CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 23 Si Keras Kepala


__ADS_3

Aldi sudah di pindah ke ruang perawatan khusus. Claries memeriksa kondisi Aldi yang baru siuman. "Dokter" suara lirih Aldi membuat Claries senang. Itu kemajuan cukup baik.


"Kau sudah sadar" bisik Claries sembari memegang lembut lengan Aldi.


"Aku ingin pulang"


"Tidak Aldi kau baru siuman dan kau tidak bisa pulang sekarang!"


"Aku ingin pulang sekarang!" Aldi menarik infus di tangannya dan berusaha untuk duduk. Tapi ia belum bisa duduk. Aldi mencoba susah payah untuk bisa duduk tegap. Claries tak kuasa menghalangi Aldi yang keras kepala itu. Tidak ada pilihan lain karena Aldi berteriak-teriak jadi Claries dan Adrian terpaksa membawa Aldi dengan kursi roda.


Diluar wartawan yang akan meliput berita penembakan kemarin sudah mengantri di loby rumah sakit.


"Adrian bagaimana ini?" bisik Claries pada Adrian yang sedang mendorong kursi roda Aldi.


"Adrian kau urus semua. Biar aku dan Clair lewat pintu samping"


"Baik pak"


Claries mendorong kursi roda Aldi sampai ke parkiran. Akhirnya keduanya berhasil keluar melalui pintu samping rumah sakit.


Adrian menanggapi para pemburu berita dengan kalimat pendek seperti seorang artis papan atas yang sedang diburu paparazi. Ia cukup menjawab no comment!.


Setibanya di rumah, Aldi lansung beristirahat di kamarnya. Claries memeriksa luka bekas operasinya.


"Seharusnya kau belum boleh pulang, kau sangat keras kepala. Jika pihak rumah sakit tahu aku yang membawamu pulang mungkin aku bisa di pecat dan tidak diizinkan berprofesi sebagai dokter lagi!" Claries ngedumel memarahi Aldi yang tengkurap di sofa kamarnya.


"Tenang dokter ambil saja Medina Hospital untukmu"


"Bukan masalah itu Aldi tapi ini berbahaya, aku juga tidak akan mau mengambil hartamu"

__ADS_1


"Benarkah? apa kau sangat mencintaiku sampai kau tidak menginginkan hartaku sama sekali?"


"Diam bodoh!"


"Auchhhh!! kenapa kau menekan lukanya? itu sakit sekali dokter!"


"Adrian kau jaga bosmu aku ada urusan"


"Sayang mau kemana kau?" Aldi menoleh ke arah Claries yang terus berjalan keluar kamar tanpa menggubrisnya. Aldi tersenyum lega, ia masih selamat dari insiden itu dan ia masih bisa melihat wajah Claries.


"Adrian bagaimana dengan para mafia itu?" tanya Aldi mulai serius. Adrian duduk berjongkok tidak jauh dari sofa tempat Aldi berbaring tengkurap.


"Mereka tidak akan berani lagi mengganggu kita pak, saya pastikan"


"Bagus, sekarang kau cari tahu kemana istriku pergi?"


"Claries! memang siapa lagi?!"


"Bu Liza juga istri bapak" kata Adrian polos. Aldi ingin menjambak rambut klimis Adrian kalau saja ia saat ini bisa bergerak leluasa.


"Kau tahu ceritaku bersama Liza bukan, ia memang kunikahi secara syah tapi kau tahu sendiri keadaan pernikahan kami"


"Apa jika bu Liza sadar bapak akan tetap bersama dokter Claries?"


Aldi menoleh menatap Adrian tajam seolah ingin mengunyah asistennya itu.


"Adrian.."


"Ya pak?"

__ADS_1


"Kau kupecat tanpa pesangon!"


Aldi dan Adrian cukup dekat bahkan mereka sering bergurau seperti ini. Itu sudah wajar bagi bos dan asisten pribadi ini.


Ponsel Adrian berbunyi ada panggilan telepon dari rumah sakit tempat Mitha di rawat. Adrian berdiri dan berjalan menjauh dari Aldi yang sedang tertidur di sofa.


"Adrian..." suara Mitha terdengar di telepon.


"Iya saya bu Mitha"


"Kenapa kau tidak kemari menjemputku? aku kangen sama Rio"


"Rio sedang di tempat kakeknya bu"


"Jadi Rio di tempat ayah?"


"Benar"


"Dimana kakakku? aku ingin bicara"


"Oh pak Aldi sedang kurang enak badan jadi beliau sedang beristirahat"


"Adrian bisakah kau kemari besok? bawakan aku masakan pak Han yang enak ya"


"Baik bu, besok saya akan datang"


Adrian tersenyum dari percakapan tadi sepertinya Mitha sudah mulai membaik. Wajah Adrian terlihat berseri besok ia akan mengunjungi Mitha tanpa Aldi dan Rio.


Aldi sedikit membuka matanya, ia melihat Adrian dari kejauhan. Ia hanya pura-pura tidur dan mendengarkan pembicaraan Adrian dan Mitha di telepon.

__ADS_1


__ADS_2