
Pagi sekali Claries bangun karena tidak bisa tertidur. Ia merasa mual dan tidak nyaman. Claries bolak-balik ke kamar mandi, Aldi terbangun dan memeriksa istrinya di kamar mandi.
"Clair ..kenapa pintunya di kunci? kau kenapa sayang?" Aldi mulai cemas. Claries jarang mengunci pintu saat di kamar mandi kecuali ia sedang melakukan panggilan alam.
"Tidak apa-apa sayang aku hanya mual"
"Keluar lah sekarang atau ku dobrak pintu ini, Clair..." Aldi yang mulai panik mencoba membuka paksa gagang pintu kamar mandi. Ia berhasil membuka paksa pintu itu.
"Sayang ...." Aldi mendekati Claries dan menatap wajah istrinya yang pucat.
"Kau sakit sayang?"
"Tidak sayang aku hanya mual sedikit"
"Kalau begitu kau tidak perlu masuk kerja"
"Tidak bisa aku sudah di tunggu pasienku"
Claries mencoba menenangkan Aldi yang terlihat khawatir padanya. Ia memeluk lengan suaminya dan mengajaknya ke tempat tidur.
"Aku akan menemuimu di rumah sakit nanti" kata Aldi seraya mencium Claries. Claries mengangguk sembari bangkit untuk menyiapkan stelan jas kerja Aldi.
"Kau akan pergi dengan wanita itu ke kota A?"
"Tidak sayang, jika kau tidak suka aku dekat-drkat dengan nona Wang aku akan menyuruh Adrian menghandel semua"
"Aku hanya tidak suka melihat dia genit padamu, bahkan kalian berdansa dan tertawa"
"Sayang sudah ku jelaskan itu hanya profesional saja menjamu kolegaku, aku sama sekali tidak tertarik dengan nona Wang"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Adrian apa dia tertarik dengan wanita itu?"
"Tidak masalah jika Adrian menyukai nona Wang, dia belum menikah"
"Tapi dia sudah punya kekasih si My Rose....."
"Biarkan saja, selama belum ada pernikahan resmi ia masih berhak memilih"
"Aldi!..."
"Haha maaf Clair aku hanya bergurau. Ku rasa My Rose itu tidak nyata. Gadis itu hanya hayalan si jomblo itu"
Bagaimana jika My Rose yang maksud Adrian adalah Mitha adikmu? bagaimana jika kau tahu Adrian juga menyukai Mitha? apa yang akan kau lakukan Aldi?
Di rumah sakit pagi itu Claries mengunjungi dokter Nevari untuk memeriksa kandungannya. Sudah saatnya ia kembali konsultasi.
"Clair kau sudah terlambat datang bulan berapa hari?"
"Benar, kau sudah mengandung Clair...selamat program yang kau jalankan berhasil"
Claries terdiam sesaat karena terharu. Ia akhirnya hamil anak Aldi Ibrahim pria yang dicintainya. Claries bersyukur sekali, ia menelpon Aldi untuk menjemputnya di suatu tempat.
Claries pergi ke makan ayah dan ibunya. Ia mencurahkan kebahagiaannya di pusara kedua orang tercintanya. Air matanya tumpah mewakili kerinduan pada kedua orang tuanya.
Aldi mengenakan kaca mata hitamnya dan turun dari mobil. Ia berjalan ke area makam mencari Claries. Aldi berjalan mencari makam mertuanya. Dan di kejauhan dilihatnya Claries duduk seorang diri sambil menangis.
Aldi bergegas mendekati Claries dan memeluknya. Keduanya tidak bicara apapun tapi Aldi mengerti kepedihan yang di rasakan wanitanya. Ia semakin erat memeluk Claries.
"Apa kabar di sana pa, ma saya menantu anda. Suami dari dokter Claries yang cantik dan baik hati ini. Saya Aldi Ibrahim" kata Aldi pada pusara mertuanya.
__ADS_1
Aldi dan Claries pergi meninggalkan makam dan masuk kedalam mobil. Sesampainya di rumah Claries menyerahkan lembaran hasil pemeriksaan kehamilannya di minggu pertama.
"Apa ini Clair?" Aldi terlihat membaca kertas hasil pemeriksaan Claries. Sedetik ia terdiam lalu memeluk istrinya. Wajah Aldi sumringah bahagia luar biasa karena akan menjadi seorang ayah. Claries mengandung anaknya. Selama ini ia menjadi ayah untuk Rio dan sekarang ia akan menjadi ayah sungguhan.
Aldi dan Claries berciuman dan berpelukan merayakan kebahagiaan mereka. Tak hentinya senyum mengembang di wajah keduanya.
***
Pagi itu sebelum berangkat bekerja Fani Hendrawan berkunjung ke rumah Liona supirnya. Ia membawakan beberapa bingkisan untuk Liona dan keluarganya.
"Kau sakit apa?" tanya Fani begitu melihat Liona pucat.
"Saya asam lambung naik pak, mungkin besok baru bisa bekerja"
"Baiklah tidak masalah, kau sudah ke dokter?" Liona mengangguk.
"Oh ya bagaimana dengan kuliahmu?"
" Saya masih cuti pak, sambil menabung dulu"
"Liona kau tidak perlu menjadi supirku lagi" Kata Fani sembari menyeruput tehnya.
"Bapak memecat saya? maafkan saya pak saya akan masuk kerja besok tapi tolong bapak jangan pecat saya pak"
"Kau ku pecat sebagai supir pribadiku dan ku angkat menjadi sekretarisku"
Liona menatap wajah tampan Fani yang tersenyum. Ia ingin memeluk Fani saking senangnya. Tapi untung itu tidak ia lakukan.
"Terimakasih banyak pak, saya janji akan bekerja lebih giat"
__ADS_1
"Dan kau bisa lanjutkan kuliahmu jika kau sudah siap. untuk biaya aku akan membantumu dan keluargamu"
Mata Liona berkaca-kaca, ia tidak menyangka bertemu seseorang sebaik Fani. Pria itu bak malaikat yang di utus untuk Liona dan keluarganya.