
Aldi memarkir mobilnya di halaman rumah ayahnya. Ia menemui ayahnya yang sedang bersantai di ruang samping sembari melihat bonsai yang berjajar rapi di tempatnya.
"Pa..."
"Kau datang, duduklah"
Aldi duduk di samping ayahnya. Hening tanpa ada percakapan diantara orangtua dan anak .
Aldi sedang bergelut dengan pikirannya, ia tidak sabar ingin melenyapkan Sondra setelah dokumen itu jatuh ke tangannya.
"Ada masalah?" tanya sang ayah.
"Sedikit pa"
"Bagaimana keadaan Adrian?"
"Sudah lebih baik pa"
"Apa kau tahu siapa yang melakukan itu pada Adrian?"
"Iya pa....dia kakak tiri Adrian. Ini masalah personal Adrian pa, saya tidak ikut campur selagi Adrian tidak meminta bantuan"
"Dia adik iparmu, bantu saja sebelum di minta"
"Iya pa"
"Kenapa kau mau ke apartemen Anyelir?"
"Ada sedikit urusan dengan Sondra pa"
Urusan soal apa?"
"Soal dokumen yang di curi Sondra sebelum ia berangkat ke luar negeri"
"Apa dokumen itu penting?"
"Penting sekali pa"
"Kenapa kau teledor?"
Aldi terdiam, papanya tidak selalu membelanya. Jika ia salah pasti akan memarahinya. Jika Aldi benar pasti kan mendukungnya.
"Iya pa saya ceroboh"
__ADS_1
"Bisa kau ke ruang kerja papa dan ambil sebuah map berwarna biru di dalam laci meja kerja papa"
Aldi membawa map itu pada ayahnya.
"Dokumen yang kau cari ada di dalam map itu, mulai sekarang jangan mengusik mereka lagi. Anyelir dan Sondra pindah ke kota A. Mereka akan memulai hidup baru di sana.
Aldi terdiam, ternyata ayahnya sudah menyelesaikan permasalahannya dengan Sondra.
Flash back
Ayah Aldi mendatangi apartemen Anyelir. Sondra sedang sembunyi di kamarnya. Ia takut jika Ibrahim Zaman mencarinya karena telah tahu ia mencuri dokumen penting milik Zamman Group.
Ibrahim Zaman duduk di sofa di ruang tengah. Anyelir muncul dari dapur membawa namapn kecil berisi secangkir teh.
"Silahkan diminum"
"Duduklah Anyelir aku ingin bicara padamu"
Dengan canggung Anyelir duduk di depan pria yang pernah menyelamatkannya. pria yang pernah menikahinya tanpa menyentuh tau memandangnya.
"Maaf jika Aldi membuatmu bingung karena dengan tiba-tiba membuatmu kembali dari luar negeri"
"Tidak apa, aku berterimakasih karena nak Aldi telah membawaku dan Sondra kembali"
Anyelir terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia tidak menyangka jika puluhan tahun berlalu tapi pria di hadapannya tetap sama angkuh padanya dan tidak pernah menyukainya.
"Jika aku harus pergi dari keluargamu, aku setuju untuk kembali ke kota A"
Sondra menguping dari balik pintu kamarnya. Pembicaraan ibunya dengan mantan ayah tirinya itu.
Wajah Sondra terlihat sedih tapi ia lega. Ibunya memilih tinggal di kota tempat mereka berasal.
"Aku akan memberimu fasilitas di kota A. Aldi memiliki perusahaan di sana. kau bisa memakai fasilitas rumah yang Aldi miliki di sana"
"Tidak perlu, aku juga punya rumah disana. Aku dan Sondra akan pindah secepatnya"
"Baiklah kalau begitu, jika kita bertemu tanpa sengaja sapalah aku" Ibrahim Zaman berdiri dari duduknya dan bersiap pergi. Tiba-tiba Sondra menghampiri dan menyerahkan sebuah map.
"Saya minta maaf pak, saya pernah mencuri dokumen itu dari bapak" Ibrahim Zaman menepuk bahu Sondra lalu melangkah pergi.
Untung dokumen yang Sondra serahkan pada Milano Wang kemarin adalah yang palsu. Jadi ia tidak perlu repot untuk meminta padanya.
***
__ADS_1
Adrian sudah bisa pulang dari rumah sakit. Claries menyarankannya untuk istirahat dulu di rumah.
"Kau harus beristirahat agar cepat pulih"
"Tapi dokter aku banyak pekerjaan"
"Biar aku yang bicara pada Aldi nanti"
"Oh ya kenapa kalian tidak berlibur saja?"
"Ide bagus, bagaimana sayang?" Mitha melirik Adrian.
"Baiklah" kata Adrian pasrah. Meladeni pembicaraan satu wanita saja sudah rumit. Ini ada dua orang yang bersekutu yaitu dokter Claries dan Mitha. Adrian jelas tidak akan menang adu argumentasi dengan mereka.
Aldi kembali ke rumahnya. Banyak yang ia pikirkan saat ini. Aldi menemui Dylan di kamarnya. Ia bermain sebentar dengan anak lelakinya itu.
"Kau sudah pulang?" Claries yang baru pulang kerja muncul di pintu kamar Dylan.
"Iya aku dari rumah papa"
"Apa ada masalah?"
"Tidak hanya mengobrol biasa"
"Oh ya sayang, Adrian harus istirahat dulu kurasa"
"Berapa lama?"
"Satu Minggu"
"Lama sekali, aku memerlukan bantuannya"
"Adrian dan Mitha mau berlibur"
"Mereka mau liburan?!" Aldi terlihat kesal.
"Iya kau tidak pernah memberi jatah liburan untuk Adrian bukan? dia juga butuh hiburan sayang"
"Baiklah aku menyerah"
Claries tertawa sambil mencium pipi Aldi. Ia memeluk gemas suaminya itu.
"Kalau mereka liburan lalu kenapa kita tidak bersenang-senang?" Aldi mengangkat Claries dan menggendongnya menuju kamar. Sementara Dylan sudah tertidur nyenyak di kasurnya.
__ADS_1