CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Hari H


__ADS_3

Dylan sudah rapi dengan stelan jas pernikahannya. Sementara dokter Amora memakai gaun yang sudah di pesan oleh ibu mertuanya yaitu nyonya Claries.


"Kau sangat cantik Amora" puji nyonya Claries. Di pernikahan itu juga hadir anak-anak panti asuhan tempat Amora di besarkan dulu. Anak-anak itu sengaja menggoda Dylan yang menunggu di luar kamar rias.


"Tuan kau tampan sekali, jika besar nanti aku ingin sepertimu" kata anak kecil berusia delapan tahun berbadan tambun dan ber pipi gembul. Dylan tertawa, melihat anak-anak itu. Ryuji yang sedari tadi berdiri di belakang Dylan ikut tersenyum.


Amora keluar dari kamar rias dan memandang Dylan yang sedang bercanda dengan anak-anak kecil itu. Ia baru tahu jika orang kaku seperti Dylan bisa juga bercanda dengan anak-anak.


"Anak-anak!" Amora memanggil anak-anak itu dan semua mata tertuju padanya termasuk Dylan yang terpana dengan Amora di hari itu.


Lihat dia, seperti Cinderella ..lumayan juga setelah berjam-jam kau di rias.


"Ehm...!"Dylan berdehm dan menekuk lengannya. Amora yang mengerti segera menggamit lengan Dylan.


Acara pernikahan di mulai di awali dari ikatan sakral dan kemudian resepsi. Air mata Amora berlinang ketika ia dan Dylan sudah menjadi sepasang suami istri. Dulu sewaktu kecil ia bermimpi menjadi pengantin dan menikah dengan pria impiannya. Hal itu menjadi nyata meski yang sekarang berada di sisinya bukanlah pria impiannya.


"Kau terharu sekali ya bisa menjadi istriku?" bisik Dylan di telinga Amora.

__ADS_1


"Diam...!" Amora balik berbisik dengan geram.


Tamu undangan yang melihat hal itu, mereka mengira pasti Dylan dan Amora sedang bermesraan padahal mereka sedang berdebat.


Jaden dan Winy datang bersama. wajah Winy tak bisa di tebak yang jelas ia tidak nampak bahagia.


"Selamat Amora" Jaden meraih tangan Amora dan menggenggamnya Dylan segera menyingkirkan tangan Jaden.


"Berhentilah bertindak bodoh, dia istriku sekarang" gumam Dylan.


Jaden tersenyum getir dan memandang Amora yang terlihat begitu cantik. Winy menyaksikan pemandangan itu. Ia semakin geram,


"Tentu...kita masih berteman baik"


Winy mengangguk lalu memberi selamat pada Amora dan langsung melangkah pergi. Ia tidak menunggu sampai resepsi pernikahan selesai.


Selesai acara pernikahan Dylan dan Amora diantar oleh mobil pengantin menuju hotel berbintang. Mereka menempati kamar paling istimewa di sana.

__ADS_1


Amora tercengang melihat dekorasi kamar hotel yang begitu mewah dan bertaburan bunga di sana sini.


Melihat semua ini aku jadi merasa seperti seorang pengantin sungguhan.


Dylan melepas jasnya, lalu kemejanya dan ia juga melepas celananya hingga hanya menyisakan celana dalaman saja. Amora memejamkan matanya dan nampak memerah wajahnya. Dylan menyeringai menyambar handuk ia berjalan menuju kamar mandi.


Sementara Amora masih termenung memikirkan keanehan dalam hidupnya. Ia bahkan tidak bisa melepas gaun pengantinnya sekarang karena resleting berada di bagian punggung. Ia kesulitan menjangkaunya.


Dylan sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk putih di pinggangnya.


"Kau masih mematung?" Dylan mendekati Amora yang langsung nampak grogi. Wajah gadis itu memerah melihat Dylan bertelanjang dada.


"Kau tidak pernah melihat pria bertelanjang dada?"


Amora diam saja dan tidak mempedulikan Dylan. Pria itu mendekat ke arahnya dan menarik resleting gaun yang di kenakan oleh Amora.


"Apa yang kau lakukan! kita tidak bisa melakukan itu... karena tidak saling cinta!" Amora memejamkan matanya. Dylan tertawa sembari berbalik dan berjalan pergi mengambil pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Ryuji.

__ADS_1


"Kau pikir aku akan menidurimu? kau gila?" Dylan tersenyum geli. Amora terlihat malu dan bergegas ke kamar mandi. I mengguyur badannya dengan air hangat. Terasa melegakan.


Malam ini Amora merasa lelah sekali. Tapi sepertinya ia tidak akan bisa tertidur lelap karena berada satu kamar dengan pria asing.


__ADS_2