CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 32 Ciuman Frontal


__ADS_3

Sepulang kerja Aldi tidak langsung pulang. Ia duduk di bar dan minum sendiri. Adrian sengaja ia suruh pulang. Aldi menatap layar ponselnya dan ia memandangi foto Claries yang sedang mengenakan jas putih dan rambut indahnya di gulung menyisakan helaian di dekat telinganya. Di foto itu Claries terlihat sedang tersenyum dengan seorang pasiennya.


Lalu tiba-tiba Aldi teringat Dion yang tadi siang makan bersama Claries. Mereka terlihat sangat akrab dan sebagai sesama pria Aldi bisa membaca ekspresi wajah Dion yang terlihat tertarik dengan Claries.


Ku pastikan tidak akan ada yang bisa merebutnya dariku! tidak juga kau dokter Dion.


Malam sudah cukup larut, Aldi sempoyongan menuju mobilnya. Ia bergegas menuju apartemen Claries. Dalam keadaan setengah mabuk Aldi menelpon Adrian ia tidak mungkin mengemudi seorang diri. Mengemudi dalam keadaan seperti itu bisa membahayakan dirinya dan orang lain yang juga sedang berkendara.


"Maaf pak anda tidak apa-apa?" Adrian mendekati Aldi yang terduduk di dekat mobil.


"Antarkan aku ke apartemen Claries"


Adrian membantu Aldi berdiri dan memapahnya masuk kedalam mobil. Lama-lama ia tidak tega juga melihat bosnya. Ia hampir tidak mengenali Aldi Ibrahim sang pengusaha hebat di kenal di kalangan para pengusaha dan pejabat. Aldi yang selalu dingin dan tidak peduli dengan ucapan orang lain. Aldi yang kokoh berdiri meski bisnisnya di jegal para mafia. Dan sekarang ia terlihat seperti lemah karena masalah percintaannya.


Dokter Claries anda sungguh hebat. Pak Aldi bertekuk lutut tidak berdaya dengan cintanya pada anda.


Di tengah perjalanan Adrian terpaksa menghentikan mobilnya karena ada pohon besar tumbang dan menutup jalanan.


"Ada apa Adrian? kenapa berhenti bukankah apartemen Claries masih di depan?"


"Ada pohon besar tumbang menutup jalan pak"


"Oh sial!"


Aldi membuka pintu mobil ia melepas jasnya dan meninggalkannya di dalam mobil. Aldi berjalan cepat di ikuti Adrian di belakangnya. Adrian memarkir mobilnya di dekat sebuah ruko kosong.


Akhirnya setelah berjalan dua kilo meter Aldi dan Adrian sampai di apartemen Claries. Aldi mengetuk pintu apartemen Claries.


"Pak mungkin dokter Claries sudah beristirahat"

__ADS_1


"Clair...keluarlah aku ingin bicara"


"Clair!! sayang!"


"Pak.....maaf mungkin dokter Claries sudah tidur"


"Diam kau atau ku remukan wajahmu dan kau jadi jomblo lagi!"


Lagi-lagi mengatai saya, anda mabuk saja masih bisa ingat status saya yang lama jadi jomblo.


Claries membuka pintu dan berdiri di depan Aldi dengan piama panjang berwarna maroon.


"Sudah malam jangan ribut disini"


Aldi langsung nyelonong masuk kedalam apartemen Claries.


"Ah permisi dokter ....." Adrian juga ikut-ikutan masuk ke dalam apartemen Claries. Sementara Claries tertegun melihat tingkah kedua pria itu.


"Jika tidak ada yang penting pergilah"


Aldi menatap lekat wajah Claries.Dalam hitungan detik ia sudah menyambar bibir Claries. Tangan Aldi mencengkram kepala Claries dan ******* bibir Claries.


"Mmmmmmm!" Claries mencoba menghindar dan memukul dada Aldi sekuat tenaganya. Tapi percuma bibir Aldi mengikuti setiap gerakan kepala Claries.


Adrian terkejut ia tidak sanggup melihat adegan sevulgar itu. Adrian berbalik menatap dinding di hadapannya. Ia memejamkan mata dan mencoba menghapus ingatannya atas kejadian ciuman itu.


Benar-benar gila! lebih baik aku melihat dinding ini.


Adrian memejamkan mata dan menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Claries berhasil mendorong tubuh Aldi sedikit menjauh darinya. Aldi mengusap pipi Claries. Kali ini ia mencium bibir Claries dengan lembut. Hatinya terasa pedih karena tidak bisa sepenuhnya bersikap tegas dan melindungi wanita yang sangat ia cintai. Air mata Aldi menetes hingga Claries menyadarinya. Ia membiarkan Aldi menciumnya.


Aldi tertidur di pangkuan Claries yang masih terduduk di sofa. Claries mengusap kepala Aldi dengan penuh sayang. Ia begitu mencintai Aldi tapi ia tidak bisa melanjutkan pernikahan itu.


Sementara Adrian duduk di lantai bersandar dinding. Ia tertidur pulas setelah bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mengingat-ingat kejadian ciuman frontal itu.


Alarm di ponsel Adrian berbunyi, Adrian tergagap dan mengusap wajahnya. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati Claries masih duduk di sofa sedang Aldi masih tertidur di pangkuan Claries.


Adrian merapikan jasnya lalu berdiri. Ia juga bingung harus bagaimana. Suasana masih terasa canggung.


"Adrian kau bawa bosmu pulang, aku mau beristirahat"


"Baik..." Adrian memapah tubuh Aldi. Claries bergegas menuju kamarnya dan mengunci pimtu kamar. Ia merasa lelah dan mengantuk. Claries tertidur di atas kasurnya yang nyaman.


"Bodoh kenapa kau bawa aku keluar apartemen ini?!" Aldi kesal dan marah karena Adrian tidak membangunkannya terlebih dahulu sebelum Claries bersembunyi di kamarnya.


"Pak lebih baik kita pulang terlebih dulu. Nanti setelah bapak tampan maksimal bapak bisa merayu dokter Claries lagi"


"Benar juga, ayo kita pulang. Kau ambil mobil aku tunggu disini"


"Saya ambil mobil sendirian pak?"


"Memangnya aku harus menemanimu?!"


"Baik pak saya ambil sendiri bapak tunggu disini"


Adrian berjalan sejauh dua kilo meter menuju mobil yang di parkirnya tadi malam di depan ruko. Dua orang anak buahnya berjaga di sekitar mobil itu.


"Kalian boleh pergi"

__ADS_1


"Baik bos"


Adrian mengemudikan mobilnya dan menjemput Aldi yang menunggunya dengan santai di loby apartemen.


__ADS_2