
Pesta yang mewah dan meriah sedang di gelar di salah satu gedung perusahaan Zaman Group. Ayah Aldi yaitu Ibrahim Zaman selaku pendiri perusahaan akan hadir untuk memotong kue dan memberi sedikit sambutan. Selanjutnya Aldi yang akan memberi sambutan dan menjamu koleganya.
Aldi datang dengan Claries, Istri presdir itu nampak cantik sekali seperti boneka barby. Adrian membisikan sesuatu kepada Aldi. Ia berdiri di samping Aldi dan berbicara pelan.
Claries tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Tatapan Aldi langsung menjurus ke seorang wanita yang berdiri dengan segelas minuman di tangannya. Dia adalah Gwena.
Claries ikut memandang wanita itu. Ia ingat kemarin sempat berpapasan dengan wanita itu di rumah sakit.
"Sayang siapa wanita yang berdiri disana?" tanya Claries pada Aldi.
"Dia adalah kolega baru perusahaan, ia cukup berpengaruh karena perusahaannya adalah mitra penting kita"
"Sayang aku seperti......" Claries belum meneruskan kalimatnya karena Aldi di ajak seorang tamu undangan untuk bertemu tamu yang lain. Claries mengamati wanita itu dari kejauhan dan detik yang sama wanita itu juga menatap Claries dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Keduanya saling pandang cukup lama. Saling mengamati penampilan satu sama lain. Claries semakin curiga jika wanita yang berdiri di sana adalah Liza. Hanya saja Liza datang dalam versi yang berbeda.
Claries belum punya bukti apapun untuk menuduh jika wanita itu adalah Liza. Satu-satunya bukti adalah luka bekas operasi Liza dulu yang terletak di punggung, dada dan perut. Sulit jika Claries harus mendekati wanita itu dan memintanya menunjukan area tadi.
__ADS_1
Pesta di mulai dengan meriah ada hiburan dari beberapa penyanyi terbaik. Selesai hiburan, bapak Zaman berdiri di podium untuk memberi sambutan dan bersiap untuk acara potong kue serta menggunting pita untuk keberhasilan proyek kota A.
"Hai Clair" Fani menghampiri adiknya yang terlihat seorang diri.
"Kakak?" Claries memeluk Fani. Ia senang Fani ada diantara tamu undangan itu.
"Kau pasti bingung berada di tengah pesta ini?" kata Fani seraya mengajak adiknya duduk di sudut ruangan yang sudah tertata meja dan kursi untuk dinner.
"Ya aku bingung karena ini bukan pergaulanku"
"Oh ya aku sekarang bekerja di rumah sakit milik yayasan om Indra"
"Apa kalian berbicara tentang Tiara?"
"Ya, kakak akan menjemput Tiara di bandara jika ia kembali nanti"
"Apa kakak mulai menyukainya?"
__ADS_1
"Entahlah"
Aldi menghampiri Claries yang terlihat berbicara dengan Fani.
"Oh ada kakak iparku rupanya, apa kau datang sendiri?" tanya Aldi basa-basi.
"Iya aku datang sendiri"
Sesungguhnya hubungan antara kakak ipar dan adik ipar itu belum begitu membaik. Keduanya masih selalu sindir dan kaku jika bertemu. Tapi mereka profesional di urusan pekerjaan.
"Ahh sudahlah hentikan kalian berdua...jangan memulai kekacauan lagi" Claries menengahi situasi.
"Ayo sayang kita berdansa sebelum makan malam di mulai" Aldi mengajak Claries ke lantai dansa dan meninggalkan Fani.
Sementara Gwena terus saja menatap Aldi dan Claries yang sedang berdansa. Ia merasa cemburu dan marah. Seharusnya dirinyalah yang mendampingi Aldi di acara sebesar itu.
Di sudut ruangan yang tak begitu jelas. Adrian sedang berdiri menatap Gwena yang terus memperhatikan big bosnya.
__ADS_1
Kita lihat saja nyonya, sejauh mana pergerakan anda untuk menyerang pak Aldi. Saya ingin lihat keberanian yang anda miliki. saya yakin anda buka berniat bekerja sama dalam bisnis. Tapi berniat mendekati presdir kami.