
Claries duduk di sofa apartemennya memeluk boneka kelinci yang berbulu halus dan lembut. Ia termenung dengan pertengkarannya hari itu. Claries tidak menyangka Aldi akan semarah itu padanya. Bagaimana bisa ia menjauh dari Adelia dan Indra yang sudah seperti keluarga baginya.
Bel pintu berbunyi Yaya membukakan pintu. Fani datang begitu Aldi mengabarinya jika Claries marah dan pindah ke apartemennya lagi.
"Clair..."
"Kak Fani" Claries berdiri dari duduknya dan memeluk Fani.
"Kau baik-baik saja?" tanya Fani cemas karena adiknya terlihat sedikit kusut.
"Iya aku tidak apa-apa, darimana kau tahu aku disini?"
"Aldi menelponku"
Claries langsung terdiam itu berarti Aldi sudah bercerita masalah mereka pada Fani.
"Kakak tahu dia menyuruhku tidak boleh dekat dengan keluarga Biantoro?"
"Clair.... ku rasa dia adal alasan besar kenapa melarangmu mendekati keluarga om Indra. Aku sendiri juga tidak percaya tapi kubrasa orang sekelas Aldi tidak mungkin menuduh tanpa bukti"
"Kakak lupa ia dulu menuduhku tanpa bukti hingga aku hampir di penjara?"
"Clair, aku kemarin bertemu om Indra, sempat berbicara sebentar dengannya. Aku rasa ia dan suamimu memang ada persaingan bisnis"
"Entahlah kakak...."
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aldi memintaku mundur dari rumah sakit om Indra dan pindah ke Medina Hospital miliknya"
__ADS_1
"Kakak rasa tidak ada salahnya kau menuruti suamimu. Meski kakak tidak menyukainya tapi sejauh ini kakak melihat ia begitu menyayangimu dan selalu memberi yang terbaik untukmu"
"Baiklah akan ku pikirkan lagi"
"Pak Fani ini minumnya..." Yaya menyuguhkan secangkir teh hangat untuk Fani.
"Terimakasih Yaya..tolong jaga Claries ya"
"Iya pak Fani saya pasti jaga dokter Claries dengan baik"
Fani tersenyum dan menyesap tehnya. Ia memandang Adrian dan Mitha yang berdiri di balkon.
"Apa ada kisah cinta baru disini?" tanya Fani seraya memandang Adrian dan Mitha dari kejauhan. Claries mengangguk dan tersenyum.
"Hanya kau yang tidak memiliki kisah cinta" kata Claries menyindir kakaknya.
"Bagaimana dengan Liona?"
"Liona? ada apa dengannya, kenapa kau menanyakannya?"
"Ku rasa Liona gadis yang baik untuk di cintai"
"Dicintai oleh ku?"
"Siapa lagi? kakak coba buka hatimu gadis itu begitu penurut dan sangat manis"
"Haha kau benar dia memang penurut tapi juga aneh"
"Aneh?"
__ADS_1
"Iya aneh sekali" Fani tersenyum mengenang kebodohan Liona.
"Aneh adalah definisi kekaguman pada seseorang yang sulit dijelaskan" sindir Claries lagi.
"Hei....sudah hentikan jangan usil padaku"
"Bagaimana dengan Tiara?"
"Oh ya om Indra bilang Tiara akan kembali dari Paris minggu ini. Aku akan menjemputnya nanti"
"Bagus kurasa akan ada cinta segitiga nanti"
" Clair hentikan, tidak ada cinta-cinta seperti yang kau maksudkan. Aku bukan tokoh dalam novel"
"Tapi kau menarik untuk di jadikan lakon dalam novel"
"Benarkah?"
"Iya kakakku sayang, cepatlah memilih gadis dan menikahlah. Aku ingin melihatmu bahagia dengan pendamping hidupmu"
"Baik...akan kulakukan karena kau yang memintanya" Giliran Claries yang tertawa. Ia terkadang sedih melihat Fani yang masih melajang. Kakaknya tampan dan tidak ada kekurangan tapi sampai detik ini belum juga memilih gadis yang pas untuk menjadi pendampingnya.
"Aku pamit dulu ya, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Kau cepatlah berbaikan dengan Aldi. Kalian jangan saling menyiksa diri sendiri"
"Menyiksa apa? siapa yang menyiksa diri sendiri?"
"Sudahlah Clair kau begitu mencintainya, kakak rasa kau juga tersakiti jika menjauh darinya. Pikirkan baik-baik dan kembalilah ke rumah suamimu"
Claries merasa yang di katakan Fani benar. Ia memang tidak bisa jauh dari Aldi. Hatinya sakit dan gelisah. Saat ini ia rindu sekali dengan suaminya itu.
__ADS_1