
Dokter Claries sedang berada diruang kerja dokter Wahyu. Keduanya meeting untuk evaluasi Medina Hospital yang di lakukan setiap sebulan sekali dan diserahkan kepada Aldi Ibrahim selaku pimpinan perusahaan yang menaungi rumah sakit itu.
"Kemarin kau membuatku cemas Clair.."
"Kenapa dokter?"
"Kau bisa bayangkan jika pasien koma? kau masih ingat dengan kasusmu dulu? Clair.... kami tidak memiliki dokter sebaik dirimu lagi jika suami pasien kembali menggugat rumah sakit kita" Dokter Wahyu menyindir Claries sambil berkelakar. Claries tertawa mengingat dulu Aldi menuntutnya dan ingin memenjarakannya. Tapi malah mereka menikah, sekarang menjadi suami istri dan saling mencintai.
"Benturan di perut pasien cukup keras dokter, itu menyebabkan luka dalam yang mengeluarkan banyak darah, jalan satu-satunya adalah tetap menjalankan operasi.
"Oh ya dokter, ada dokter gigi bari di rhmah sakit ini?"
"Dokter baru....?" dokter Wahyu nampak mengingat.
"Iya namanya dokter Liona"
"Oh Liona iya benar dia seminggu ini bekerja aktif di rumah sakit ini. Kau mengenalnya?"
"Iya lumayan..."
"Kalau begitu saya permisi duku dokter"
"Silahkan Clair..."
Claries keluar dari ruangan dokter Wahyu. Ia meliat Fani sedang duduk di antrean tempat praktek dokter Liona.
"Sejak kapan kakak sakit gigi?" Fani nampak terkejut melihat Claries sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Clair? bukankah hari ini kau tidak ada jadwal paraktek?"
"Oh jadi kakak menghindariku?"
"Bukan, kalau aku tahu kau ada disini aku akan menemuimu tadi"
"Aku sedang ada meeting dengan dokter Wahyu. Kakak belum menjawabku sejak kapan kakak sakit gigi dan tidak bilang padaku?"
Fani terlihat salah tingkah, ia malu jika sampai Claries mengetahui kalau ia sedang menunggu Liona.
"Kakak...sedang menunggu Liona"
"Aha....aku ingin bicara, ayo keruang kerjaku kak, aku akan menelpon Liona untuk menunggumu nanti"
Tidak ada pilihan lain, Fani mengikuti langkah Claries menuju ruang kerjanya.
"Sejauh apa....?" Fani terlihat ragu, ia tidak tahu harus memulai cerita dari mana.
"Kakak kau tahu kalau Tiara juga menyukaimu? lalu kenapa kau mendekati Liona?"
"Clair kau juga tahu kita dan keluarga Biantoro adalah satu keluarga. Kakak menganggap Tiara seperti adik kakak"
"Tapi Tiara tidak begitu, dia menyimpan rasa suka pada kakak. Aku tahu itu, tante Adelia juga tahu betul hal itu"
"Kakak rasa Tiara tahu jika kakak dekat dengan Liona" kata Fani.
"Aku rasa dia tidak tahu jika kakak benar-benar mencintai Liona. Karena itu tolong segera putuskan siapa yang kakak pilih dan jelaskan pada mereka"
__ADS_1
"Baiklah....kakak pergi dulu"
"Sampai jumpa" Claries memeluk Fani.
Liona sudah menunggu Fani di depan ruang kerja dokter Claries.
"Hai...kau sudah selesai?" tanya Fani. Liona mengangguk dan tersenyum ramah.
"Ayo kita pergi" Fani menggandeng tangan Liona sambil berjalan meninggalkan Medina Hospital. Di kejauhan Claries memandang kakaknya, ia hanya menggelengkan kepala.
Claries meraih ponsel di dalam saku jasnya. Ada pesan dari Aldi yang memintanya pulang. Claries bergegas melepas jas putihnya dan menyambar tasnya. Ia berjalan menuju parkiran.
Aldi pasti sudah sampai di rumah dari tadi. Ia mungkin sedang menggendong dan menenangkan Dylan yang rewel. Di luar dugaan Claries, Aldi adalah seorang pria yang begitu menyayangi anak kecil. Sama seperti ia menyayangi Rio, Aldi juga over sayangnya terhadap Dylan putra kandungnya.
Sesampainya di rumah Claries melihat Aldi sedang menggendong Dylan yang tertidur di bahu ayahnya.
"Sayang aku ganti baju dulu.." Claries segera mengganti bajunya dengan baju terusan yang nyaman. Ia bergantian menggendong Dylan.
"Sayang kau sudah makan?" tanya Claries pada Aldi.
"Sudah, setelah ini aku mau bicara"
"Tentang apa?"
"Lusa aku harus ke luar negeri untuk urusan bisnis"
"Baiklah, nanti kita bicara..."
__ADS_1