
Mobil bugatti milik Aldi terlihat menembus jalanan yang tidak begitu lebar. Ia memarkir mobil mewah itu di sebuah tanah kosong. Aldi berjalan dengan waspada sambil menyelipkan sebuah pistol di pinggangnya.
Ia berjalan memasuki sebuah gedung mlangkrak. Bangunannya sudah cukup rapuh. Gedung itu seperti bekas gelanggang olah raga renang. Terdapat beberapa kolam renang dengan kedalaman rertentu yang sudah kering.
Diasana terlihat sepi. Aldi mulai memasuki sebuah ruangan yang gelap. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Disana sepi tidak ada siapapun. Aldi memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Ia menghentikan langkahnya ketika melihat salah satu dari kolam renang itu terisi air dengan penuh. Ia memperkirakan kolam itu pasti cukup dalam.
Aldi menatap pingiran kolam renang, seperti ada gelembung udara dari bawah. Kemungkinann ada orang bersembunyi di dalam air. Aldi mengeluarkan pistolnya dan mendekati pinggiran kolam yang airnya jernih.
Matanya terbelalak menatap seseorang diikat di bawah sana dengan besi pembatas kolam bagian bawah dan sengaja di tenggelamkan. Pria itu memakai kemeja berwarna navy yang di kenali oleh Aldi. Ya dia asistennya, Itu Adrian yang berada di dasar kolam dengan tangan terikat.
Aldi menceburkan diri dan berenang mendekati Adrian yang tidak berdaya. Adrian masih bisa mengambil nafas berarti belum lama ia di tenggelamkan dindalam kolam itu. Aldi mencoba membuka ikatan di tangan Adrian tapi tambang yang di gunakan untuk mengikat cukup keras dan sulit di buka manual dengan tangan. Aldi mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya dan memotong tali tambang itu dengan susah payah.
Aldi mengangkat tubuh Adrian dan memompa perut Adrian. Darah segar mengalir di bagian rusuk Adrian. Ia terluka parah. Separuh wajah Adrian babak belur dan sepertinya tulang hidungnya juga bengkok.
__ADS_1
Aldi segera membawa Adrian ke mobil. Ia melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
"Bertahanlah Adrian, bukankah kau sudah berjanji pada papa akan menjagaku dan Mitha?!" Aldi menahan tangisnya melihat kondisi asiaten setianya.
Aldi teringat masa kecil mereka. Adrian selalu mengutamakan Aldi dan juga Mitha. Ia sering di hukum oleh papa jika Mita atau Aldi berbuat salah, karena Adrian selalu mengaku jika itu kesalahannya.
"Kau berkorban untukku terlalu banyak Adrian! bagaimana aku membalasmu?!"
Aldi membawa Adrian ke rumah sakit tempat Claries bekerja bukan ke Medina hospital karena letaknya lebih jauh. Ia berpikir Adrian butuh pertolongan dengan cepat.
Aldi mengangkat tubuh Adrian yang bersimbah darah menuju loby rumah sakit. Beberapa perawat langsung dengan sigap membantu dan menaikan tubuh Adrian ke atas ranjang.
"Sayang, tolong Adrian dia bisa mati...."
"Aldi ada apa?"
__ADS_1
"Adrian..." Aldi menunjuk Adrian yang di bawa ke ruang Icu. Ia mendapat pertolongan dokter disana. Claries mendampingi di dalam ruangan itu.
"Denyut nadi melemah" kata seorang dokter yang memeriksa Adrian.
Alat bantu medis terpasang di bagian dada dan tangan. Dokter menekan-nekan bagian dada Adrian.
"Siapkan mesin defribillator, tegangan 150 joule" kata dokter.
Claries jelas tahu kondisi Adrian dari instruksi dokter barusan. Claries meneteskan air matanya, tangannya bergetar. Ia menatap Adrian yang terbaring di kelilingi dokter dan perawat yang mencoba menyelamatkannya.
Dokter menempelkan alat defibrillator ke dada Adrian.
"Tekan" kata dokter.
Terlihat tidak ada reaksi di monitor.
__ADS_1
"200 joule, tekan" dokter kembali memberi instruksi.
Claries terlihat pucat dan memundurkan langkahnya.