CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 77 Pertengkaran


__ADS_3

Di salah satu ruang meeting Zaman Group terasa mencekam pagi itu. Dinginnya Ac di tambah heningnya ruangan membuat semua semakin cemas terlebih Aldi terlihat dingin dan marah. Ia duduk diam tanpa bicara sepatah katapun.


Para staff dan Adrian semua terlihat tidak tenang. Adrian dengan sigap segera memulai meeting. Ia tahu sang presdir sedang marah besar karena rumah sakit kebanggaan Zaman Group coba diusik oleh yayasan lain.


"Tidak ada kerja sama diantara kita dan Indra Biantoro tuan. Tapi pak Indra mendapat berbagai informasi tentang rumah sakit kita dari...." Adrian terdiam canggung baru kali ini ia tidak profesional seperti biasanya.


Aldi hanya menatap tajam kearah Adrian seolah berkata "Lanjutkan ucapanmu atau aku akan mencekikmu" begitu kira-kira sorot mata Aldi memberi isyarat.


"Dokter....Claries Hendrawan Ibrahim"


Aldi memejamkan matanya dengan geram. Ia tahu pasti istrinya yang polos itu sudah di manfaatkan tanpa sadar. Adrian tidak mungkin salah memberi informasi. Aldi berdiri dari duduknya dan berjalan pergi meninggalakan ruang meeting.


"Pak Han apa istriku sedang di rumah?" Aldi menelpon pak Han untuk bertanya keberadaan Claries.


"Ada pak, dokter Claries sedang di kamarnya"


Aldi mematikan telepon dan bergegas pulang dengan mobil pribadinya. Adrian mengikuti dari belakang dengan mobil kantor.


Semoga pak Aldi bisa mengendalikan dirinya, dokter Claries sedang hamil saat ini dan aku yakin dokter Claries tidak mungkin dengan sengaja memberikan informasi pada pihak lain tentang bisnis suaminya.


Aldi turun dari mobil dan bergegas memasuki rumah utama. Pak Han dan Yaya yang menyambut didepan pintu terlihat cemas Yaya terlihat takut karena ia sering melihat Aldi mengamuk bahkan sampai memukul Adrian.


Aldi membuka pintu kamarnya dengan kasar. Claries yang sedang duduk di depan cermin rias terkejut mendapati Aldi sudah pulang.


"Kau sudah pulang?"


Aldi hanya terdiam, ia sedang meredakan emosinya. Claries adalah wanita yang sangat ia cintai. Sulit baginya untuk marah dengan Claries.


"Sayang....?" Claries mendekati Aldi dan mengusap dada Aldi.


Aldi menggenggam tangan Claries ia menatap mata bulat istrinya yang selalu membuatnya takjub.

__ADS_1


"Clair...aku memintamu berhenti bekerja di rumah sakit atau apapun yang terkait dengan yayasan keluarga Biantoro"


"Kenapa sayang? apa salahnya?"


"Clair... Medina Hospital hampir di rebut oleh yayasan mereka dengan cara licik"


"Manamungkin Aldi, om Indra dan tante Adelia tidak mungkin melakukan itu"


"Kau bilang mereka adalah kekuargamu, tadinya aku berpikir mereka juga keluargaku tapi kenyataannya berbeda...sangat berbeda Clair"


"Aku tidak mengerti maksudmu!"


"Claries mereka mengorek informasi darimu, tanpa kau sadari pasti Indra Biantoro sengaja mengobrol denganmu dan mencari tahu tentang bisnis rumah sakit yang ku kelola"


"Sayang itu tidak mungkin!"


"Claries jangan membuatku marah padamu, jangan membuatku kecewa!"


"Clair cukup! jangan membantah lagi. Aku tidak ingin kau berhubungan dekat dengan mereka sebelum semua terbukti seperti apa kebenarannya"


"Mereka keluargaku Aldi aku tidak bisa jauh dari mereka. Mereka ikut merawatku sejak papa dan mama tiada" Claries mulai terisak.


Aldi paling tidak bisa melihat Claries menangis. Ia pergi meninggalkan kamarnya dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Adrian mengikutinya dari belakang.


"Siapkan strategi untuk memperkokoh rumah sakit kita. Kalau perlu kau hancurkan usaha mereka karena telah berani mengusikku!"


"Baik tuan, untuk rumah sakit mereka bagaimana?"


"Sisakan rumah sakit itu, karena disana tempat orang berobat"


"Baik tuan"

__ADS_1


"Kakak!" Mitha panik dan menarik lengan Aldi.


"Kakak ipar mau pergi..."


Aldi bergegas menghampiri Claries yang sudah menarik koper miliknya.


"Clair mau kemana?"


"Aku mau ke apartemen, aku sedang tidak mau bersamamu" Air mata Claries mengalir deras. Wajah cantiknya terlihat marah.


"Sayang aku suamimu dan kau harus menuruti perkataanku, ini demi kebaikan kita"


"Kebaikan kita?!"


"Clair mengertilah"


"Apa selama ini aku tidak cukup mengerti tentang dirimu Aldi?"


"Aku mau ke apartemen menenangkan diri, aku stress Aldi"


Mitha menyenggol lengan Aldi. Ia mengisyaratkan bahwa ia akan menemani Claries di apartemen.


"Baiklah kau boleh ke apartemen tapi kau harus di temani Mitha dan Yaya..."


Claries tidak bicara lagi, ia bergegas menuju mobil. Mitha dan Yaya segera mengikuti Claries.


"Adrian antar istriku dan jaga dia baik-baik. Hati-hati saat menyetir. Kabarkan keadaan Claries padaku segera setelah sampai di apartemen"


"Baik pak"


Aldi benar-benar pusing permasalahan menjalar ke rumah tangganya dengan Claries. Kali ini ia harus lebih cerdik lagi menghadapi lawan-lawan bisnisnya.

__ADS_1


__ADS_2