
Di ball room hotel berbintang sedang di sipakan dekorasi untuk pesta ulang tahun Fani Hendrawan. Claries tidak bisa ikut merayakan pesta itu. Kandungannya sudah semakin besar dan ia sudah mulai tidak nyaman di keramaian.
Meski tidak hadir Claries menyiapkan hadiah sebagai kejutan ulang tahun untuk kakaknya.
Malam itu Fani terlihat tampan dengan stelan jas hitam dan dasi kupu-kupunya. Rambutnya disisir klimis ke belakang terlihat sangat berkelas.
Tiara datang bersama kedua orang tuanya yaitu dokter Adelia dan Indra Biantoro. Aldi tidak mau datang karena disana ia akan berjumpa keluarga Biantoro yang sedang membuatnya kesal.
Fani memaklumi dan tidak memaksa iparnya itu untuk datang. Adrian sudah cukup menjadi wakil bagi Aldi dan Claries.
"Selamat ulang tahun kakak" Tiara mengecup pipi Fani dengan mesra. Tamu undangan bertepuk tangan menyaksikan kemesraan itu. Yang mereka tahu Tiara adalah kekasih dari Fani Hendrawan.
"Terimakasih Tiara, kau sangat cantik malam ini"
Tiara memang terlihat sangat cantik dengan gaun panjangnya. Rambut hitamnya tergerai indah, serasi dengan riasan tipis di wajahnya yang mulus.
Fani mengedarkan pandangannya, ia mencari keberadaan Liona dan keluarganya yang juga Fani undang.
Liona belum nampak di ruangan itu. Fani menunggu kedatangan Liona dan keluarganya sebelum meniup lilin.
"Kakak menunggu siapa? apa kak Claries?" tanya Tiara. Ia pasti tidak akan pernah menyangka jika Fani menunggu Liona.
Tidak berapa lama Liona muncul. Ia mengenakan gaun panjang berwarna ungu muda. Rambutnya ia pangkas pendek sekali dan membuat wajahnya terlihat lebih segar.
__ADS_1
"Selamat ulang tahu pak Fani" kata Liona sambil bersalaman dengan Fani. Tidak ada ciuman dipipi atau di kening seperti yang Tiara lakukan tadi.
Tiara nampak tidak senang dengan kehadiran Liona. Ia baru sadar rupanya Fani menunggu kedatangan Liona untuk tiup lilin.
"Dimana ibu dan ayahmu?"
"Tidak ikut pak, ibu dan ayah menitip pesan ucapa selamat ulang tahun untuk bapak"
"Sayang sekali...aku berharap mereka bisa hadir"
"Maaf pak karena ibu dan ayah saya tidak biasa berada di tempat mewah seperti ini. Saya khawatir mereka kebingungan dan tidak nyaman"
"Baiklah tidak masalah biar besok aku saja yang kerumahmu"
Liona memandang Fani yang memberikan potongan kue kepada keluarga Tiara. Lalu ia berjalan mendekati Liona dan menyuapkan sepotong kue pada Liona.
Liona tampak malu-malu menerimanya. Hadirin bertepuk tangan kecuali Tiara. Ia sedang sibuk menganalisa sejauh mana sebenarnya hubungan Fani dan Liona.
"Selamat ulang tahun pak" Adrian menjabat tangan Fani.
"Terimakasih Adrian kau sudah mau datang"
"Sama-sama pak, pak Aldi mengucapkan selamat untuk anda dan ada hadiah dari dokter Claries. Saya sudah mengirikannya ke kediaman anda"
__ADS_1
"Baiklah terimakasih utuk kalian bertiga, nanti aku akan menjenguk Claries"
Adrian mengangguk dan berpamitan. Ia tidak bisa lama-lama karena masih ada urusan yang harus ia selesaikan.
***
Adrian kembali ke kantor, ia harus mengawasi produk yang akan di kirim ke luar negeri malam itu juga. Adrian melepas jasnya dan mengamati para karyawan sedang bekerja.
Ponselnya berbunyi ada panggilan telepon dari Mitha.
"Hai sayang, kau dimana?" terdengar suara Mitha di telepon.
"Aku sedang di kantor, ada apa?"
"Kau sudah makan malam?"
"Sudah, kau sendiri sudah maka malam?"
"Sudah, baiklah aku hanya ingin memastikan itu. Jangan terlalu lelah beristirahatlah. Jangan sibuk terus mengurusi Zaman Group"
"Baiklah nona manis katakan semua itu pada kakakmu. Aku mau dengar jawabannya" Adrian tersenyum.
"Tidak mau nanti aku bisa di marahi olehnya. Baiklah sayang hati-hati sampai jumpa besok di fitting baju pernikahan kita"
__ADS_1
"Hmmm..."