
Pagi yang cerah dan udara masih segar. Claries membuka pintu menuju balkon. Ia mengamati taman di bawah sana. Bunga mawar sedang bermekaran. Anggrek bulan juga menghias indah bergantungan di pot-pot yang terlihat cantik.
Pagi hari yang penuh rutinitas di rumah besar itu. Pak Han dan Yaya sudah sibuk di dapur. Sementara dua orang pelayan terlihat membersihkan rumah utama. Dan tukang kebun diluar sedang menata taman. Sopir kantor berjumlah tiga orang terlihat merawat mobil Aldi dan Adrian di halaman.
Mereka mengelap mobil dan memanasi mesinnya agar ketika bosnya ingin memakai kendaraan semua sudah siap dan tinghal jalan.
Claries berjalan menuju kamar Dylan. Disana jagoan kecil itu tergolek tidur pulas setelah kenyang meminum susunya.
"Pagi pak Han" Claries menyapa pak Han yang sedang sibuk membuat sarapan.
"Pagi dokter Claries, apa kau mau secangkir latte?"
"Tentu saja jika tidak merepotkanmu pak Han"
"Tenang tidak merepotkan, aku sudah selesai membuat sarapan"
"Terimakasih pak Han" Claries berjalan ke taman menikmati udara pagi yang segar. Pak Han datang membawakan secangkir latte dan roti panggang yang lezat.
Claries menikmati sarapannya di taman. Ia sengaja tidak membangunkan Aldi. Aldi terlihat lelah setelah perjalana bisnisnya. Jadi Claries membiarkannya untuk istirahat.
Jam menunjukan pukul 08.00
Claries sudah siap dengan stelan kerjanya. Dylan sudah rapi dan wangi di gendong oleh pengasuhnya. Sementara Aldi baru selesai mandi. Ia mengenakan pakaian kerjanya dan meminta Claries memasang dasi untuknya. Claries selalu telaten menyiapkan keperluan Aldi setiap pagi sebelum berangkat bekerja.
__ADS_1
Dretttt....drettt.....ponsel Aldi bergetar di atas meja rias Claries. Sebuah nomor tidak di kenal tertera di layar ponsel.
"Halo ..siapa ini?"
"Halo apa anda nyonya Aldi Ibrahim?"
"Benar.." suara seorang wanita muda terdengar di telepon.
"Apa Kak Aldi ada?"
"Kak Aldi?"
Siapa wanita ini berani memanggil Aldi dengan sebutan kak Aldi?!
"Sayang ada telepon dari....entahlah dari siapa" Claries sengaja menyindir wanita di telepon yang tidak memperkenalkan dirinya.
"Halo...." Suara Aldi terdengar serius. Ia bahkan berjalan sedikit menjauh dari Claries.
Claries merasa sebal, siapa sebenarnya yang menelpon. Kenapa harus menjauh segala. Claries turun ke lantai bawah ia tidak menunggu Aldi seperti biasanya.
Mitha sudah duduk menikmati sarapannya. Claries duduk di dekat Mitha dengan wajah sedikit masam.
Claries mengamati Aldi yang berbicara dengan Adrian. Kedua pria itu terlihat membahas sesuatu. Sepertinya Aldi memberi tugas baru lagi untuk Adrian.
__ADS_1
"Ada apa sayang siapa yang menelpon?" tanya Claries begitu Aldi duduk untuk sarapan.
Mitha menghentikan makannya dan melirik kakaknya. Sepertinya ada masalah, Mitha memandang Adrian yang duduk di depannya. Adrian seperti biasa dengan wajah datarnya yang tidak akan bisa di tebak dan di baca. Ia selalu bisa menyembunyikan permasalahan Aldi dari siapapun.
"Maaf saya duluan" Adrian berdiri dari duduknya dan tidak menyentuh sarapannya. Mitha mengejar langkah Adrian menuju halaman rumah.
"Sayang kau belum sarapan" Mitha menahan lengan Adrian.
"Nanti aku sarapan di jalan saja, kau berangkat dengan sopir ya"
Adrian berjalan ceoat menuju mobilnya. Kalau sudah begitu Mitha juga tidak berani menahan Adrian. Bisa-bisa pria itu marah padanya. Pekerjaan dan bosnya tetap menjadi prioritas Adrian.
Mitha dengan wajah kesal kembali ke meja makan untuk mengambil tas kerjanya. Ia memandang kakaknya yang sedang makan pagi dengan tenang.
Claries meraih tasnya dan berpamitan pada Aldi. Ia berangkat bersama Mitha di antarkan sopir kantor.
"Ada apa sebenarnya diantara Aldi dan Adrian?" tanya Claries.
"Kakak ipar mereka berdua memang seperti itu, aku sendiri juga kesal"
Claries mendengus dan masuk kedalam mobil nya. Sementara Mitha berjalan memasuki mobil satunya. Arah perusahaan dengan rumah sakit berbeda jadi Claries dan Mitha tidak bisa diantar menggunakan sati mobil. Mereka memakai dua mobil dan dua sopir berbeda.
Bersambung......Part selanjutnya
__ADS_1