
Adrian menatap kaca spion dan segera menghentikan mobilnya. Ia sedikit mengerutkan keningnya dan memastikan jika ia tidak salah melihat.
Claries terlihat berlari terpincang-pincang mengejar mobil Adrian yang untung jalannya lambat karena kondisi jalan yang tidak rata dan sempit.
Adrian keluar dari mobil dan berjalan cepat menghampiri Claries. Claries terlihat kesakitan karena kakinya yang terkilir belum sembuh benar.
"Dokter anda baik-baik saja?" tanya Adrian sambil membantu Claries berdiri tegap.
"Adrian, dimana Aldi? aku ingin bertemu" Adrian tersenyum simpul. Ia tidak mengerti dengan kisah cinta dua orang itu.
"Dokter, mari saya antar pulang"
"Tapi Adrian dimana Aldi kenapa kau tidak menjawabku?"
"Nanti anda akan tahu sendiri, mari saya antarkan pulang"
Adrian membuka pintu mobil untuk Claries.
Kenapa mobilnya kosong? dimana Aldi?
__ADS_1
Claries tidak bertanya lagi pada Adrian. Ia hanya duduk diam dan berpikir rencana apa yang sedang ada di otak Adrian. Asisten satu ini tidak bisa di tebak jalan pikirannya.
Adrian menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Karena jalan menuju rumah Claries sempit dan berlumpur jadi tidak bisa di lalui mobil. Adrian dan Claries berjalan kaki. Adrian memapah Claries yang berjalan pincang. Alangkah terkejutnya Claries sewaktu ia sampai di halaman rumahnya.
Aldi tampak berdiri di depan pitu sembari menenteng jasnya yang sudah di lepas. Aldi menatap Claries dan Adrian.
Kenapa dia berani memeluk Claries di hadapanku?!
"Clair...Aku menunggu mu pulang" kata Aldi.
Claries langsung memeluk Aldi dengan erat. Ia menangis sejadinya di bahu Aldi dan tidak berkata apapun. Aldi membalas pelukan Claries dan ia merasa lega mungkin Fani telah menjelaskan semua pada Claries.
Diam-diam Adrian mengetik pesan pada Yaya.
Yaya persiapkan foto pernikahan pak Aldi dan dokter Claries yang tersimpan di gudang. Sepertinya kita akan memajangnya kembali. begitu isi pesan Adrian untuk Yaya.
Claries mengambil tasnya dan bersiap ikut dengan Aldi untuk satu minggu setelah itu ia akan kembali ke kota A untuk berpamitan.
"Adrian kenapa kau berani memeluk Claries tadi?" mata Aldi memandang tajam ke arah Adrian yang segera menyimpan ponselnya ke dalam saku jasnya.
__ADS_1
"Maaf pak saya hanya memapah dokter Claries karena kakinya sakit. Tadi dokter Claries berlari mengejar mobil yang saya tumpangi. Sepertinya dokter Claries mencari bapak dan ingin bertemu"
"Benar kah?"
"Benar pak"
"Gaji kamu bulan ini saya naikan plus bonus"
"Terimakasih pak"
Akhirnya Claries ikut pulang ke rumah Aldi. Adrian sudah mengirim pesan singkat pada ayahnya dan Yaya untuk melakukan penyambutan. Ia meminta ayahnya memasak makanan enak serta menyambut kedatangan mereka di depan pintu nantinya. Ia juga mengirimkan foto Claries dan Aldi yang sedang bermesraan pada bapak Zaman ayah Aldi.
Ketiganya berjalan menuju mobil yang terparkir cukup jauh dari rumah Claries. Jalanan yang berlumpur memang sulit untuk dilewati. Apa lagi kaki Claries masih sakit.
Aldi menggendong Claries di punggungnya sembari berjalan di iringi Adrian dari belakang.
Selama di perjalanan pulang Aldi melampiaskan kerinduannya yang teramat besar pada Claries. Ia memeluk dan menciumi Claries. Adrian mengenakan kaca mata hitamnya agar ia tidak menyaksikan adegan tidak senonoh itu.
Lanjut...........
__ADS_1