
Dokter Firman sengaja menunggui dokter Claries di depan rumah. Ia duduk diatas sepedanya ketika Claries baru saja keluar rumah.
"Pagi dokter"
"Kau disini?" tanya Claries sambil menuntun sepedanya ke jalan.
"Aku sengaja menunggumu untuk berangkat bersama"
"Haha ayo...tapi aku akan ke tempat Sukma dulu"
"Sukma?"
"Sapi yang kuceritakan kemarin"
Firman tertawa sambil mengikuti Claries yang mengayuh sepeda didepannya. Keduanya menuju rumah nenek Jhony untuk melihat Sukma.
"Bu dokter Sukma sudah bisa berdiri" kata Jhony senang. Nenek muncul dari dalam rumah.
"Bu dokter terimakasih , Sukma sudah sembuh"
Claries dan Firman menuju kandang Sukma. Ada senyum bahagia memancar dari wajah cantik Claries. Firman diam-diam memperhatikannya.
"Oh ya mampir dulu ke dalam, aku sedang menyeduh teh" kata nenek.
"Baiklah" Claries mengajak Firman untuk minum teh bersama nenek dan Jhony.
Di ruang tamu sederhana yang terlihat bersih itu, Claries, Firman dan nenek saling bercerita sambil minun teh. Tidak terasa sudah jam sembilan saatnya Claries dan Firman kembali ke rumah sakit.
Diperjalanan Claries terjatuh dari sepedanya dan pergelangan kakinya terkilir. Claries menahan sakit di kakinya hingga wajahnya memerah.
"Claries kau tidak apa-apa?" Firman terlihat cemas sambil memegang pergelangan kaki Claries.
"Firman aku terkilir, sakit sekali"
"Kau tunggu dulu disini aku akan mengambil motor untuk menjemputmu"
Claries mengangguk, Firman memapah Claries ke pinggiran jalan bebatuan. Ia bergegas pergi dengan sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat.
Tak berapa lama Firman kembali dengan motor dan menjemput Claries menuju rumah sakit. Hasilnya pergelangan kaki Claries harus di perban dan ia diharuskan beristirahat dulu agar tidak banyak bergerak dan membuat cideranya semakin parah.
Firman kembali mengantar Claries pulang ke rumah. Ia memapah Claries ketika turun dari motor.
"Terimakasih sudah mengantarkanku pulang, lain kali aku akan mengundangmu minum teh bersama suster Maya juga"
"Baiklah kau istirahat saja dulu"
Firman bergegas kembali ke rumah sakit karena ia harus berjaga.
Sementara Claries duduk di sofa dan memijit pelan kakinya yang terkilir. Ia sudah meminum obat anti nyeri tadi jadi sakitnya lumayan berkurang.
***
Adrian menyiapkan berkas proyek baru di kota A yang akan menjadi salah satu cabang perusahaan Zaman Group.
"Apa semua sudah selesai?"
__ADS_1
"Sudah pak, tinggal pelaksanaan dan peresmian batu pertama"
"Bagus kalau begitu. Kurasa kakak ipar ku itu bekerja sangat cepat" kata Aldi tersenyum menyeringai.
"Pak Fani meminta anda untuk datang di acara peresmian batu pertama besok pak"
"Katakan padanya aku akan datang"
"Baik pak"
Aldi akan berjalan keluar ruangannya tapi ayahnya tiba.
"Aldi..."
"Papa, kenapa tidak mengabari kalau mau kemari?"
"Papa mau bucara sebentar"
"Duduk pa" keduanya duduk di sofa yang berada di ruang kerja Aldi. Sementara Adrian berdiri di dekat keduanya.
"Papa lihat berita kau membuka cabang perusahan di kota A?"
"Benar aku besok akan kesana untuk melihat proyek pertama kita"
"Apa ini karena Claries ada disana?"
"Apa maksud papa?"
"Aldi papa memang sudah tua, tapi papa juga pernah muda sepertimu. Baiklah tidak masalah jika kau tidak mau mengakui alasanmu"
"Mitha sudah bisa pulang pa, aku dan Adrian tidak bisa menjemputnya, tolong papa yang membawa Mitha pulang"
"Baiklah tapi seharusnya Mitha akan senang jika Adrian yang menjemputnya pulang" Bapak Zaman melihat Adrian yang berdiri diam seperti patung.
"Memang kenapa? bukankah Mitha akan lebih senang jika papa yang menjemputnya?"
"Apa menurutmu papa juga harus memberi Mitha asisten seperti Adrian?"
"Terserah papa saja"
"Bagaimana menurutmu Adrian? kau setuju?"
"Papa kenapa meminta persetujuan Adrian memang apa hubungannya dengan dia?"
Bapak Zaman hanya tertawa, ia mengendus sesuatu antara Mitha dengan Adrian.
"Sekali lagi papa katakan padamu Aldi, papa juga pernah muda seperti kalian. Bukan begitu Adrian?"
Bapak Zaman dan Aldi menatap Adrian penuh intimidasi. Adrian gelagapan bingung mau menjawab.
***
Claries beristirahat dirumah untuk memulihkan kakinya yang terkilir. Ia berjalan dengan menggunakan tongkat.
Bel pintu rumahnya berbunyi, Claries berjalan pelan dengan tongkatnya untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Bu dokter aku dengar anda sakit, bagaimana keadaanmu?" Dua orang warga datang menjenguk Claries. Mereka mmberikan buah-buahan hasil kebunnya untuk Claries.
"Ah aku tidak apa-apa sebentar lagi juga akan pulih" kata Claries sambil mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Kami harus ke ladang, ku harap kau lekas sembuh. Besok kami akan kemari untuk mampir"
"Terimakasih banyak" kata Claries sambil melihat buah-buahan yang di letakan di atas meja.
"Bu dokter ku dengar kau sakit?" nenek dan Jhony datang membawakan sayuran dan daging untuk Claries.
"Ini simpanlah di lemari pendingin, dagingnya bisa langsung di masak aku sudah membersihkannya dan memberinya bumbu"
"Terimakasih nenek, aku hanya terkilir sedikit"
"Di dekat sini ada yang bisa untuk menyembuhkan terkilir seperti mu nanti biar Jhony membawa orangnya kemari"
"Ah baiklah nenek terimakasih"
Nenek dan Jhony pulang dari rumah Claries. Tapi yang paling membuat Claries senang adalah Fani kakaknya datang menjenguknya.
Fani berjalan kaki menuju rumah Claries ia dan Liona memarkir mobil agak jauh dari rumah Claries dikarenakan habis hujan dan jalanan berlumpur sulit di lalui kendaraan"
"Clair...." sapa Fani. Claries langsung memeluk kakaknya dan menangis.
"Ada apa dengan kakimu?" tanya Fani yang melihat kaki adiknya di perban.
"Aku terkilir, jatuh dari sepeda" Fani menatap adiknya dengan iba. Ia memandangi wajah Claries yang membuatnya prihatin.
"Kembalilah ke kota, aku bisa mencarikan mu pekerjaan di rumah sakit yang lain"
"Tidak kak, aku senang disini semua orang baik dan perhatian padaku"
"Kakak kenapa rapi sekali?" Claries menatap penampilan kakaknya yang lengkap dengan jas dan dasi.
"Kau sudah tahu Aldi membuka lapangan pekerjaan disini?"
Mendengar nama itu disebut jantung Claries terasa berdesir. Lama sekali tidak ada yang menyebut nama itu di hadapannya.
"Aku sudah melihatnya di berita" kata Claries lirih.
"Apa kau ingin bertemu dengannya?"
"Tidak kak!"
"Clair kau tahu Aldi sudah lama berpisah dari Liza" Claries terkejut dan menatap Fani.
Jadi Aldi meninggalkan Liza? ia juga berpisah dariku. Ia tidak pernah mengatakan apapun padaku. Kenapa Aldi tidak memberiku penjelasan apapun?.
"Hari ini Aldi akan datang ke kota ini, akan ada peresmian proyek pembangunan perusahaan. Apa kakak perlu memberinya izin bertemu denganmu?"
Claries menggeleng cepat, ia belum siap bertemu Aldi kembali. Dan ia tidak mau bertemu Aldi.
"Baiklah jika kau tidak mau, tapi ku rasa alasannya membuka perusahaan disini adalah kau"
Claries menatap Fani. "Kau tahu Clair, ada banyak kota yang lebih berpeluang bagus untuk usahanya tapi ia memilih di kota kecil ini. Apa kau sadar kenapa Aldi melakukan itu? ia mempertaruhkan nama besarnya di hadapan semua pengusaha lain. Jika dia sampai gagal di proyek ini maka citranya sebagai pengusaha nomer satu akan habis!"
__ADS_1
Claries terdiam mencerna perkataan kakaknya. Ia tidak mau berandai-andai atau berbesar kepala dan menduga jika Aldi masih mencintainya.