
Pagi yang indah menurut Claries, ia sudah berada di halaman untuk menikmati segelas susu hamil dan buah segar. Tapi pagi itu tidak terlalu indah untuk Aldi. Ia meremas ponselnya dengan geram. Bahkan pagi itu ia tidak langsung mencari keberadaan istrinya. Ia malah menelpon Adrian dan memarahi Adrian.
"Cepat kemari aku ingin tahu apa saja kerjamu dan anak buahmu!"
Aldi membanting ponselnya hingga jatuh pecah berserak di lantai. Claries yang baru masuk ke dalam kamar terkejut melihat kemarahan Aldi.
"Sayang..... ada apa?"
Aldi hanya terdiam dan berlalu menuju ruang kerjanya. Ia bahkan masih mengenakan jubah mandinya dan belum berganti pakaian kerja. Claries mengikuti Aldi yang masuk ke ruang kerjanya sementara Adrian terlihat terburu-buru dengan wajah cemas berjalan cepat menuju ruang kerja Aldi.
"Adrian ada apa sih?"
"Maaf dokter lebih baik nanti saja dokter Claries bertanya pada pak Aldi"
Adrian mengetuk pintu dan masuk ke ruang kerja Aldi. Ruangan itu di desain kedap suara jadi percuma jika Claries menguping dari luar.
Ada apa ini kenapa Aldi terlihat marah sekali? tidak biasanya ia mengabaikanku.
Didalam ruangan itu Adrian berdiri sambil tertunduk. Ia telah mendapat sedikit informasi dari anak buahnya bahwa Medina Hospital hampir di akuisisi dan bergabung dengan yayasan milik keluarga Biantoro yaitu rumah sakit dimana Claries bekerja.
Aldi berdiri membelakangi Adrian. Ia menatap halaman rumahnya yang luas melalui kaca jendela ruangan itu.
__ADS_1
"Apa saja kerjamu? kenapa kau bisa lalai sefatal ini?!"
Adrian terdiam dan masih menunduk, ia sendiri belum mencari tahu lebih lanjut sebenarnya masalah apa yang terjadi sampai ada perebutan salah satu bisnis Zaman Group.
Aldi berjalan mendekat dan memukul wajah Adrian. Dengan sekali hantam Adrian tumbang tersungkur tanpa membalas.
"Akan ku beritahu apa kesalahanmu, sebagai asistenku dan kau orang kepercayaan perusahaan seharusnya kau tidak ceroboh Adrian!"
"Kau tahu Medina Hospital hampir di rebut oleh yayasan Biantoro. Aku ingin kau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka terlibat dengan bisnis kita"
"Baik pak, maafkan saya. saya akan melakukan yang terbaik untuk mempertahankan bisnis kita"
"Aku tidak perlu janji bodohmu Adrian, buktikan seperti biasanya!"
"Adrian!...."
"Iya pak"
"Jika hubunganmu dengan Mitha menyebabkan kekacauan dan membuatmu tidak profesional lebih baik kalian selesai sampai disini"
Adrian terdiam, pintu sudah setengah terbuka. Claries dan Mitha yang menunggu di luar ruang kerja itu tidak sengaja mendengar ucapa Aldi barusan. Mitha terlihat pucat dan tidak menyangka kakaknya bicara begitu pada Adrian.
__ADS_1
Adrian berjalan menuruni anak tangga melewati Claries dan Mitha. Ia sempat melirik ke arah Mitha.
Wajahnya lebam pasti kakak memukulnya tadi.
Mitha berlari kekamarnya tanpa bicara sepatah katapun pada Claries yang kebingungan dengan situasi pagi itu. Ia hanya bisa menunggu suasana hati Aldi menjadi sedikit lebih baik sehingga ia bisa bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Pagi itu Aldi tidak sarapan ia bergegas berangkat ke kantor dengan mobilnya. Kali ini ia berangkat sendiri tanpa Adrian.
Claries duduk di meja makan bersama Mitha. Mitha hanya diam dan memainkan sarapannya.
"Mitha ada apa ini kakak bingung, tidak biasanya Aldi semarah ini"
"Kakak ipar tidak perlu cemas, kakakku memang seperti itu. Ia akan baik lagi nanti"
"Apa tadi pagi Aldi memukul Adrian?"
"Seperti yang kakak ipar lihat wajah Adrian lebam, sudah biasa mereka seperti itu. Kakakku membayar Adrian juga tidak main-main ia mengeluarkan banyak uang untuk para pegawainya yang ia percaya"
"Kalau begitu kau sarapan dulu nanti sakit" Claries melihat Mitha hanya mengaduk makanan di piringnya.
"Aku tidak napsu makan kak, kakak ipar makan dulu biar dedek bayi di dalam perut sehat dan kuat"
__ADS_1
Mitha berjalan pergi meninggalkan meja makan. Ia sedang pusing dengan nasip hubungannya dengan Adrian. Restu dari Aldi kemarin belum menjamin apapun pada hubungannya dengan Adrian.