CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 73 Liona


__ADS_3

Pagi sekali Fani berangkat ke kantor, setelah ia menikmati sarapan buatan bi Wasti. Fani sedang mencari supir baru karena Liona sekarang sudah ia angkat menjadi sekretarisnya. Liona juga melanjutkan kuliah kedokteran yang sempat tertunda beberapa waktu karena terkendala biaya. Fani yang membiayai keperluan Liona. Untuk biaya semesteran Liona tetap mendapat biasiswa.


"Pagi pak" sapa Liona yang tampak manis dengan stelan kerjanya.


"Pagi, meeting hari ini di mulai jam berapa?" tanya Fani sambil memainkan ponselnya. Ia terlihat membalas beberapa pesan dari koleganya melalui ponselnya.


"Jam sembilan pak"


"Siapkan materinya"


"Baik pak"


"Liona..."


"Iya pak"


"Nanti saya ingin bicara, kamu ikut pulang ke rumah. Saya mau bicara hal pribadi"


"Baik pak"


Pasti pak bos akan bertanya soal kuliahku.


Liona terlihat sibuk menyiapkan materi untuk meeting nanti. Beberapa yang sudah di print ia serahkan pada Fani untuk di tandatangani.


Fani terlihat mengikuti meeting selama dua jam. Ia juga pergi ke kantor Zaman Group untuk bertemu Aldi. Mereka akan membahas proyek kerja sama di kota A yang baru akan selesai tahun depan.


Aldi sedang duduk di ruang kerjanya ketika Fani Hendrawan datang. Adrian mempersilahkan Fani memasuki ruang kerja presdir Zaman Group itu.


"Silahkan pak"


"Terimakasih Adrian"


Seperti biasa meski Aldi dan Fani terlibat dalam beberapa proyek kerja sama mereka tetap dingin dan angkuh satu sama lain. Hubungan kakak ipar dan adik ipar itu tidak juga mencair.


"Oh ya aku ingin bertanya kabar Claries sebelum kita mengurusi pekerjaan" kata Fani sembari duduk di kursi tepat di depan meja kerja Aldi.


Aldi mengalihkan perhatiannya dari laptopnya. Ia menatap Fani yang kini duduk di hadapannya.


"Claries baik-baik saja kakak ipar" kata Aldi setengah tersenyum.


"Bagus, aku menelponnya dua hari yang lalu, jadi akan baik jika aku bertanya kabarnya melalui kau suaminya"

__ADS_1


"Tentu, apa masih ada yang ingin kau tanyakan tentang Claries lagi?"


"Tidak, kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumahmu"


"Akan aku tunggu hari istimewa itu, kau kabari aku"


Fani mengangguk, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya pada adik iparnya yang tengil itu.


"Aku sudah tahu semua tentang Liza, jadi ku harap kau tidak hanya bermulut besar tapi kau juga benar-benar menjaga adikku!"


"Jangan khawatir kakak ipar, adikmu adalah segalanya bagiku. Aku akan menjaganya melebihi diriku. Bukan begitu Adrian?"


Adrian yang berdiri di dekat keduanya merasa jengah. Ia mengangguk dengan sopan menjawab pertanyaan bosnya barusan.


Kapan mereka akan akur, setidaknya mereka tidak kekanakan seperti sekarang ini.


"Adrian tolong kau antar kakak iparku, maksudku bapak Fani Hendrawan ke ruang meeting. Aku akan menyusul nanti"


"Mari pak ikut dengan saya" Adrian mengajak Fani berjalan menuju ruang meeting. Di ruangan sudah tampak hadir para staff yang akan ikut dalam meeting siang itu.


***


"Siapa pak?" tanya Liona yang terlihat mengemudikan mobil Fani. Liona mengemudi karena Fani terlihat lelah. Ia mengantar bosnya pulang kerumah sekaligus akan bicara penting sesuai permintaan Fani tadi pagi.


"Siapa lagi kalau bukan Aldi Ibrahim"


"Oh hehehe"


"Kenapa kau tersenyum begitu?"


"Maaf pak"


"Aku masih tidak habis pikir adikku bisa mencintai pria semacam dia!"


Liona terdiam dan menatap Fani dari kaca spion. Wajah Fani yang kelelahan setelah bekerja seharian malah rerlihat semakin tampan menurut Liona.


"Liona.."


"Iya pak..."


"Hmmmm ....rumah ku sudah terlewat, memang kau mau membawaku kemana?"

__ADS_1


"Hah!....maaf pak saya tidak sengaja"


"Kau pasti tidak fokus, cepat putar balik!"


"Iya pak Maafkan saya"


Liona memutar balik kendaraan menuju rumah bosnya yang sudah terlewat. Ia sibuk mengamati wajah Fani dari spion sampai ia tidak sadar jika seharusnya mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Fani bergegas masuk kedalam rumah begitu turun dari mobil. Liona mengikuti dari belakang sembari membawakan tas kerja Fani.


"Eh mbak Liona sudah lama tidak kemari?" bi Wasti terlihat menyambut di depan pintu rumah.


"Iya bi, saya masuk dulu ya, pak bos mau bicara sama saya"


"Iya silahkan"


Fani melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya. Ia juga melepas kancing kemejanya di bagian leher dan dada. Terlihat macho dan sangat keren ....menurut Liona.


"Bagaimana kuliahmu?"


Benarkan ia akan bertanya tentang kuliahku.


"Lancar pak, semester depan saya sudah akan mengambil tugas akhir"


"Bagus, apa saja yang kau perlukan setelah lulus? kurasa kau bisa ikut bekerja di rumah sakit milik Aldi"


Pasti maksudnya Medina Hospital, itu rumah sakit elit. Apa bisa aku diterima disana.


"Setelah lulus nanti saya akan coba ikut tes jika disana di buka lowongan untuk dokter gigi pak"


"Baiklah, kalau begitu kau boleh pulang"


"Pulang pak?"


"Iya, kenapa? apa kau mau menginap disini?"


"tidak pak, saya pamit dulu"


"Hmmm"


Liona bergegas pulang naik taxi online. Sementara Fani beristirahat di kamarnya setelah seharian lelah bekerja.

__ADS_1


__ADS_2