


"Masih beluma ada perkembangan aunty"


"Ku harap kau memutuskan yang terbaik Clair"


Claries mengangguk, wajah Aldi melintas di benaknya.


***


Claries menemui Aldi di ruang kerjanya yang berada di lantai dua rumah mewah Aldi.


"Apa kau sudah mengambil keputusan?" tanya Aldi seraya menutup laptopnya. Kali ini Adrian sudah akan pulang tapi ia diminta Aldi untuk tetap tinggal di ruangan itu sampai ia dan Claries selesai bicara.


"Aku setuju menikah denganmu, tapi aku ingi berpisah setelah Liza sadar"


"Baiklah aku setuju"


"Adrian bacakan surat perjanjian pranikah yang sudah ku siapkan untuk dokter Claries"


"Baik pak, Dokter Claries silahkan duduk saya akan membacakan perjanjian itu"


Claries duduk di sofa dengan pasrah mendengar baik-baik Adrian yang membacakan perjanjian pranikah itu.


"Point pertama, dokter Claries akan mendapat fasilitas dari pak Aldi berupa mobil Mercedes terbaru dan akan menjadi milik dokter Claries setelah pernikahan berakhir nanti"

__ADS_1


"Adrian tidak perlu kau bacakan semua, aku setuju dan akan tanda tangan"


Mama, papa kuharap aku tidak salah langkah.


__ADS_2