CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 24 Cinta Terpendam Adrian


__ADS_3

Pagi itu Claries mengajari Aldi untuk mulai berjalan. Aldi masih kesulitan untuk berjalan tegap. Semua badannya terasa nyeri terutama di area punggung.


Claries dengan telaten membimbing Aldi berjalan pelan-pelan. Aldi sesekali menatap wajah Claries yang nampak serius dan terlihat semakin cantik.


"Jangan menatapku" kata Claries ketus. Aldi tersenyum dan menunduk.


Sewaktu kecil kau sangat cantik dan sekarang pun kau lebih cantik Claries Hendrawan.


"Dimana Adrian kenapa ia belum kemari?"


"Adrian sedang menjenguk Mitha"


"Oh ya? Rio ikut?"


"Rio di tempat papa ia sedang sekolah tidak bisa ikut. Kenapa kau terlihat begitu senang?"


"Ah tidak"


"Apa kau tidak akan menceritakan tentang Kevin pada Rio?"


Aldi terdiam wajahnya kaku dan rahangnya terlihat menegang.


"Maafkan aku, aku tidak akan bertanya apa-apa lagi" Claries segera menunduk menyadari ia salah bicara.


"Suatu saat Rio akan tahu jika saatnya tiba. Saat ia sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk"


Claries mengangguk dan tidak bertanya apapun lagi.


***

__ADS_1


Adrian membawa beberapa bingkisan untuk Mitha. Ia juga membawakan kotak makan siang yang sudah Mitha pesan yaitu masakan pak Han. Adrian sumringah berjalan menuju kamar perawatan Mitha.


Mitha terlihat lebih segar, ia mengenakan dress bunga-bunga selutut dan rambut di tata rapi oleh suster yang merawatnya. Aldi sengaja meminta seorang suster khusus menjaga adiknya.


"Adrian bagaimana penampilanku?" tanya Mitha sambil menatap sumringah ke wajah Adrian.


"Anda ..cantik sekali"


"Terimakasih, kau membawa pesananku?"


"Iya ini masakan pak Han untuk anda, dan ini ada gaun dan alat make-up baru saya beli tadi"


"Kau baik sekali Adrian, ayo kita ke taman" Mitha mrnggamit lengan Adrian. Pria itu nampak grogi dan canggung. Belum pernah ia membayangkan Mitha menggamit lengannya seakrab ini. Apalagi jika ada Aldi, Adrian tidak akan berani sedekat ini pada Mitha.


Keduanya duduk di bangku taman di bawah pepohonan yang rindang. Di hadapan mereka ada bunga mawar yang sedang mekar.


"Kau tahu aku yang menanam bunga itu dengan suster"


"Tolong kau petik satu untukku"


Adrian berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati sekuntum mawar merah. Ia memetiknya dengan hati-hati dan menyerahkannya pda Mitha. Mitha menyelipkan kuntum bunga mawar itu di atas telinganya. Ia nampak cantik dan manis. Rambut tebalnya yang kecoklatan dan ikal dipadu dengan kuntum mawar yang indah. Adrian sampai tidak berkedip dibuatnya.


"Adrian!"


Suara Mitha membuyarkan hayalan Adrian. "Cepat suapi aku, aku lapar"


"Baik bu"


"Jangan panggil bu, panggil Mitha saja. Kenapa kau selalu kaku Adrian?"

__ADS_1


"Maaf bu saya tidak bisa memanggil anda dengan nama saja"


"Kenapa?"


"Ini sudah tugas saya untuk profesional memanggil pak Aldi dan keluarganya bukan hanya dengan sebutan nama saja"


"Ah aku tidak mengerti, yasudahlah"


Adrian tersenyum dan menyuapkan makanan untuk Mitha. Sesekali ia membersihkan ujung bibir Mitha yang terkena bekas makanan.


"Adrian kau bacakan ini untukku ya" Mitha menyerahkan sebuah novel yang cukup tebal. Itu novel roman yang Adrian sudah bisa menebak isi ceritanya. Dari judulnya pasti itu tidak happy ending.


"Baiklah"


Adrian membuka lembaran yang di beri pembatas oleh Mitha. Adrian terkejut pembatas buku yang di pakai Mitha adalah foto Adrian, Mitha dan Rio saat mereka menjenguk Mitha dan bermain di taman rumah sakit. Foto itu nampak seperti foto keluarga bahagia yang seolah tak terjadi apa-apa.


"Adrian ayo baca!"


_____Kairo nama si tokoh pria dalam novel itu. Dan Ramania nama si tokoh wanita di novel itu.


"Kairo amat sangat mencintai Ramania dan ia berniat untuk melamar Ramania pada ayah Ramania. Kairo membawa serta ayahnya untuk mendatangi rumah sang gadis. Alangkah terkejutnya Kairo ketika melihat segerombolan saudagar kaya raya berada di rumah Ramnia. Saudagar itu terlihat gembira karena baru saja meminang Ramania untuk menjadi istrinya.


Kairo yang belum sempat melamar Ramania langsung patah hati yang begitu dalam. Gadis yang ia cintai dilamar oleh pria lain yang kastanya lebih tinggi dari Kairo. Kairo tidak berhasil menemui Ramania sekedar mengucapkan salam perpisahan. Ia pergi bersama ayahnya mengembara untuk berdagang. Ia berpisah lama dengan kekasih hati dan cintanya, tapi tak pernah sedetikpun Ramania pergi dari hati dan pikirannya........."


Ponsel Adrian berbunyi, ia meraihnya dari dalam saku jasnya. Aldi menelponnya untuk segera kembali karena ada pekerjaan yang harus di handel Adrian.


"Bu Mitha kita lanjutkan besok lagi ya baca novelnya, saya harus segera pulang pak Aldi menelpon saya"


"Yasudah, tapi besok kau mampir ya" Mitha terlihat memohon pada Adrian.

__ADS_1


"Iya besok saya mampir dan melanjutkan baca novelnya lagi"


Adrian bergegas meninggalkan rumah sakit dan menuju mobilnya. Ia memacu mobilnya menuju gedung Zaman Group.


__ADS_2