
"Aku ingin kalian singkirkan Adrian sekarang juga" Gwena terlihat emosi dan menatap anak buahnya.
"Dia adalah penghalang terbesar untukku memasuki keluarga Zaman. Jika dia dihabisi lebih dulu itu akan memudahkanku"
"Baik nyonya"
***
"Dengan cara apa sayang aku tahu kalau ada bekas operasi di tubuh wanita itu?"
"Dengan satu cara...."
Claries membisikan sesuatu rencana pada Aldi.
"Gila! aku tidak mau Clair!"
"Ayolah sayang ini hanya sandiwara"
__ADS_1
Claries meminta Aldi menjebak Gwena seolah akan tidur bersama. Rencana itu didahului dengan makan malam romantis lalu keduanya akan menginap di hotel berbintang dan Aldi harus menjalankan rencana yang Claries minta.
"Claries jika benar ia adalah Liza aku bisa langsung membongkar sandiwaranya tapi jika ternyata bukan?! apa aku harus bermesraan dengannya sementara ada istri yang kucintai di rumah?!"
Aldi terlihat gusar dan marah. Ia tidak berminat dengan wanita manapun setelah bersama Claries. Aldi menjaga kesetiaannya hanya untuk istrinya itu.
Claries memeluk Aldi dari belakang dan mengusap dada suaminya yang bergemuruh karena marah.
"Sayang aku minta maaf, tapi ini adalah jalan satu-satunya. Hati kecilku yakin wanita itu Liza. Sebelum semua menjadi semakin berbahaya. Aku rasa dia kembali untuk menghancurkan kita dan dia pasti tidak main-main dengan rencananya"
Aldi terdiam sejenak, ia tahu Liza sejak mereka masih kecil. Liza pendiam tapi cenderung agresif jika menginginkan sesuatu. Liza juga termasuk wanita mandiri dan kuat karena ia sudah tidak memiliki orang tua sejak remaja.
"Ayo kita makan aku lapar" Aldi mengusap rambut Claries dan mengajaknya turun ke rumah utama untuk makan.
Pak Han menghidangkan banyak makanan enak diatas meja makan. Aldi mengedarkan pandangannya mencari sosok asistennya yang tak terlihat batang hidungnya sejak tadi.
"Dimana Adrian?" tanyanya pada pak han.
__ADS_1
"Adrian bilang akan kemari tapi ponselnya tidak aktif waktu saya telpon pak" Jawab pak Han seraya menuangkan air minum ke dalam gelas-gelas yang tertata di atas meja makan.
Aldi melirik Mitha yang terlihat santai menikmati salad buah. Merasa kakaknya mencurigainya Mitha segera menghentikan makannya.
"Aku tidak tahu Adrian dimana, terakhir bertemu kemarin sewaktu ia kemari bermain dengan Rio"
"Sayang kau makanlah dulu" Aldi berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerjanya.
"Kakak ipar makanlah, kak Aldi akan gelisah jika sehari Adrian tidak disisinya" kata Mitha sambil tersenyum. Pak Han terlihat terdiam dan berpikir sesuatu yang janggal. Tidak biasanya Adrian menghilang tanpa kabar. Ia jelas tahu kenapa Aldi terlihat cemas. Pasti ada yang tidak beres.
Pak Han kembali ke paviliun dan mencoba menghubungi Adrian. Tapi nihil panggilan teleponnya tidak tersambung.
Aldi di ruang kerjanya terlihat sibuk dengan laptopnya. Ia melacak keberasaan Adrian. Sinyal pencarian menunjukan Adrian berada di sebuah tempat yang jauh dari kota. titik merah di layar laptop memperlihatkan sebuah tempat di pinggiran kota.
Untuk apa Adrian kesana? aku tidak memberinya perintah apa-apa. Mustahil ia tidak bilang jika akan pergi kesuatu tempat karena ada urusan pekerjaan atau bahkan masalah pribadi.
Aldi menyambar jaket kulit berwarna hitam. Ia bergegas pergi dengan mobilnya. Claries yang masih makan bersama Mitha terlihat terkejut dan mencoba mengejar Aldi. Tidak biasanya Aldi pergi tanpa pamit.
__ADS_1
"Mitha kakakmu mau kemana ya.....?"
"Aku rasa kak Aldi akan mencari Adrian" Mitha mulai terlihat cemas. pasti ada sesuatu dengan Adrian sampai Aldi terlihat ikut panik dan pergi terburu-buru.