CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 57 Dia Yang Kembali


__ADS_3

Seorang wanita tinggi semampai berdiri di pelataran sebuah rumah sakit. Ia mengenakan kaca mata hitamnya sembari berjalan menuju mobil yang terparkir disana. Rambut pendek sebahu yg terlihat modis membuat wajah mungilnya lebih segar.


"Cari tahu tentang dokter Claries Hendrawan Ibrahim dan segera beritahukan padaku"


"Baik bu" jawab seorang pria yang sedang mengemudi.


Kau tidak akan tenang setelah merampas miliku. Aku akan kembali dan merebutnya darimu.


Mobil sedan hitam melaju pelan di depan pagar rumah yang terlihat tinggi. disamping pagar tinggi itu ada pepohonan yang juga tinggi dan rindang. Di balik pagar itu sekarang ada sebuah keluarga kecil yang bahagia. Wanita di dalam mobil tersenyum pahit mengenang semuanya. Ia adalah Liza, wanita itu telah kembali.


Liza kembali dari luar negeri dengan penampilan barunya. Wajahnya terlihat berbeda karena sudah bersentuhan dengan pisau bedah saat ia kecelakaan mobil setelah berpisah dari suaminya.


Kini tidak akan ada yang mengenalinya. Tidak Aldi maupun Claries yang amat ia benci. Sampai saat ini ia belum bisa merelakan Aldi untuk siapapun. Ia sangat mencintai pria itu sejak kecil. Meski Aldi tidak mencintainya ia tidak peduli.


Mobil sedan hitam itu berlalu pergi meninggalkan jalanan di depan rumah mewah itu.


***


"Sayang bangunlah sudah siang" Claries membangunkan Aldi yang masih pulas. Claries meraba wajah tampan itu dan mengikuti setiap lekuk disana. Wajah Aldi adalah pahatan yang indah seperti patung Yunani.


Aldi meraih tangan Claries dan mengecupnya.


Ia menarik Claries kedalam pelukannya.


"Lima menit lagi, aku masih ingin memelukmu" gumam Aldi yang menggeliat dari balik selimutnya. Ia memeluk erat tubuh Claries dari belakang.

__ADS_1


"Apa orang hamil muda boleh melakukan hubungan intim?"


"Kalau sekarang belum boleh sayang masih rawan. Nanti sekitar 3 atau 6 bulan usia kandungan"


"Oh aku harus menahan selama itu? secara kau terus menggodaku dengan kecantikanmu?"


Claries mencubit dada bidang Aldi yang terlihat polos tanpa baju. Aldi mengerang kesakitan dan mempererat pelukannya.


"Sayang mungkin Adrian sudah menunggu di bawah"


"Biarkan dia, itu tugasnya"


"Baiklah big bos..."


Di lantai bawah Adrian sudah rapi dengan stelan jas hitamnya. Ia ke dapur menemui ayahnya dan Yaya. Pak Han membuatkannya sarapan dan secangkir kopi.


"Pak Han aku juga mau sarapan" Mita tiba-tiba muncul dengan pakaian yang juga sudah rapi. Pagi sekali ia datang ke rumah Aldi sengaja untuk mencari Adrian.


Mitha mengenakan kemeja satin berwarna biru muda. Wajah cantiknya terlihat pas dengan riasan natural. Mitha memiliki wajah yang mirip dengan Aldi. Keduanya menuruni darah campuran dari Ibrahim Zaman ayah mereka.


Mitha menarik kursi dan duduk di hadapan Adrian yang menyesap kopinya.


"Anda bisa sarapan di meja makan" kata Adrian sembari menghindari tatapan Mita.


"Kenapa? aku ingin sarapan bersamamu"

__ADS_1


Pak Han mengamati keduanya sambil membuatkan wafel dan jus untuk Mitha.


"Apa anda masih merasa pusing?" Adrian terlihat sedikit cemas.


"Tidak, tapi terimakasih kemarin kau sudah menggendongku dan meninggalkan nona Wang" kata Mitha sumringah.


Adrian tersedak kopinya. Disaat yang sama pak Han sedang meletakkan makanan di atas meja di hadapan Mitha. Pak Han melirik Adrian yang juga sedang memandang pak Han.


Jangan sampai ayah juga salah paham. Nanti akan ku jelaskan padanya.


Mitha lahap menikmati sarapannya. Sedari tadi ia sengaja menatap wajah tampan Adrian yang gelisah tidak mau memandangnya. Adrian berdiri dari duduknya dan segera menunggu Aldi di mobil.


"Pak Han..." Mitha memanggil pak Han yang baru selesai menyiapkan sarapan di meja makan utama. Sebentar lagi pasti Aldi dan Claries akan turun makan pagi.


"Ada apa mbak Mitha..."


"Apa aku jelek?"


"Anda sangat cantik" pak Han sedikit heran dengan Mitha tapi ia tersenyum ramah.


"Lalu kenapa putramu tidak jatuh cinta padaku?"


Pak Han tertawa, tidak menjawab pertanyaan bodoh Mitha.


Seandainya anda peka, anak nakal itu sudah jatuh cinta pada anda sejak dulu. Saya tahu dia tulus mencintai anda.

__ADS_1


__ADS_2