
Claries mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda dan celana panjang berwarna putih. Ia mengikatkan scraf di lehernya dengan motif bunga berwarna gradasi putih biru muda yang cerah. Ia menata rambutnya di buat ikal di bagian bawah. Terlihat sempurna dan menawan sekali.
Claries menghabiskan sarapannya sambil memeriksa materi seminar nanti. Ia cukup tertarik untuk tampil di keramaian kali ini. Ia memiliki konsultasi online yang cukup di gemari kalangan masyarakat yang menanyakan tentang seputar kesehatan.
Claries siap, ia menuju gedung seminar yang sudah di kerumuni wartawan dan peserta yang jumlahnya ratusan. Claries mengobrol terlebih dulu dengan pembawa acaranya nanti.
Acara di mulai semua terlihat fokus. pembawa acara memanggil Claries untuk tampil di panggung dan memberikan materi kesehatan pada peserta seminar.
"Langsung saja ini yang di tunggu-tunggu, kita panggilkan dokter Claries Hendrawan....."
Tepuk tangan riuh bergemuruh, Claries terlihat percaya diri dan melangkah menuju tempat yang sudah di sediakan utnuknya.
Claries memulai menyapa terlebih dahulu peserta seminar dan para wartawan yang berada di ruangan itu. Ia juga berterimakasih kepada Medina Hospital dan bapak Ibrahim Zaman yang memberinya peluang untuk bekerja sebagai dokter spesialis bedah umum di rumah sakit besar itu.
Semua terlihat terkesima dengan penampilan dokter Claries. Adrian menyimak dengan santai. Ia dikirim Aldi untuk menyelinap dan ikut seminar itu. Tentu saja niat Aldi mengirim Adrian sebenarnya adalah untuk menjaga Clariesnya yang berharga itu.
Tiba-tiba semua di kejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang membuat gaduh acara itu. Wanita itu adalah Liza. Liza dengan di bantu suster Lina naik ke panggung dan dengan frontalnya langsung memarahi dokter Claries di hadapan umum.
"Kalian tahu siapa dokter cantik ini yang selama ini kalian kenal sangat baik?! ya dia adalah pelakor dalam rumah tangga saya!"
"Oh jadi begitu.....kasian...masa dokter jadi pelakor?" kasak kusuk terdengar di bangku peserta. Wartawan tak buang tempo langsung mengambil gambar peristiwa itu dan merekam pembicaraan Liza di hadapan umum yang mempermalukan dokter Claries.
"Ya selama saya koma dia merebut suami saya dengan berkedok menjadi dokter pribadi saya!"
__ADS_1
"Cukup Liza!!" Claries menangis dan berlari meninggalkan panggung. Ia sudah tidak peduli acara seminar itu. Claries menyambar tasnya dan pergi dengan mobilnya. Sementara Adrian meminta anak buahnya mengamankan Liza dari atas panggung.
Sial! ini adalah masalah besar. Pak Aldi pasti murka jika mengetahui maslaah ini nanti.
Aldi selesai meeting dengan koleganya. Disana ada Fani yang juga ikut meeting. Fani bergegas pergi karena ia malas berhadapan dengan presdir Zaman Group itu. Alias adik iparnya yang membuatnya selalu naik pitam.
Kembali pada Liza yang berkoar-koar di forum seminar elit itu. Ia merasa puas sudah melampiaskan semua sakit hatinya pada Claries. Bisa di pastikan media akan mencetak berita itu besok dan media sosial juga akan menaikan berita tentang pelakoran itu.
Adrian mencoba menelpon ponsel Claries tapi tidak di angakat. Ia juga mengirim pesan menanyakan keberadaan Claries sekarang tapi juga tidak dibaca.
Claries merasa dunianya runtuh. Karier yang ia bangun susah payah dari nol telah hancur di depan umum. di depan para pasiennya. Ia mengarahkan mobilnya ke pantai, Claries turun dari mobil melepas sepatunya dan berlari ke pinggiran pantai. Ombak menyapu kakinya, ia menangis dan berteriak kesal melampiaskan rasa malu dan hancurnya.
***
Aldi murka melihat rekaman yang di tunjukan oleh Adrian. Ia merasa kecolongan dengan rencana Liza pada Claries.
Betapa hancurnya kau Clair....maafkan aku.
"Adrian dimana Claries sekarang?"
"Ponselnya menunjukan dokter Claries sedang di pantai pak"
"Berikan kunci mobil aku aku kesana"
__ADS_1
"Tapi pak ..saya akan mengantar bapak" Bagi Adrian keselamatan Aldi juga sangat penting karena menyangkut keselamatan Zaman Group.
"Adrian terserah! yang penting aku ingin bertemu Claries sekarang juga!"
"Baik pak"
Adrian mengemudi dengan kecepatan melebihi rata-rata . Aldi memantau sinyal yang menunjukan keberadaan Claries melalui ponselnya.
"Adrian sedang apa dia disana? apa dia akan bunuh diri di laut?"
"Mungkin saja pak"
"Brengsek apa maksudmu dengan mungkin saja?!"
"Tidak pak, dokter Clair pasti merasa kalut jadi ia menenangkan diri di pantai"
"Baiklah, hentikan sok akrab dengan istriku jangan memanggilnya dokter Clair, itu panggilan milikku"
"Baik pak maaf saya tidak akan mengulangi"
"Kau bisa menyetir lebih cepat?! kenapa mobil ini lama sekali tidak sampai juga di pantai!"
"Lima menit lagi kita sampai pak"
__ADS_1
Jarak yang biasa di temuh satu jam menuju pantai, Adrian sudah melakukannya hanya dalam waktu kurangn dari 30 menit dan bosnya mengatakan kurang cepat. Adrian hanya bisa menggeleng memaklumi kisah cinta rumit yang berbuntut panjang itu.