CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 42 Seberapa Besar Kau Mencintainya?


__ADS_3

Pagi sekali Adrian sudah bersiap dengan stelan jas yang terlihat rapi seperti biasanya. Ia sudah sampai di rumah Aldi dan mulai memanasi mesin mobil. Setengah jam lagi mereka harus sudah sampai di bandara untuk melakukan penerbangan ke kota A.


Aldi terlihat bersiap dengan kemeja dan dasinya. Ia teringat Claries yang dulu suka memadu padankan kemeja dan dasi untuknya. Wanita itu juga selalu rapi jika mengikat dasi. Aldi tersenyum dan dengan cepat mengenakan jasnya. Ia menata rambutnya dan disisip rapi ke belakang.


Pah Han sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Yaya terlihat menuangkan minuman ke dalam gelas.


"Yaya katakan pada pak Han aku mau kopi"


"Baik pak"


"Adrian siapkan semua jangan sampai tertinggal, kita adakan meeting di sana sebelum peresmian"


"Baik pak, saya sudah siapkan semua"


"Berapa waktu yang kita miliki untuk meeting sebelum acara peresmian?"


"Sekitar 25 menit pak"


"Kirim email sekarang juga pada semua yang terlibat terutama Fani. Kita akan adakan meeting besar begitu sampai di sana"


"Baik pak" Adrian menyalakan laptopnya dan mulai mengetik, ia mengirim email pemberitahuan meeting pada semua kolega dan karyawan yang terlibat proyek baru itu.


Selesai sarapan Aldi dan Adrian segera berangkat ke bandara.


***


Claries bersiap berangkat ke rumah sakit. Kakinya masih terasa ngilu dan sedikit nyeri. Tapi ia bosan di rumah dan tidak ada kegiatan. Claries berangkat bekerja dengan di bonceng Firman menaiki sepeda kecil.


Keduanya terlihat bergurau sambil tertawa mengenang Claries yang kemarin jatuh dari sepeda.


"Oh ya Claries hari ini aku dengar ada peresmian pembangunan gedung besar di dekat sini"


"Iya aku tahu"


"Kau sudah tahu ya...sepertinya di sini akan menjadi kota besar nanti karena pasti banyak pendatang dari kota lain juga yang ingin bekerja di perusahaan itu"


Claries terdiam ia mengingat Aldi.


"Claries...kau mendengarku bicara?"


"Ah iya aku dengar"


Di kejauhan, Aldi di dalam mobilnya menatap dua orang sedang menaiki sepeda. Keduanya terlihat akrab. Wanita yang membonceng itu terlihat tertawa. Aldi jelas mengenal wanita itu.


"Adrian apa Fani sudah tiba?"


"Sudah pak"


"Bilang padanya dan yang lain juga lima menit lagi meeting di mulai"

__ADS_1


"Baik pak"


Aldi masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak sebagus dan semewah ruang kerjanya di Zaman Group. Ruangan itu hampir mirip rumah warga yang di pinjamkan untuk meeting pagi itu.


Aldi memimpin meeting seperti biasa, ia dan Fani berinteraksi dengan baik. Selanjutnya meeting diambil alaih oleh Adrian. Sementara Aldi mengobrol berdua dengan Fani di sebuah ruang tamu kecil.


Seorang wanita dengan ramah menyuguhkan minuman untuk keduanya.


"Apa kau mau menemui Claries?" kali ini Fani bertanya sebagai kakak ipar Aldi bukan sebagai rekan bisnisnya. Aldi paham hal itu, ia tersenyum mengingat tadi ia melihat Claries bermesraan di atas sepeda dengan seorang pria.


"Tidak"


"Bagus, kalau begitu" kata Fani sambil memperhatikan mimik muka Aldi yang terlihat diam tapi bimbang.


"Claries adalah adikku, ia bahkan sangat tidak pandai menyemnunyikan perasaannya di hadapanku. Kenapa kalian saling melukai jika memang masih saling suka?"


Aldi terkejut dengan ucapan Fani. Apa itu berarti Claries masih mencintainya atas semua yang sudah menimpanya.


"Mungkin kau berpikir Claries akan lebih bahagia atau kau lebih bagaia jika kalian berpisah, tapi kenyataannya yang ku lihat amat berbeda"


"Aku berpisah dengan liza secara resmi dan aku tidak pernah melepaskan Claries. Ia masih istriku tapi ku rasa ia akan lebih baik jika tidak melihatku" kata Aldi.


"Seberapa besar kau mencintai adikku?"


Aldi tersenyum sambil menunduk lalu mengusap wajah tampannya dengan kedua telapak tangannya.


"Fani, ..mungkin dulu kau tidak tahu jika sewaktu kecil kita sering bertemu di rumah orang tuamu. Saat usia ku sepuluh tahun saat itulah aku pertama kali melihat Claries. Aku ikut ayahku berkunjung ke rumah dokter Gavin Hendrawan yaitu ayahmu. Aku melihat kalian berdua sedang bermain di halaman. Saat itulah pertama kali aku mulai menyukai adikmu yang cantik itu"


"Ah aku ingat kau suka memberi hadiah pada Claries ketika kau datang ke rumah kami"


"Benar, dan aku sering memaksa ayahku untuk berkunjung ke rumah orang tuamu meski ayah sedang tidak ada keperluan dengan dokter Gavin"


Keduanya tertawa, suasana sedikit mencair antara kakak ipar dan adik ipar itu.


"Setelah itu aku mendengar kedua orang tuamu mengalami kecelakaan dan tiada. Dan aku tidak bisa menemukan kabar tentang kalian lagi. Aku mencoba mencari keberadaan kalian tapi nihil. Sampai suatu hari kedua orang tua Liza menitipkan Liza pada ayahku sebelum mereka diserang seseorang dan tidak pernah kembali lagi. Akhirnya setelah dewasa ayah menjodohkan ku dengan Liza dan kami menikah, karena kupikir aku tidak akan lagi bertemu Claries. beberapa bulan setelah pernikahan, aku sedang bepergian dengan Liza tiba-tiba ada yang menyerang mobilku dan mencoba menusukku tapi Liza melindungiku hingga terluka parah"


"Lalu kau membawa dia ke rumah sakit dan saat itu kau bertemu Claries?"


"Benar, tapi aku belum menyadari jika ia adalah gadis yang selama ini ku cari. Sampai aku kecewa karena Liza koma dan aku gelap mata menuntut Claries ke pengadilan. Barulah ketika ia tinggal di rumahku aku tahu semua jika dia putri ayahmu dokter Gavin Hendrawan"


"Lalu kau menikahi adikku?"


"Iya, aku berpikir tidak akan ada masalah karena pernikahan ku dan Liza adalah pernikahan tanpa cinta. Bahkan jika kau mau percaya aku tidak pernah menyentuhnya sedikitpun. Karena itu aku memberanikan diri menikahi Claries dengan mengancamnya" kenang Aldi sambil tersenyum.


"Kenapa kau tidak menjelaskan semua ini pada Claries?" tanya Fani gemas.


"Aku rasa Claries akan lebih baik jika tidak bersama ku"


"Apa kau pernah berpikir jika ia tersiksa karena berpisah darimu?"

__ADS_1


Aldi menggeleng dan diam. Ia duduk menerawang mengingat wajah Claries yang ia temui terakhir setelah kejadian memalukan di acara seminar kedokteran dulu.


"Aldi, kau tidak perlu menjawab seberapa besar kau mencintai adikku. Aku sudah tahu jawaban itu" kata Fani lalu berjalan pergi meninggalkan Aldi sendirian di ruang tamu itu.


Fani mendatangi adiknya di rumah sakit.


"Apa aku bisa bertemu dokter Claries?" tanya Fani pada suster Maya yang sedang berjaga.


"Aku kakak kandungnya" kata Fani lagi karena suster Maya terlihat ragu.


"Silahkan di sudut itu ruang kerja dokter Claries"


Fani menghampiri ruang kerja dokter Claries. Pintu terbuka dan terlihat Claries sedang berbicara dengan rekannya sesama dokter.


"Clair..."


"Kak Fani"


Firman terkejut melihat kedatangan Fani.


"Firman ini kakakku, kak ini dokter Firman rekan kerjaku disini"


Fani dan Firman saling berjabat tangan. Firman terlihat ramah dan mempersilahkan Fani untuk duduk.


"Kalau begitu aku pergi dulu" kata Firman bermaksud tidak ingin mengganggu.


"Tidak perlu dokter, kau bisa tetap disini. Aku juga ingin mengobrol denganmu" kata Fani. Firman kembali duduk di kursi sementara Fani duduk di atas ranjang perawatan.


"Clair kau tahu Aldi ada disini?" Claries langsung terdiam dan menunduk. Firman mendengarkan baik-baik. Ia seperti tidak asing dengan nama pria yang baru saja di sebut oleh Fani.


"Apa kau tidak ingin bertemu dengan dia dan mendengar penjelasannya?"


"Tidak"


"Jika kalian masih saling menyuki hilangkan sikap gengsi diantara kalian. Sampai saat ini dia masih suamimu"


Firman terkejut dan tersedak minumannya. kebetulan ia sedang meminum air mineral.


Jadi Claries sudah menikah dan ia sudah memiliki suami? suaminya adalah pengusaha yang kemarin tampilndi televisi itu?


"Kalau begitu kakak pergi dulu, kakak harus segera kembali ke kota masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan"


Claries terdiam menatap Fani dengan mata berkaca-kaca.


"Jaga dirimu baik-baik Clair lain kali kakak akan datang lagi"


" Oh... dokter Firman saya pamit dulu"


"Silahkan".....

__ADS_1


Fani sengaja bercerita di depan dokter Firman karena ia tahu pria itu pasti menaruh hati pada adiknya.


__ADS_2