CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 21 Bahaya Mengancam bagian 2


__ADS_3

"Gila itu cukup beresiko!" Fani terlihat kurang setuju dengan Aldi. Ia sedang berada di ruangan meeting VVIP Zaman Group. Ruangan itu terasa dingin mencekam. Fani tahu Aldi sudah terbiasa dengan semua ini tapi ia tetap cemas karena masalah dengan para mafia itu bukan sesuatu yang main-main.


"Kau cukup diam dan tidak perlu ikut campur! aku dan Adrian akan menyelesaikan semua. Tugasmu tetap menjalankan mega proyek kita sesuai rencana" kata Aldi tegas.


"Baiklah Jika kau butuh bantuanku katakan segera. Meski aku yakin Claries akan bebas dan senang jika sesuatu mungkin terjadi padamu"


"Kau yakin adikmu tidak sedih jika terjadi sesuatu padaku, kakak ipar?" Aldi menatap Fani keduanya berdiri berhadapan. Fani tidak menggubris dan bergegas pergi meninggalakn ruangan meeting.


Sepertinya aku akan memberi tahu Claries soal ini.


"Liona kita ke tempat dokter Claries"


"Baik pak"


***


Claries terlihat sibuk dengan pasiennya. Ia memeriksa kondisi pasien yang selesai di operasi dua hari yang lalu. Fani menunggu di ruang kerja Claries. Ia mengamati foto kedua orang tua mereka yang terpajang di meja kerja Claries.


"Kau sudah lama?" Claries menghampiri kakaknya dan memeluknya.


"Lumayan, apa kau ada waktu dokter? aku ingin bicara"


"Tentu saja" Claries menggamit lengan kakaknya dan berjalan menuju rumah makan yang tidak jauh dari Medina Hospital.

__ADS_1


"Apa ada yang penting?" Claries menatap wajah kakaknya yang sedikit gelisah dan cemas.


"Ini tentang bisnis yang aku tangani bersama perusahaan Aldi. Apa kau sudah mendengar sesuatu terjadi?"


"Apa ini mengenai para mafia itu?"


"Benar, apa dia sudah memberitahu mu?"


"Tidak, tapi aku tidak sengaja mendengar Aldi bicara dengan asistennya"


"Apa kau cemas padanya?" tanya Fani menyelidik. Ia ingin tahu reaksi adiknya.


"Kurasa dia terbiasa dengan hal ini" kata Claries sembari meminum jusnya.


"Apa maksudmu? tentu saja aku tidak akan melakukan itu untuknya. Liza memang mencintainya"


"Lalu bagaimana dengamu, apa kau tidak mencintainya?" Fani menatap lekat wajah adinya. Mata Claries selalu tidak bisa membohonginya. Ia bermain sedari kecil dan tumbuh bersama dengan adiknya. Fani bahkan tahu hal kecil yang di sembunyikan Claries darinya.


"Tidak!"


"Baiklah kuharap itu jawaban jujur" gumam Fani.


***

__ADS_1


Claries pulang ke rumah Aldi. Ia berjalan menuju kamarnya. Dilihatnya Aldi keluar dari kamar Liza. Kali ini Aldi mengenakan pakaian yang tidak biasa. Ia memakai celana jeans hitam dan jaket kulit berwarna hitam.


"Hai dokter kau sudah pulang?" sapa Aldi sambil berjalan menuju ke kamarnya. Claries mengikuti Aldi dari belakang. Aldi berjalan cepat menuruni anak tangga menuju lantai bawah tanah tempat dulu ia menculik dan mengurung Claries. Aldi meraih sebuah senapan pendek dan memasukannya ke dalam pinggangnya.


Adrian menunggunya di luar kamar. Berdiri dengan pakaian serupa yang di kenakan Aldi.


"Mau pergi kemana?" tanya Claries pada Adrian.


"Maaf bu saya tidak bisa memberi tahu"


"Ku mohon Adrian katakan kalian akan kemana? kenapa berpakaian seperti ini? dimana stelan jas-mu?"


"Maaf bu sebaiknya anda tanyakan pada pak Aldi saja"


"Ada apa ini?" Aldi keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya. Ia sudah tahu Claries tadi mengikutinya ke ruang bawah tanah.


"Kau mau kemana?" tanya Claries cemas.


"Sayang, jangan khawatir seperti itu, kau membuatku merasa di cintai jika kau bertingkah seperti ini" kata Aldi sembari tertawa menatap wajah lugu Claries yang kesal dengannya.


"Tunggu!" Claries berjalan mendekat pada Aldi yang hampir menuruni anak tangga menuju lantai utama.


"Apa kau akan bertemu mereka?" tanya Claries mulai khawatir. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa merasa secemas itu pada pria jahat di depannya. Tapi biar bagaimana Claries memang mencintai Aldi dan jujur ia tidak ingin sesuatu terjadi pada Aldi.

__ADS_1


"Tenanglah, aku akan kembali" Aldi mengecup kening dan bibir Claries lalu pergi di ikuti Adrian di belakangnya.


__ADS_2